
Melvin hanya bisa menggelengkan kepala atas kelakuan sang istri. Dia tak habis pikir lagi sudah membuatnya kalang kabut mencari dan sangat khawatir. Ternyata malah asik keliling kompleks sekitaran perusahaannya. Yang bikin lebih malu lagi sudah salah mengira orang lain. Tapi untungnya yang kecelakaan itu bukan istrinya. Dia sangat bersyukur akan hal itu.
Karena merasa lelah tubuhnya di dudukan pada kursi kebesarannya. Sembari bersandar pada kursi tersebut. File-file kerja yang sedang di bahas dengan sang kakak tadi dikerjakan kembali. Pena sudah bersiap di tangan untuk mencoret data yang salah.
Dinka gusar karena makanan yang di pesannya sudah tak ada satupun. Padahal dia sudah lapar. "Cepat kamu pesenin lagi makanannya dong, aku laper nih" gerutu Dinka.
Melvin yang baru istirahat sejenak kembali dibuat repot sang istri. "Sebentar ya sayang aku suruh sekretaris aku buat pesen makanan tadi" ucap Melvin lembut. "Jangan sekretaris kamu, aku maunya kamu yang pesenin. Kamu juga yang sudah mengembalikan makanan itu" sahut Dinka.
Melvin menghela nafasnya dengan dalam. Diletakkannya semua dokumen yang ada ditangan. Kedua tangannya memegang kepala. "Baiklah sayang, tunggu sebentar ya" ujar Melvin dengan suara yang lembut agar Dinka berhenti marah padanya.
Menangani wanita yang hamil memang gampang-gampang susah. Karena terkadang mood istrinya itu mudah sekali berubah-ubah. Alfan datang dengan setumpuk kertas di tangannya. Dan masuk keruang kerja sang adik. "Mau kemana?" tanya Alfan. "Ini mau ke kantin dulu" jawab Melvin.
"Ngapain? Bukannya mau meeting ya" Alfan melihat jam tangannya. Melvin hanya menunjuk Dinka dengan dagunya tanpa bicara. Sang kakak maksud dengan kode sang adik. Alfan hanya mengangguk. Dinka memang sedang kesal pada suaminya karena mengembalikan makanan yang telah di pesannya.
Alfan menunjuk keluar dengan jemarinya. Pertanda dia akan menunggu di ruang konferensi untuk rapat. Melvin menanggapi dengan mengangguk juga.
Setelah memesan makanan Melvin segera kembali ke ruang kerjanya. Tapi tidak mendapati sang istri berada disana. "Astaga istriku kemana lagi sih" gerutu Melvin berbicara sendiri. Dia berjalan masuk dan mendapati ada kertas yang tertulis bahwa Dinka sedang berada di atap perusahaan yang biasanya digunakan untuk Melvin menyendiri. Melvin mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
__ADS_1
Alfan yang telah menunggu lama menghampiri sang adik di ruang kerjanya. "Kamu kenapa lama banget yang lain udah pada siap nih" keluh Alfan. Melvin membawa dokumen yang diperlukan dan melangkah menuju ruang konferensi untuk meeting. Di ekori oleh Alfan.
Setelah beberapa hari menyelidiki Armand telah mengetahui alasan di balik masalah yang menimpa rumah tangga anak perempuannya. Dia benar-benar marah dan kecewa pada Melvin selaku menantunya yang tak bisa menjaga Dinka. Dan tidak bisa membuat Dinka bahagia. Kali ini dia turun tangan sendiri untuk menegur dan memberi pelajaran pada anak menantunya itu.
"Melvin benar-benar keterlaluan. Dulu sudah bermain api dengan Serin dan tidak lama ini juga masih berani bermain api dengannya lagi" Armand menggebrak meja kerjanya. Karena merasa tidak terima si sulung di perlakukan seperti itu, dia berinisiatif akan mendatangi Melvin.
"Cepat siapkan sopir untuk ku" Armand menghubungi sang sekretarisnya. Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
Sampailah dia di gedung perusahaan milik Melvin. Langkah Armand segera menuju ke ruang kerja milik menantunya. Namun di hadang oleh sekretaris Melvin. "Mana bos kamu?" tanya Armand dengan nada tinggi. "Sedang rapat pak, ada keperluan apa ya" Silma melihat Armand sampai ketakutan. "Cepat panggil dia bahwa saya ingin bertemu sekarang" perintah Armand tidak dapat ditolak oleh Silma. "Baik pak mohon tunggu sebentar" Silma segera pergi menuju ruang rapat. Dia paham dengan Armand karena sering datang ke kantor bosnya. "Astaga pak Armand terlihat sedang marah, ada apakah ini" gumam Silma sembari masuk kedalam ruang konferensi.
"Kamu keluarlah lebih dulu rapatnya akan segera selesai" perintah Alfan pada Silma. "Baik pak" Silma keluar dari ruang konferensi.
Melvin segera menemui mertuanya yang datang tiba-tiba. Dia mengira ada keperluan kerja namun perkiraannya salah besar. Armand yang melihat Melvin mendekat segera mendatangi Melvin kembali. Bukkkk sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Melvin.
"Kenapa om memukul ku" Melvin terkejut oleh bogeman Armand yang mendadak. "Kamu tidak pantas menikahi anakku" Armand berkata dengan suara yang keras. Melvin sama sekali tak tau menahu mengapa sang mertua mengatakan itu.
"Aku akan membawa Dinka, dan kamu segera ceraikan dia" bentak Armand dan kemudian berjalan pergi. "Maksud om apa ngomong kaya gitu?" Melvin menjadi bingung.
__ADS_1
"Kamu pikir sendiri apa yang telah kamu lakukan pada istri mu" ucap Armand sambil menunjuk pada Melvin. Langkahnya kembali berjalan, tanpa di kejar oleh Melvin.
Alfan melihat kejadian saat Melvin di pukul. Dia menghampiri sang adik. "Ada apa? kenapa om Armand begitu padamu?" tanya Alfan. "Aku juga gak tau kak. Dia bilang aku harus menceraikan Dinka" jawab Melvin. Alfan mengetahui maksud kata-kata dari Armand. "Biar kakak yang menjelaskan pada om Armand, dia sudah salah paham" Alfan menepuk bahu Melvin agar tenang. Alfan mengejar Armand untuk menjelaskan semua yang terjadi.
Melvin semakin pusing dengan apa yang terjadi hari ini. "Kenapa begitu banyak masalah di hari ini" Melvin menghela nafasnya. Dia pun menyusul sang istri yang kini sudah berada di pantry kantor.
Begitu melihat Dinka Melvin langsung memeluknya dengan erat. "Sayang kamu mau membunuhku" gerutu Dinka karena di peluk terlalu erat oleh suaminya. Melvin tidak menceritakan apa yang sudah terjadi tadi. "Anak pintar, sudah menghabiskan semua makanannya" Melvin mengusap lembut rambut Dinka.
"Makanan di kantin cukup enak, jadi ku habiskan semua" sahut Dinka sambil tersenyum. "Kenapa dengan wajah mu itu?" tanya Dinka yang melihat wajah murung Melvin dan luka lebam di ujung bibirnya. "Gak papa sayang, mungkin efek kelelahan" Melvin mencoba tersenyum. "Tapi ini bibir kamu kenapa kaya gini" Dinka terlihat khawatir. "Gak papa sayang" jawab Melvin dengan lembut.
Otaknya terngiang-ngiang ucapan dari mertuanya. Kenapa dia harus menceraikan sang istri dan apa alasannya. Itu yang ada di benak Melvin. "Sayang kenapa melamun?" Dinka memegang tangan Melvin. "Gak papa sayang, ayo kita kembali ke ruang kerja, aku masih banyak pekerjaan" Melvin membantu Dinka berdiri. Dan ikut memegangi pinggang Dinka.
"Berat ya disini?" tanya Melvin. "Iya kalau habis duduk harus di pegangin" Dinka pun memegang perutnya. "Biar aku obati ya luka di bibir mu itu" sambung Dinka. Melvin mengangguk sembari tersenyum.
Alfan kembali dengan tangan hampa. Dia tidak berhasil menyakinkan Armand tentang kondisi rumah tangga Melvin yang sebenarnya. "Bagaimana kak?" tanya Melvin penasaran. "Tidak bisa" Alfan geleng-geleng kepala.
"Ada apa?" tanya Dinka penasaran. Alfan akan menjelaskannya namun di cegah oleh sang adik. Karena Melvin tidak mau sang istri tau.
__ADS_1