
Bobby mencari dimana keberadaan Reta yang menghilang dari pandangannya. "Dimana sih Reta" ucap Bobby pada sendiri. Bobby pun keluar dari restoran.
Mendengar ada suara wanita yang bertengkar Bobby segera mencari sumber suara. Matanya tercengang melihat Reta yang sedang bertengkar dengan Serin. Ternyata Serin datang ke acara makan malam itu padahal dirinya tidak diundang. Reta menghalau Serin agar tidak masuk.
"Loe masih berani ya nampakin wujud loe disini" ucap Reta dengan nada tinggi dan keras. "Eh gue kesini mau ketemu Alfan, bukan mau ribut sama loe" jawab Serin tidak kalah keras suaranya.
"Loe gak punya malu banget sih" sahut Reta yang mulai emosi. Tangannya pun mendorong Serin dengan kuat. Serin pun sengaja menjatuhkan dirinya setelah melihat kedatangan Bobby. Airmata Serin langsung keluar agar mendapat simpati dari Bobby.
"Reta udah" ucap Bobby sambil memegangi tangan Reta. Takut kalau kekasihnya itu akan memukul Serin. "Kamu kenapa masih ngeladenin dia sih udah biarin aja" lanjut Bobby. Merasa di acuhkan Serin pun berdiri sendiri dan mendorong Reta balik.
Untung saja tangan Bobby dengan sigap memegangi Reta. "Heh loe tuh yang gak punya malu udah ngrebut Bobby dari gue" ucap Serin. Reta langsung terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Serin.
"Apa! Gue ngerebut Bobby dari loe bukannya loe yang gak tau malu ngedeketin dia. Sudah punya tunangan juga masih berani buat merayu Bobby dan kak Melvin" timpal Reta.
Tangannya pun menampar wajah Serin. Tangan yang satunya menjambak rambut Serin. Tangan Serin ikut menjambak rambut Reta. "Pergi dari sini dan loe gak berhak lagi buat ketemu sama kak Alfan!" teriak Reta. Bobby berusaha melerai namun tidak berhasil. Bagi Bobby sudah terbiasa melihat Reta berkelahi. Namun kali ini Reta terlihat sangat marah.
Bobby menarik tangan Reta untuk pergi. Tapi Reta masih betah untuk berkelahi dengan Serin. Dirasanya belum cukup untuk membuat perhitungan dengan Serin.
"Bob lepasin tangan gue" Reta mencoba melepaskan tanganya dari Bobby. Alfan melihat Bobby dan sang adik lalu menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alfan bingung. "Gak ada apa-apa kok kak" ucap Bobby dengan cepat. Bobby mengajak Reta menjauh dari Alfan. Diambilkannya gelas berisi air untuk minum Reta.
Rambut Serin acak-acakan karena berantem dengan Reta. Dia masih tidak menyerah agar bisa bertemu Alfan. Kedatangannya menemui Alfan untuk memberikannya satu kesempatan lagi. Serin merapihkan penampilannya. Dia berjalan memasuki restoran mewah itu.
Alfan sedang mengobrol dengan para staff dan petinggi yang lain. Tatapan mata Serin menyapu kesegala arah. Alfan yang melihat kedatangan Serin pun langsung undur diri. "Maaf ya saya tinggal sebentar" ucapnya.
Alfan segera menghampiri Serin dan menarik tangan Serin keluar dari restoran. Alfan mengajak ke tempat yang cukup jauh dari area restoran.
"Kamu ngapain datang kesini?" tanya Alfan. Serin langsung berlutut dan memohon maaf dihadapan Alfan. "Kak Alfan maafin aku" ucap Serin sambil memegang tangan Alfan.
Alfan membangunkan badan Serin. "Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi Serin" sahut Alfan. Serin pun mulai menangis. "Aku menyesal udah selingkuhin kak Alfan. Beri aku satu kesempatan lagi" Serin memohon dengan tangannya.
"Sudah cukup Serin, aku juga mau bahagia dengan yang lain. Kamu juga bisa memulai hidup kamu yang baru dengan lelaki yang lebih baik dari aku" Alfan menjelaskan sambil melepaskan tangan Serin.
Alfan terkejut mendengar ucapan Serin. Darimana Serin tau tentang perasaannya pada Dinka. "Apa sih yang kamu bilang?" tanya Alfan. "Jujur aja kak Alfan pernah suka kan sama Dinka" lanjut Serin.
Melvin berdiam mematung dari jarak yang tidak jauh. "Aku emang pernah suka pada Dinka tapi itu sudah lama banget, dan itu bukan alasan aku buat ngebatalin pertunangan kita. Kesalahan ada sama kamu kenapa kamu malah nyalahin aku sih" sahut Alfan.
Serin menangis sampai tersedu-sedu. Timbul ide yang cukup bagus untuk membuat kakak beradik saling membenci. "Jadi kak Alfan menyalahkan aku karena aku selingkuh padahal kak Alfan sendiri yang selingkuh sama Dinka di belakangku" ucap Serin dengan keras.
__ADS_1
Alfan menjadi bingung. Disini siapa yang salah sih kenapa malah dirinya yang dituduh berselingkuh. Melvin masih berdiri di belakang tanpa Alfan tau. Dia mendengar semua ucapan dari Serin.
"Aku gak pernah selingkuh!" ucap Alfan membantah dengan keras. Mendengar kalimat itu Melvin pun pergi.
"Aku mau minta kesempatan lagi sama kak Alfan untuk memperbaiki semuanya" Serin memegang tangan Alfan dengan kedua tangannya. Alfan mengibaskan tangannya dari Serin. Langkahnya langsung pergi meninggalkan Serin sendiri. Serin pun pergi dari tempat itu.
Alfan melihat sang adik kembali ke acara. "Vin kamu datang lagi" ucap Alfan. "Iya kak" jawab Melvin. Raut wajah Melvin terlihat dingin. Itu membuat Alfan jadi merasa aneh.
Sepulangnya kerumah Melvin langsung masuk kedalam kamar. Matanya belum juga mau terpejam memikirkan apa benar yang dikatakan Serin.
Melvin pun menghampiri kamar kakaknya. "Kak Alfan bisa bicara sebentar" ucap Melvin sembari mengetuk pintu. Kebetulan Alfan belum tertidur.
Melvin mengajak sang kakak duduk di teras lantai atas rumahnya. "Kamu ingin bicara apa?" tanya Alfan sambil duduk. "Apa kakak menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Melvin balik.
Alfan mengangkat alisnya karena bingung. "Kakak gak menyembunyikan apapun dari kamu" jawab Alfan. Bibir Melvin tersenyum sebelah. "Bukannya kak Alfan pernah menaruh perasaan pada istriku" ucapan dari Melvin sontak membuat Alfan kaget.
"Apa Serin mengatakan sesuatu sama kamu?" tanya Alfan. "Aku denger semua pembicaraan kakak sama Serin sewaktu di acara makan malam tadi" jelas Melvin.
Alfan tertawa renyah mendengar sang adik. "Astaga dek kamu cemburu sama kakak" sahut Alfan. "Jawab aja kak" ucap Melvin dengan cepat. Alfan masih tertawa.
__ADS_1
"Iya jujur saja kakak memang pernah suka sama Dinka tapi itu dulu banget vin sebelum kamu menyukai nya" jawab Alfan. "Kak Alfan kenapa tidak bilang pernah suka sama Dinka" ujar Melvin.
"Kenapa kalau kakak bilang? Emang kamu mau meninggal Dinka demi kakak?" tanya Alfan yang berniat meledek sang adik. Melvin memasang wajah tidak sukanya. "Tuh lihat raut wajahmu saja terlihat seperti akan menerkam ku. Kakak hanya becanda vin" Alfan berkata sambil meneruskan tawanya.