
Dinka dan Reta tidak menghadiri kuliahnya. Dinka sedang berada di sebuah butik mencari gaun untuk foto prewednya dan sekaligus fitting gaun pengantin. Melvin menunggu cukup lama. Dia terdiam duduk di sofa panjang yang mewah. Melvin sangat terlihat tampan dengan memakai setelan jas tuxendo berwarna putih. Dipaduka dengan pita berwarna hitam dikerahnya. Warna celananya juga senada dengan jas.
Reta memilih baju yang akan digunakan Dinka untuk melakukan prewednya. Pertama Dinka akan mencoba gaun untuk hari pernikahannya. Sebuah gaun pengantin yang sederhana namun terlihat elegant. Terdapat sebuah pita besar dibelakang gaun tersebut. Warnanya putih sedikit mendekati warna pastel. Dibagian punggungnya tipis yang menampakan indahnya punggung bagi wanita yang memakai.
Tirai dibuka menampakkan kecantikan sang mempelai wanita. Melvin menatap Dinka. Tapi raut wajahnya tidak berubah. Sampai Dinka tidak bisa mengerti apakah gaun itu pantas untuknya atau tidak.
Reta mengacungkan kedua jempolnya pada Dinka. Reta merupakan penilai yang baik untuknya. "Cantik kan kak" goda Reta. Melvin hanya berdehem.
Dinka berganti gaun dengan yang sedikit lebih terbuka di bagian dadanya. Sehingga belahan dadanya sedikit terekspos. Kini gaun yang dipakai berwarna merah muda yang kalem. Sangat pas untuknya.
Walaupun tubuh Dinka termasuk mungil namun bagian dadanya termasuk besar untuk seukuran tubuhnya. Melvin berjalan terlebih dahulu. Diikuti Dinka dengan keribetannya karena gaun itu memanjang ke belakang.
Dia berjalan perlahan karena heels yang dipakai cukup tinggi. Mereka akan pergi studio foto. Karena persiapan pernikahan yang dadakan jadi mereka tidak bisa melakukan foto prewed dibanyak tempat. Kali ini Reta tidak mengantarkan mereka pergi.
Melvin membuka pintu mobil untuk Dinka. Dinka turun dengan memakai heels nya kembali. Melvin melihat Dinka yang kewalahan dengan gaunnya. Dia mendengus. Ikut membantu Dinka memegangi gaun belakangnya.
Di dalam studio foto sang photografer mulai membidik kameranya.
Tubuh Melvin yang sudah seperti model membuat sang photografer terpukau. Muka Dinka sangat canggung. Dikamera wajahnya terlihat sangat kaku.
Beberapa kali sang photografer memberitahu Dinka agar rilex. Namun raut wajah Dinka selalu terlihat tegang. Sampai Melvin mengajak untuk rehat sebentar.
__ADS_1
Melvin menatap dengan wajah dinginnya. Dinka yang di tatap seperti itu menundukan kepalanya. "Fokus" ucap Melvin. Dinka mengangguk.
"Ayo kita mulai lagi" ucap sang photografer. Kali ini adegan fotonya sedikit lebih dekat. Melvin diarahkan untuk memeluk Dinka. Dia mengerti setiap arahan dari photografer.
Melvin memeluk Dinka dengan tersenyum ceria. Terlihat di kamera wajahnya yang tampan begitu bahagia. Seolah dia sangat menyayangi istrinya itu. Namun itu hanya didalam sebuah foto.
Kali ini Melvin diarahkan seperti sedang berbisik dan Dinka harus mengumbar senyumnya. Dia memperlihatkan barisan giginya yang putih. Namun tetap terlihat kaku dikamera.
Sang photografer memutar otaknya. Dia mengganti pose agar Melvin terlihat jantan. Dibukanya beberapa kancing kemeja milik Melvin. Pita dikerahnya juga dilepas.
Dada bidang milik Melvin terpampang jelas. Dinka menelan ludahnya. Kali ini Melvin di foto sendirian terlebih dulu. Dinka disuruh mendekat. Dia diarahkan untuk memegang dada bidang milik Melvin. Kakinya harus sedikit diangkat. Wajah mereka berhadapan.
Dinka menangkap tatapan Melvin yang sedikit canggung. Tanganya bergerak cepat menutupi bagian dada yang terpampang. Kini gantian dirinya yang difoto sendiri.
Melvin membetulkan kancing jasnya yang terbuka. Dia mengambil botol minuman yang disediakan untuk minum. Dia masih terbayang anggota tubuh milik Dinka. Melvin dengan cepat meminum air dibotol sampai habis.
Setelah selesai dengan foto prewed. Melvin melajukan mobilnya untuk kekantor. Dinka yang sedang berganti baju kaget melihat Melvin tidak ada. "Lah terus aku pulangnya gimana nih" gerutunya berbicara sendiri.
Dinka memanyunkan bibirnya dengan menghentakkan kaki kelantai cukup keras. Dia geram ditinggal oleh Melvin yang tidak bertanggungjawab untuk mengantarkannya kembali.
"Mana dompet aku gak dibawa lagi" Dinka keluar dan berjalan di tepian. Mobil mewah mendekatinya. Memberi suara klakson padanya.
__ADS_1
Dinka berhenti berjalan menatap pada mobil itu. Kaca mobil diturunkan. Alfan tersenyum manis pada Dinka. Jadi Alfan yang menjemputnya. Alfan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Dinka.
Dinka tersenyum dan masuk kedalam mobil. "Terimakasih" ucap Dinka. "Maaf nona saya sedikit telat" Alfan masih sangat sopan memperlakukan Dinka. Berbeda dengan Melvin yang sangat menyebalkan baginya.
Kenapa tidak Alfan saja yang menikahinya. Kenapa si raja es itu yang harus jadi suaminya.
+++
Reta berguling-guling diranjangnya. Menahan sakit perutnya. Dinka masuk kedalam kamar. Membawa makanan kesukaan Reta. Dia mendapati Reta sedang kesakitan. "Ta kamu kenapa?" Dinka panik melihat temannya.
"Ambilin obat dilaci dong" ucap Reta dengan suara yang parau. Dinka membantu Reta untuk meminum obatnya. "Asam lambung kamu kenapa bisa kumat lagi?"
Reta tidak menjawab. Dia memejamkan matanya. "Ya sudah kamu tidur ya" Dinka mengelus bahu Reta.
Dinka membersihkan badannya dan sisa make up diwajahnya. Dia menatap kecermin yang ada dikamar mandi. Terpintas bayangan dada bidang milik calon suaminya. Dinka menggelengkan kepalanya dengan cepat. Agar tidak memikirkan yang aneh-aneh. Pipinya langsung bersemu merah.
Dinka memegang pipinya dengan kedua tangan. Dia membasuh mukanya dengan air keran. "Apa sih yang aku pikirkan, please hilang pikiran nakal ku cepat pergi cepat pergi" ucap Dinka pada dirinya sendiri.
Selesai mandi Dinka mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Dinka tersenyum melihat Reta tertidur sampai melongo. Nyenyak sekali dia pikirnya.
Dinka naik keranjangnya dan tertidur.
__ADS_1