
Melvin masuk kedalam kamarnya tapi Serin menahan pintu kamar agar tidak tertutup. "Boleh aku masuk" Serin tetap masuk tanpa dipersilahkan oleh Melvin.
Melvin melangkahkan kakinya ke sebelah kamar. Membuka pintu kaca ke kolam renang. Dia duduk disebuah kursi di pinggiran kolam.
Serin mengikuti Melvin ikut duduk di kursi juga. Dia sangat penasaran dengan suatu hal. "Apa kamu sangat mencintai istrimu?" tanya Serin. Melvin menatapnya dengan wajah dinginnya. "Tidak" jawab Melvin.
Serin langsung merasa girang didalam hati. Namun tidak diperlihatkan diwajah cantiknya. "Aku hanya penasaran jadi aku bertanya" pungkas Serin sambil tersenyum puas.
Melvin menyenderkan tubuhnya ke kursi panjang dikolam renang. Dia menutup matanya sambil menghirup udara yang segar.
"Melvin" panggil Serin. Dia mulai mendekati Melvin yang sedang bersandar. Mendekatkan bibirnya ke bibir Melvin.
Melvin langsung kembali mendudukan dirinya. Serin tetap tidak menyerah dengan usahanya.
"Apakah kamu masih menyayangiku?" tanya Serin. Matanya mulai berkaca-kaca. Melvin menatap dalam wanita dihadapannya. Kesempatan untuk Serin mencium bibir Melvin. Serin langsung menempelkan bibirnya pada bibir Melvin. Melvin membiarkan Serin menciumnya.
Dinka masuk kedalam kamar hotel. Tangannya masih memegangi perut. Dinka terbelalak melihat pemandangan didepannya. Melihat sang suami berciuman dengan wanita lain.
Dia masuk kedalam kamar mandi dan menangis didalam. Sebenarnya kamar mandi itu kedap suara. Namun Dinka tetap menahan mulutnya dengan tangan. Supaya suara tangisannya tidak terdengar Melvin dan Serin.
Dinka melihat kedepan cermin. 'Kenapa aku menangis? Apa yang salah dengan mereka? Bukankah Melvin menikahi ku karena permintaan orangtuanya. Kenapa kau harus menangis bodoh' batin Dinka.
Dinka membasuh mukanya dengan air. Matanya sedikit merah. 'Aku gak boleh nangis. Aku gak boleh jatuh cinta sama Melvin. Tapi rasa ini begitu menyakitkan' batinnya.
Airmata Dinka kembali menetes. Dia merendam tubuhnya kedalam bathup yang berisi air dingin. Memejamkan mata dan masuk kedalam air. Dinka mengambil oksigen sedalam-dalamnya dan membuangnya. Itu dia lakukan agar tubuhnya lebih rileks sedikit.
__ADS_1
Melvin melepaskan ciuman Serin. "Aku mencintaimu vin" ungkap Serin matanya masih menggenang air mata.
"Aku sudah menikah" jawab Melvin. "Kita bisa mulai secara diam-diam kan" sahut Serin. Melvin masih bimbang dengan hatinya. Apakah mencintai Serin atau hatinya sudah berpindah pada Dinka.
Tangan Melvin bertumpu pada lutut. Kedua tangannya mengusap wajah. Bila menjalin hubungan dengan Serin akan ada konsekuensi yang harus dilaluinya. Sedangkan hatinya masih ragu pada Dinka.
"Baiklah kita jalani secara diam-diam" sahut Melvin sambil menatap Serin. Serin langsung memeluk tubuh sixpack Melvin. Dia sangat senang dengan jawaban yang diberikan Melvin.
+++
Reta dan Bobby dikerjai oleh senior mereka. Karena Dinka tidak datang untuk ikut membantu. Padahal Reta sudah menjelaskan pada Fahmi atas ketidakhadiran Dinka.
"Gue capek bob" keluh Reta. "Sama, nih lihat keringat gue udah bercucuran di wajah ganteng gue kan" sahut Bobby.
Mereka berdua kabur diam-diam disaat keadaan coffeshop sedang ramai. Jadi tidak terlalu mencolok. Reta dan Bobby lari sekencang mungkin dari tempat itu. Sekiranya sudah jauh mereka berhenti.
"Tunggu biarin gue bernafas dulu" ucap Bobby sambil menahan tangan Reta agar tidak pergi. Reta menyilangkan kedua tangannya.
Mereka memasuki cafe memesan makanan dan minuman. Sinta dan anteknya juga berada disana. Reta beranjak dari kursi untuk pergi ke toilet.
Sinta memanfaatkan situasi itu. Dia menghampiri meja Bobby. "Hai ganteng boleh duduk disini gak?" tanya Sinta. Bobby mendongak melihat wanita di depannya. "Ada orangnya" jawab Bobby.
"Boleh tau siapa nama loe?" Sinta bertanya sambil mengangkat tangan kanannya. Bobby tersenyum namun tidak menjabat balik tangan Sinta. "Bobby" ucapnya.
Sinta langsung dibuat malu olehnya. "Baiklah gue Sinta dari fakultas ekonomi" jelas Sinta. Bobby manggut-manggut dan meletakkan kepalanya diatas meja.
__ADS_1
Sinta kembali ke mejanya dengan muka masam. Reta melihat Sinta mendekati Bobby duluan. Bibirnya tersenyum tipis.
Reta menggebrak meja cukup keras. Berhasil membuat Bobby terperanjat. "Sialan loe" ujar Bobby. Reta langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kaget dari muka Bobby. "Hahahahahah"
"Berhenti ketawa gak" tunjuk jemari Bobby. Reta masih terus tertawa sampai sudut matanya keluar air. Dia memegang perutnya karena sakit akibat tertawa. "Astaga lihat muka loe lucu banget" ungkap Reta.
Bobby cemberut melihat Reta yang belum berhenti menertawakannya. Pesanan sudah datang Reta langsung meminum es capucinno nya. "Ka pesen satu lagi" ucap Reta di selah tertawanya.
"Muka loe bob lucu banget" imbuh Reta. Bobby memakan hidangan yang dipesan. Dia tidak mau merespon Reta yang terus tertawa.
Setelah makan di cafe Bobby mengantarkan Reta ke asrama pastinya dengan mobil sportnya. Mobil berparkir didepan gerbang asrama. "Eh besok-besok kalo mau anter gue jangan pake mobil yang bising ini" suruh Reta.
"Kenapa? Bunyinya merdu kok" sahut Bobby. Reta menonyor kepala Bobby. "Merdu di kuping loe, bising di kuping gue" ujar Reta. Mereka masih didalam mobil.
"Yasudah besok gak bakal gue anter" Bobby menatap Reta. "Loe mau gue tonjok" Reta mengepalkan tangannya dihadapan wajah Bobby.
"Hehe engga-enggak" tangan Bobby memohon. "Bagus juga sih ada loe disaat Dinka gak berangkat kuliah jadi gue masih ada temennya" pungkas Reta.
Bobby penasaran dengan sesuatu. Duduknya bergeser menghadap badan Reta. Namun tangannya masih memegang setir mobil. "Eh emang beneran Dinka udah nikah?" tanya Bobby.
"Gue harus bilang berapa kali sama loe. Dia itu kaka ipar gue" gerutu Reta. "Berarti Dinka nikah sama kaka loe?" tanya Bobby lagi.
Reta mengangguk seraya berkata "dia nikah sama kaka gue karena permintaan bokap. Sebenarnya Dinka dan kak Melvin gak mau tapi karena permintaan bokap kakak gue setuju".
"Eh kenapa jadi gue jelasin ini ke loe sih" sambung Reta. Bobby meringis. "Sudah gak ada kesempatan buat gue lagi dong, tapi muka Dinka kelihatan lebih muda dari loe" ujar Bobby.
__ADS_1
Reta melotot dan mengepalkan tangannya didepan wajah Bobby. "Loe emang mau gue hajar ya".