
Dikeheningan malam hanya suara bunyi jam yang terdengar. Terlihat Melvin sangat tampan bila sedang fokus bekerja. Matanya menatap layar laptop. Pintu ruang kerja yang sedikit terbuka menjadi celah bagi Dinka untuk mengintip suaminya.
Dinka senyam-senyum sendiri sambil melihat sang suami. Bunyi ponsel Melvin terdengar dan dia mengangkatnya. Tapi suara dibalik telpon tidak terdengar. Dinka segera berlari kembali kekamar setelah melihat Melvin berjalan keluar pintu.
'Siapa yang menelponnya' batin Dinka. Terdengar suara mobil sport milik Melvin pergi meninggalkan bagasi. Dinka melongok dari jendela kamar. Hatinya menjadi gundah melihat kepergian sang suami dimalam hari.
Melvin memasuki sebuah apartemen mewah yang terletak di tengah kota. Tangannya mengetuk pintu.
"Melvin" ucap Serin yang lemah. Melvin masuk kedalam apartemen dan menuntun tubuh Serin. Mendudukannya kesofa ruang tamu. Melvin mengusap kening Serin. "Kamu demam kenapa tidak pergi kerumah sakit?" tanya Melvin. Suaranya selembut sutra bila melihat Serin sakit.
"Aku gak papa kok, hanya demam biasa" ucap Serin dengan memaksakan tersenyum. Wajah cantiknya terlihat pucat. Membuat Melvin tidak tega padanya.
"Mau aku antar kerumah sakit?" tanya Melvin. Serin menggelengkan kepala. "Aku hanya butuh kamu disisi ku vin" ungkap Serin.
"Apa ada obat penurun demam disini?" tanya Melvin. "Ada di laci kamar ku" jawab Serin. Melvin mengambil obat dan membantu Serin meminumnya.
"Kenapa malah ke apartemen seharusnya pulang kerumah kan disana banyak pelayan yang menjaga mu" ucap Melvin. Tangannya sembari memegang tangan Serin. Serin menggeleng kepala perlahan.
"Aku berantem sama adikku jadi untuk sementara aku tinggal disini vin" jelas Serin. "Tapi kalau disini tidak ada yang menjaga mu" timpal Melvin.
Serin mengelus punggung tangan Melvin. "Mau kah kau temani aku?" tanya Serin dengan nada yang memikat. Karena Melvin merasa tidak tega dia pun mengangguk.
__ADS_1
Dalam benak Serin sungguh senang. Akhirnya bisa kembali berduaan dengan Melvin. Walaupun sakitnya menjadi alasan agar dia bisa berduaan. Serin tau betul apa yang menjadi titik lemah Melvin dan Alfan. Yakni melihat orang yang disayangnya sakit dan butuh ditemani. Apapun permintaan dari orang yang disayanginya selalu dilakukan.
Melvin menggendong Serin ke kamar tidur dan merebahkan Serin ke ranjang yang empuk. Selimut diambil untuk menutupi setengah badan Serin.
"Tidurlah aku akan menjagamu sampai kau terlelap" ujar Melvin. Tangan Serin tidak mau lepas dari tangan Melvin. Dia menggenggam dengan erat seperti tidak mau kehilangan.
Lambat laun jarum jam menunjukan pukul tengah malam. Melvin yang ketiduran disofa kamar Serin pun bangun. Dia melihat arloji yang membulat manis ditangan.
Melvin mengecek suhu tubuh Serin yang sudah berangsur turun. Melvin beranjak keluar dari kamar apartemen menuju dapur. Namun suara rintihan Serin terdengar memanggilnya.
Melvin kembali kedalam kamar apartemen. Rupanya Serin mengigau memanggil namanya. Seulas senyuman tipis menghiasi bibir Melvin.
Dia membuat kopi agar matanya tetap terjaga sampai pagi. Setelah keadaan Serin mendingan mungkin dia bisa pulang kerumah.
Dinka masuk kedapur karena sangat lapar. Terlihat para pelayan sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Bi apa semalam Melvin tidak pulang?" tanya Dinka sembari mendudukan bokongnya di kursi dapur.
"Sepertinya tidak nona" jawab bi Nah. "Saya juga semalam tidak melihat tuan muda pulang nona" ucap pelayan yang lain.
Dinka mulai gelisah memikirkan suaminya. Semenjak menikah belum pernah Melvin tidak pulang kerumah. Selain perjalanan bisnis keluar kota. Itupun Melvin pasti pergi dengan Alfan atau setidaknya membawa pengawal. Bahkan semalam sampai tidak pulang.
"Apa Melvin pernah seperti ini sebelum menikah denganku bi?" tanya Dinka penasaran. "Paling sih kalau menunggu nyonya dirumah sakit non itupun gantian sama tuan besar" jawab bi Nah.
__ADS_1
Dinka mengambil cemilan didalam kulkas dan memakannya. "Apa non sudah lapar?" tanya pelayan lain. Dinka melamun sambil memakan cemilan.
Rasa mualnya mulai datang lagi. Dinka lari kedalam kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru saja dimakan.
Bi Nah menghampiri Dinka dan memijat tengkuk lehernya dengan pelan. "Apa masih mual non? Bibi buatkan teh manis ya".
Alfan sudah rapih dengan setelan jasnya. Langkah kakinya menuruni anak tangga sembari merapihkan dasi. "Loh kamu dari mana vin?" tanya Alfan. Melvin tetap berjalan melewati sang kaka tanpa menghiraukannya.
Bola mata Alfan mengikuti langkah Melvin sampai lantai atas. Lalu Alfan duduk di kursi ruang makan. Sudah ada beberapa hidangan tersaji.
Dinka juga ikut duduk dikursi ruang makan setelah tidak merasa mual. Dia meletakkan gelas berisi teh manis dimeja. "Apa kau merasa mual lagi?" tanya Alfan. "Kak Alfan tidak lihat aku sudah menghabiskan berapa gelas teh manis ini" jawab Dinka yang sama sekali bukan maksud dari pertanyaan Alfan.
"Baiklah kata orang wanita yang sedang hamil memang cenderung sensitif" sahut Alfan. Dinka mendengus kesal melihat Alfan. "Semoga kaka pengertian ya pada istrinya kelak" Dinka menepuk bahu Alfan.
Alfan tersenyum mendengar ucapan Dinka. Mungkin saja Dinka sedang dalam keadaan mood yang kurang baik. Dinka membuka pintu kamar terlihat Melvin sedang merapihkan jasnya.
"Bantu aku memasangkan dasi" ucap Melvin matanya sibuk menatap cermin. Dinka tidak menggubris ucapan suaminya. Langkahnya menuju kamar mandi karena rasa mualnya ingin diutamakan.
Dinka pun melanjutkan untuk mandi. Setelah selesai dengan ritual mandinya dia mencari pakaian diruang sebelah kamar. Melihat Melvin masih didalam kamar Dinka memutuskan memakai bajunya diruang sebelah kamar.
Melvin masih belum juga beranjak dari sofa. Matanya melihat Dinka kesana kemari sibuk dengan bersiap-siap diselingi dengan mualnya. Sambil berlarian kekamar mandi. Kegiatan baru untuk Dinka dipagi hari. Melvin akhirnya memakai dasinya sendiri.
__ADS_1
Dinka sudah selesai dengan mualnya dan turun menuju meja makan. "Adik ipar kenapa baru turun kami menunggu cukup lama" ungkap Alfan. "Kalian makanlah aku tidak berselera" ucap Dinka sambil meraih tangan sang suami untuk menyalami.