Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
79. Cemburu yang tidak bisa di elakkan


__ADS_3

Masih berada dirumah sakit. Melvin terbangun dan mengucek matanya. Tangannya masih digenggam oleh Serin. Matanya melihat ke arloji yang dipakai. Waktu sudah menunjukan pukul tengah malam. Melvin beranjak dari kursi dan berjalan keluar ruangan.


Ponsel yang berada di sakunya diambil untuk menghubungi sang istri. Namun dipikirnya kembali mungkin Dinka sudah tertidur. Melvin berjalan menuju ke tempat perawat yang berjaga. Meminta perawat untuk menelponnya bila ada sesuatu dengan Serin.


Setelah mencuci wajah di toilet rumah sakit Melvin menuju parkiran untuk mengambil mobil. Di lajukannya mobil dengan kecepatan sedang. Karena tengah malam jalanan kota cukup lengang.


Sesampainya di depan rumah Melvin sengaja mematikan mobilnya sedikit jauh dari halaman rumah. Seorang penjaga keamanan melihat Melvin pulang dan menghampirinya. "Lho tuan kenapa parkir disini?" tanya si penjaga. "Gak papa" jawab Melvin tegas. Si penjaga pun menunduk dan mengikuti langkah kaki Melvin masuk kerumah.


"Kamu kenapa ngikutin saya" ujar Melvin ketus. "Anu tuan saya hanya... " ucap si penjaga tanpa melanjutkan perkataannya sambil menunduk.


"Kalau ada yang tanya jangan bilang saya pulang tengah malam ya terutama istri saya" perintah Melvin. Si penjaga keamanan yang sedang menunduk pun hanya mengangguk dengan cepat.


Melvin membuka pintu dengan perlahan dan masuk kedalam kamar. Lampu utama masih menyala. Dirinya melihat sang istri tidur sambil duduk berbantalkan tangan dimeja.


Melvin menggendong tubuh istrinya dan merebahkannya ke atas ranjang yang empuk. Tangannya memindahkan rambut yang menutupi wajah Dinka. Di kecupnya kening sang istri. "Maaf sayang sementara ini aku tidak bisa memberitahu mu tentang apa yang di alami Serin" ucap Melvin lirih.


Badannya di baringkan di samping sang istri. Tangannya mengelus lembut perut Dinka yang sedikit membuncit. Disanalah sedang bersemayam buah hatinya.


Terdengar suara dengkuran yang halus dari Dinka. Pertanda tidurnya sudah begitu nyenyak. Seutas senyuman muncul di bibir Melvin mendengar dengkuran Dinka. Dengkuran yang jarang di dengar olehnya cukup lama.

__ADS_1


"Kau pun sampai mendengkur ya" ucap Melvin lirih. Tangannya kini beralih ke pipi sang istri. Sebelum tidur Melvin memandangi wajah istrinya. Sedikit rasa bersalah menghantui dirinya karena sudah merahasiakan Serin darinya.


Perlahan Melvin terlelap dan memasuki alam bawah sadarnya. Di sana dia bermimpi bahwa Dinka terlihat bahagia dengan seorang pria yang tidak di kenalnya. Melihat ada seorang anak laki-laki yang di gendong oleh Dinka. Anak laki-laki itu juga tersenyum bahagia. Di mimpi itu Dinka melambaikan tangannya kearah Melvin dan mengucapkan kata selamat tinggal.


Melvin mencoba meraih tangan Dinka dan anak laki-laki itu. Tapi tidak terjangkau. Wajah anak laki-laki itu terlihat samar. Sama sekali tidak jelas.


Melvin menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri. Namun matanya masih terpejam. Keringat membasahi pelipis dan keningnya. Melvin terbangun dari tidurnya dengan nafas yang cepat. Tangannya meraih gelas berisi air putih di atas nakas. Diminumnya dengan cepat air itu.


Melvin melihat kesampingnya. Dinka masih tertidur dengan nyenyak namun posisinya membelakanginya. Ditariknya selimut yang berada di bawah kakinya dan menyelimuti dirinya dan sang istri. Tangan Melvin memeluk Dinka dari belakang.


Karena mimpi itu Melvin jadi tidak bisa tidur nyenyak kembali. Sampai pagi pun datang. Dinka menguap dengan lebarnya. Tangannya digerakkan untuk meregangkan otot. Terlihat Melvin sedang terduduk sambil menyender ke kepala ranjang.


"Ada apa?" tanya Dinka yang sudah merasa aneh dengan suaminya. "Gak ada apa-apa, hanya bermimpi buruk saja jadi gak bisa tidur" ungkap Melvin. Dinka tersenyum melihat suaminya.


"Mimpi apa? Apa mimpi aku pergi" jawab Dinka meledek. Tangan Melvin meraih tubuh Dinka dan memeluknya. "Kalau kamu pergi gak akan pernah aku bolehin" jelas Melvin.


"Apaan coba pagi-pagi sudah main peluk segala" goda Dinka sembari mencoba melepaskan pelukan suaminya. "Kamu kan istri ku boleh dong mau peluk kapan aja terserah aku" ucap Melvin.


"Semalem kemana?" pertanyaan dari Dinka seketika membuat Melvin terdiam. Untuk mendengar jawaban dari suaminya Dinka melepaskan pelukan Melvin. Matanya menatap Melvin yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Feeling wanita memang kuat. Itu tidak bisa dipungkiri lagi.

__ADS_1


Melvin memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang istri. "Itu sayang...anu si Silma sekretaris aku minta tolong" jawab Melvin sambil tersenyum.


"Sekretaris?" tanya Dinka sambil mengangkat kedua alisnya. "Iya..itu sekretaris aku..dia minta tolong karena...sesuatu terjadi padanya semalam" jawab Melvin dengan terbata-bata.


Dinka mengangguk paham. "Kenapa minta tolongnya ke kamu?" tanya Dinka lagi. "Iya dia..itu sayang" ucap Melvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untuk mencari alasan lagi. Baru pertama kali ini dia merasa menjadi bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari sang istri.


"Kenapa?" tanya Dinka dengan cepat. "Iya dia hanya..hanya itu..apa itu hanya tau..emm..." ucapan dari Melvin langsung terpotong oleh Dinka.


"Apa vin? Gak jelas banget sih!" ucap Dinka sedikit meninggikan nadanya. Melvin sibuk garuk-garuk kepala untuk mencari alasan agar Dinka percaya dan tidak menaruh kecurigaan padanya.


"Itu karena sekretaris aku cuma hapal nomer ku sayang" jawab Melvin. Dinka memanyunkan bibirnya sedikit rasa cemburu menjalar hatinya. Kenapa juga sekretaris suaminya meminta tolong malam hari itu yang dipikirkan oleh dirinya.


Melihat sang istri terdiam Melvin tersenyum geli. "Kamu cemburu ya" Melvin melihat wajah sang istri dengan seksama. "Engga kenapa juga harus cemburu sama sekretaris mu. Kalau kamu sama Serin mungkin aku cemburu" ungkap Dinka.


Melvin memeluk tubuh istrinya namun Dinka langsung menghindar. "Aku mau mandi" ucap Dinka sambil berjalan kearah kamar mandi. Melvin mengikuti sang istri dari belakang. Mereka berdua pun mandi bersama.


Alfan sudah rapih dengan jas berwarna merah maroon. Melvin pun turun sambil merapihkan kancing baju ditangannya. Kebetulan sang adik pun juga memakai jas dengan warna yang sama. "Lah tumben kompak" ledek bi Nah yang sedang menata meja makan.


Melvin seketika berjalan kembali menuju kamarnya untuk berganti setelan jasnya. Belum sampai di dalam kamar Dinka menarik tangan Melvin untuk mengajak sarapan.

__ADS_1


__ADS_2