Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
111. Kenekatan Alfan


__ADS_3

Dengan mantap Enzi melangkah masuk kedalam ruang kerja bosnya. Dia meminta izin pulang cepat kepada Melvin. Melihat wajah Enzi yang tidak baik Melvin pun mengijinkan Enzi pulang tanpa bertanya apapun.


Kini Silma yang dibuat bingung dengan situasinya. Silma ingin mencari tahu pada pak bosnya tapi ragu. Tangannya mengambil berkas yang harus di tanda tangani Melvin. Silma mengetuk pintu ruang kerja Melvin. "Masuk" ucap Melvin. Dilihatnya wajah tampan sang bos yang tidak ada rasa bosan baginya.


Melvin sengaja mengendurkan dasinya dan membuka tiga kancing dari atas. Dada bidang Melvin juga terlihat sedikit. Bibir Melvin menggigit pena dan tangannya pun memegangi dokumen. Tatapan matanya fokus pada dokumen yang dipegang. Pemandangan itu membuat Silma melongo dan lupa dengan tujuan awalnya.


"Hei kamu lihatin apa sih" ucapan dari Melvin membuat lamunan Silma buyar. "Eh..tidak pak" ucap Silma cengengesan. Silma meletakan dokumen di meja bosnya. "Ini ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh anda pak" ucap Silma dengan lembut.


Melvin meraih dokumen diatas meja dan membukanya. "Sudah kamu cek satu persatu" ucap Melvin sambil fokus pada kertas yang dipegang. Dibukanya dokumen dan menandatanganinya.


"Pak bos apa yang terjadi dengan Enzi?" tanya Silma dengan pelan. Melvin menatap jengah sekretarisnya. "Bukannya kamu ngajak bicara Enzi tadi? Saya mana tau dia kenapa" jawab Melvin. "Maaf pak" ucap Silma dengan menampilkan senyuman manisnya.


Melvin menyodorkan dokumen yang sudah ditanda tanganinya. Tapi Silma masih betah berdiri didepannya. "Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Melvin lagi. Silma menikmati pemandangan yang jarang dilihatnya. Melvin memang jarang sekali mengendurkan dasinya dan membuka kancing kemejanya.


Melihat tatapan mata Silma tertuju pada dada bidangnya membuat Melvin risih. "Cepat kamu keluar" usir Melvin. "Baik pak" ucap Silma dengan tersenyum.

__ADS_1


Enzi kembali ke kontrakannya. Matanya melihat ada seorang pria yang sedang berdiri didepan kontrakannya. Enzi berjalan mendekat sembari melihat si pria. Ternyata yang datang ialah Alfan. Enzi menghela nafasnya.


"Enzi aku nungguin kamu dari tadi" ucap Alfan. "Pak Alfan tau darimana aku pulang cepat?" tanya Enzi. "Tadi Melvin menghubungiku dan bilang kalau keadaan mu lagi kurang baik. Jadi aku datang kesini" jawab Alfan.


Enzi membuka kunci pintu kontrakannya. Tanpa menyuruh Alfan masuk. Alfan masuk sendiri kedalam. "Apa kedatanganku mengganggu mu?" tanya Alfan dengan hati-hati.


Enzi mengambil air minum. "Pak Alfan sebaiknya pulang saja" ucap Enzi. Dia memang sengaja mengusir Alfan dengan halus. "Tapi aku datang kesini dengan susah payah lho. Kabur dari beberapa bodyguard yang disuruh ayah berjaga dirumah" jelas Alfan.


Enzi terduduk dan kembali menangis karena teringat ucapan dan ancaman dari Arya. Alfan mendudukan dirinya di samping Enzi. "Ada apa?" tanya Alfan. "Lebih baik pak Alfan pergi dari sini aku mau melupakan semua yang terjadi antara kita" ucapan dari Enzi membuat Alfan terkejut. Kenapa juga Enzi berbicara seperti itu padanya. Padahal dia tidak tau apa yang salah pada dirinya. Itu semua yang dipikirkan Alfan.


"Apa yang salah?" tanya Alfan sambil memegang bahu Enzi. Enzi menggeleng sambil menangis. "Aku mau sekarang kamu pergi!" bentak Enzi. Alfan bersikeras ingin tau apa yang terjadi pada Enzi. Dia memaksa Enzi berbicara semua yang terjadi.


"Enzi jawab aku mohon" ucap Alfan menatap dalam mata Enzi. Melihat airmata Enzi keluar membuatnya tidak tega. Alfan memeluk Enzi dengan erat. Setelah dirasa tenang Alfan kembali membuka percakapan. "Ayah bicara apa saja sama kamu?" tanya Alfan. "Kamu tau dari mana ayah kamu mendatangiku?" tanya Enzi balik.


"Melvin bilang padaku bahwa ayah datang ke kantor dan dia juga melihat mu menangis keluar dari ruangannya" jawab Alfan. Enzi terdiam kembali. Dia tidak mungkin memberitahukan apa yang sudah dikatakan Arya padanya.

__ADS_1


"Sekarang tatap mata aku" ucap Alfan sembari memandang Enzi. Enzi menurut dan menatap mata Alfan. "Apa ayah mengancam mu?" tanya Alfan dan Enzi mengangguk. Dengan cepat Enzi menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus ceritakan semuanya sama aku apa yang sudah ayah katakan padamu. Kita akan perjuangkan hubungan ini walaupun ayahku menentangnya" ucap Alfan berusaha meyakinkan Enzi. Dengan ragu Enzi bercerita semuanya. Waktu tak terasa sudah menunjukan pukul tujuh malam. Enzi larut dalam ceritanya pada Alfan.


Pikiran nekad Alfan pun merasukinya. Alfan kembali menyentuh Enzi. Direbahkannya tubuh Enzi perlahan ke atas tempat tidur. Bibirnya mencium bibir Enzi dengan lembut. Mereka melakukannya cukup lama. Alfan sengaja mengeluarkan cairan miliknya didalam intim tubuh Enzi. Dia melakukannya agar Enzi hamil. Dengan cara itu otomatis mau tidak mau sang ayah akan menyetujui.


Alfan sudah merasa takut jikalau sang ayah memisahkannya dengan wanita yang dicintainya. Dulu pada Serin dia menyerah karena Melvin juga mencintainya. Dan jatuh hati dengan sifat Dinka namun Dinka merupakan istri Melvin. Jadi di pendamnya rasa itu.


Dan kini dirinya sudah bisa kembali jatuh cinta pada wanita namun sang ayah tidak setuju. Itu membuatnya frustasi. Apalagi sang ayah sudah mengancam wanita yang dicintainya. Menurutnya itu sudah keterlaluan. "Pak Alfan aku takut" ucap Enzi.


Alfan menyentuh bibir Enzi untuk diam. "Jangan manggil pak dong, ini kan bukan dikantor" ucap Alfan. Mereka masih berbaring dengan satu selimut.


"Aku lakukan semua ini supaya ayah tidak mencoba memisahkan kita" lanjut Alfan. Enzi pun mengangguk dan tersenyum.


Arya kembali murka kepada para bodyguardnya yang tidak bisa mencegah Alfan. "Kalian ini menjaga satu orang saja tidak becus" teriaknya. Sarah hanya geleng-geleng melihat kelakuan suaminya. Mungkin bila keadaannya sedang tidak baik pasti akan kembali pingsan.

__ADS_1


Melvin pulang dari kantor. Dia melihat Sarah dan berjalan mendekat pada sang ibunda. "Bun kenapa sama ayah?" tanya Melvin. "Kakak mu berhasil kabur dari rumah, jadi ayahmu marah-marah" jawab Sarah.


Dinka juga menghampiri suami dan mertunya. Tangannya memegang buah pear. Melihat sang istri mendekat Melvin meraih tangan Dinka dan menggigit buah yang dipegangnya.


__ADS_2