
Melvin mengambil sapu tangan yang berada di saku jas kakaknya. Dia mengelap bibirnya dengan kuat. Sampai bibirnya yang sudah merah menjadi bertambah merah. Ronald belum selesai dengan tertawanya. Baru kali ini dia melihat Alfan mencium Melvin. Itu sebuah adegan yang sangat menghibur untuknya.
"Berisik tau" gerutu Melvin. "Sory bro bukan bermaksud untuk menertawai mu. Tapi kali ini ulah Alfan bener-bener gokil" Ronald kembali tertawa. Melvin mengambil sebuah cemilan yang ada di atas meja dan memasukannya pada mulut Ronald. "Noh makan biar gak ketawa terus" Melvin memasukan cemilan itu sambil menutup mulut Ronald.
"Sialan" gerutu Ronald. Alfan mengigau didalam tidurnya. "Enzi jangan tinggalkan aku" ucap Alfan didalam tidurnya. Sebuah airmata menetes di ujung mata Alfan. Sang adik melihatnya. "Kak Alfan" Melvin menghapus airmata tersebut.
"Ronald aku butuh bantuanmu" kata Melvin. "Okeh bantuan apa?" tanya Ronald. Suasana seketika menjadi serius. "Aku mau kamu mencari tau lagi keberadaan Enzi di singapura" jawab Melvin. "Bukannya kamu waktu itu juga menyuruhku untuk menyelidiki tempat tinggal seorang wanita, apa wanita itu yang di cintai Alfan?" tanya Ronald lagi. "Iya aku menyuruhmu menyelidiki dimana Enzi tinggal" jawab Melvin dengan lugas.
Ronald mengerti masalah Alfan dan Melvin. "Aku akan coba pantau Enzi di singapura agar kalian tidak di curigai oleh ayah kalian" sahut Ronald. "Baiklah aku harap ini akan berhasil agar kakak tidak lagi bersedih" Melvin menatap sang kakak. "Huft kamu gak kasian padaku, padahal aku lebih menderita daripada Alfan" Ronald memasang wajah memelas. "Makanya kamu jangan main-main sama wanita itu" Melvin sengaja tidak menyebut nama Serin. Karena pantang baginya menyebut wanita rubah itu.
"Aku hanya coba-coba eh malahan jadi" keluh Ronald. Melvin tertawa kecil sambil menuangkan wine kedalam gelas Ronald. "Nih minum lagi, biar mabuk sekalian" Melvin mengarahkan gelas pada Ronald. Kemudian Ronald meneguk habis minumannya. "Pelan-pelan mas" ucap salah satu wanita penghibur. "Kalian pergilah. Kalian berdua sudah tidak di butuhkan lagi disini" Ronald mengusir kedua wanita penghibur tadi. Dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
Terdengar suara bunyi ponsel milik Alfan. Melvin mengambilnya disaku celana Alfan. Sebuah nama terpajang di layar ponsel milik Alfan. Itu membuat Melvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa istriku menelpon kak Alfan" Melvin berbicara sendiri. "Pantes ponselku saja gak kebawa" keluh Melvin sambil merogoh saku celananya.
__ADS_1
"Hallo" Melvin mengangkat teleponnya. Seketika suara menggelegar terdengar dari balik telepon. "Melvin cepat pulang" Dinka sengaja berteriak. Ronald sampai tersentak kaget dibuatnya. "Iya sayang aku akan segera pulang" Melvin dengan cepat memapah sang kakak untuk berdiri dan mematikan sambungan teleponnya. "Ronald kamu bisa jalan sendiri kan, aku pulang duluan sama kak Alfan, istriku sudah mencariku" ungkap Melvin sedikit ketakutan akan di marahi oleh Dinka.
"Iya kamu tenang aja, kalian pulanglah" Ronald mengibaskan tangannya mengusir kakak beradik itu. "Baik-baik ya jangan sampai terulang lagi bersama wanita lain" ledek Melvin. "Berisik pergi sana" ucap Ronald dengan suara keras. Melvin hanya tertawa kecil.
Karena kewalahan Melvin pun menyeret sang kakak sampai ke parkiran mobil. Keringat bercucuran di keningnya. "Sama saja olahraga malam kalau kaya gini" Melvin menghela nafasnya sambil mengelap keringat.
Sampai di rumah dia minta tolong pada pengawalnya untuk membawa Alfan masuk kedalam kamar. Melvin mengekori dari belakang. "Sudah kalian pergi sana" perintah Melvin. Dia membetulkan posisi tidur sang kakak. Sepatu dan kaos kaki Alfan di lepas oleh Melvin. "Serin kenapa ada kamu disini" Alfan mengigau. "Mengapa kakak mengira aku Serin, apa dia sedang bermimpi" gumam Melvin berbicara sendiri. Tidak lupa kemeja yang dipakai Alfan pun di buka kancingnya sedikit.
Spontan Alfan menarik tangan dan memeluk tubuh Melvin. Karena terkejut Melvin tidak bisa menghindar. "Kakak lepaskan aku" Melvin mencoba melepaskan dirinya. "Tunggu sesaat saja hanya lima menit sayang" gumam Alfan sedikit tidak jelas. Namun Melvin mengerti ucapan sang kakak. "Apa kakak sedang memimpikan Enzi, tadi Serin sekarang Enzi" ucap Melvin lirih bicara sendiri.
"Sayang kamu salah paham" Melvin mencoba melepaskan diri. Karena pelukan dari Alfan tidak erat Melvin jadi bisa lolos. "Sayang, tunggu aku bisa jelasin. Ini tidak seperti yang kamu kira" ucap Melvin sambil berlari mengejar ke dalam kamar.
"Sayang tadi itu hanya tidak kesengajaan. Kamu jangan salah paham dong" Melvin mencoba mejelaskan. "Apaan sih siapa yang salah paham. Jelas-jelas kamu sama kak Alfan sedang berpelukan sambil tidur. Apa coba maksudnya" Dinka berkacak pinggang sambil menatap tajam Melvin. "Kak Alfan mabuk dan dia mengira aku adalah Enzi, jadi dia memelukku. Kalau tidak secara tiba-tiba aku tidak akan mungkin mau dipeluk berulang kali" ungkap Melvin.
__ADS_1
Dinka menatap tajam dan serius sang suami. "Apa? Berulang kali? Aku itu habis melahirkan kamu sabar dikit dong nunggu aku sampai bisa di sentuh lagi bukannya malah melakukannya dengan kak Alfan" ucap Dinka dengan suara keras. "Sayang kamu jangan salah paham semua ini tidak benar" Melvin meraih tangan Dinka.
"Lepas" Dinka menghempaskan tangannya. "Aku mau tidur" lanjutnya sembari berjalan ke tempat tidur. "Sayang" Melvin ikut duduk di tempat tidurnya. "Diam anak kita sudah tidur, kamu cepat tidur" Dinka membaringkan tubuhnya. Melvin tidak berkata apa-apa lagi. Dia pun ikut memejamkan matanya.
Dipagi hari menjelang subuh Melvin dikejutkan dengan suara tangisan dari buah hatinya. Matanya terbuka dan melihat ke arah Dinka tidur, tapi sang istri tak ada. "Sayang bayinya nangis" Melvin mencari keberadaan Dinka. "Sayang" panggil Melvin sambil menggendong si kecil.
"Tunggu sebentar aku lagi di kamar mandi" Dinka sedikit berteriak. "Sabar ya sayang bunda lagi dikamar mandi" Melvin mencoba menghibur anak bayinya. Dinka datang dan mengambil sikecil dari gendongan Melvin. "Nenangin anak aja gak bisa" gerutu Dinka sembari memanyunkan bibirnya. "Belum terbiasa sayang, lama kelamaan juga biasa kok" Melvin berkata dengan senyuman jahilnya.
Waktu telah menunjukan pagi hari. Matahari mulai meninggi di peraduannya. "Dinka dimana" Melvin menengok kearah Dinka dan anaknya. Dengan lebar mulutnya menguap sambil mengulat. Melvin beranjak ke kamar mandi.
Selesai dengan ritualnya di kamar mandi dia bersiap-siap. Diambilnya dasi yang akan dipakai. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. "Sayang bantuin aku memakai dasi dong" Melvin menghampiri Dinka yang sedang menggendong anaknya.
"Sini biar bunda saja yang memakaikan" Sarah menawarkan dirinya. Arya juga membawa dasinya dan ingin menyuruh sang istri. "Bun punya ayah duluan" Arya menyalip anak kandungnya. "Ayah bisa memakainya sendirikan" gerutu Melvin.
__ADS_1
"Kamu juga bisa memakainya sendiri kenapa minta tolong" sahut Arya sambil menatap Melvin. "Sudah-sudah" ucap Sarah mengambil dasi milik anak laki-lakinya. Melvin memainkan kedua alisnya untuk meledek sang ayah. Dinka hanya senyam-senyum melihat kelakuan suami dan mertuanya.