
Melvin mendapati sang kakak termenung kembali. Tangannya membuka pintu mobil dan masuk kedalam. "Ayo kak kita berangkat" ajak Melvin pada sang kakak. Alfan menyalakan mobil dan melajukannya. Pagi itu sudah ramai orang hilir mudik. Mobil berhenti didepan lampu lalu lintas. Banyak orang yang menyebrang di zebra cross. Karena Alfan sedari tadi sibuk memikirkan Enzi membuatnya berhalusinasi.
"Enzi" Alfan segera turun dari mobilnya. Melvin sedang sibuk mengecek email yang masuk. "Kak Alfan mau kemana" Melvin juga ikut turun dari mobil mengejar sang kakak. Alfan berlari mengejar wanita yang dikiranya adalah Enzi. Padahal wanita itu bukanlah Enzi. "Kak Alfan" Melvin terus memanggil sang kakak. Lampu lalu lintas kembali berwarna hijau yang menandakan mobil atau motor harus kembali jalan. Semua mobil yang berada di belakang mobil Melvin menyalakan klaksonnya.
Melvin menengok kebelakang, karena banyak yang sudah protes akhirnya Melvin melajukan mobilnya ketepian jalan. Dia melihat ke arah sang kakak berlari namun Alfan tak terlihat. "Aduh kemana lagi kak Alfan" gerutu Melvin.
Setelah beberapa menit menunggu sang kakak terlihat di pinggiran jalan tadi. Terlihat Alfan sedang celingukan kesana sini. Melvin menyalakan klaksonnya untuk mengkode sang kakak. Alfan mendengarnya dan berjalan menuju mobil. "Kak Alfan kenapa tadi tiba-tiba keluar dari mobil?" tanya Melvin bingung.
"Kamu jangan tanya kakak dulu, sebaiknya jalankan mobilnya saja" jawaban dari Alfan membuat Melvin terdiam. Mobil kembali melaju menyusuri jalanan kota.
Alfan langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan. Melvin hanya menatap sang kakak. Kunci mobil dia lemparkan pada si penjaga pintu masuk. "Selamat pagi pak presdir" sapa salah seorang karyawan. "Pagi" jawab Melvin dengan cepat. Karyawan yang lainnya juga menyapa bos besar mereka.
Karena banyak pikiran Alfan sampai salah masuk ruangan. Tempat kerjanya berada di lantai teratas di gedung tersebut. Tapi Alfan malahan pergi ke lantai 20 yang merupakan tempat kerja departement bagian pemasaran. "Pagi pak bos" sapa Silma. Tapi tidak di respon oleh Melvin.
__ADS_1
Melvin sampai duluan dan dia berjalan masuk kedalam ruang kerjanya. Sebelum masuk Melvin menyempatkan menengok ruang kerja sang kakak. "Mana kak Alfan bukankah dia yang masuk lebih dulu tadi" Melvin bicara sendiri.
Silma merasa aneh pada sikap bosnya. Kini Alfan baru sampai di lantai teratas tempatnya bekerja. "Pagi pak Alfan" sapa Silma. Sama saja Alfan pun tidak menjawab sapaan dari Silma. "Aneh kenapa tidak ada yang merespon ku, biasanya juga di jawab" gerutu Silma. Sebuah tab disiapkan dan langkah kaki Silma berjalan masuk kedalam ruang kerja Melvin.
"Pak hari ini anda ada pertemuan dengan klien kita, lalu anda akan meninjau pabrik dan beberapa anak cabang perusahaan. Dan jadwal siangnya sehabis makan siang dengan kolega anda kembali ada janji temu dengan rekan bisnis" jelas Silma dengan suara terbaiknya. Melvin sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa membantu sang kakak. Tapi pikirannya di buyarkan oleh suara dari sang sekretaris. "Sudah ngomongnya" ucap Melvin dengan tegas. "Sudah pak" jawab Silma dengan menampilkan barisan giginya.
"Ya sudah kamu boleh pergi" perintah Melvin. "Permisi pak" Silma bergegas keluar dari ruang kerja bosnya. "Ada apa dengan kakak beradik itu, sungguh aneh" Silma berbicara sendiri. "Aneh" terdengar suara dari belakang Silma. "Eh pak Alfan" Silma sedikit terkejut. "Tidak usah senyam senyum seperti itu" Alfan memasang wajah seriusnya. "Maaf pak" Silma menunduk karena tidak berani menatap wajah Alfan.
Reta menengok ke ruang kerja milik sang kakak lewat kaca. "Sepertinya gak ada orang" gumam Reta. Untuk memastikannya Reta berjalan secara perlahan sambil mengintip lewat pintu. "Iya gak ada orang, aku sebaiknya cepat pergi saja" gumam Reta.
Di depan gedung perusahaan sang kekasih sudah menunggu. Reta berjalan santai menghampiri kekasihnya. Sontak ada suara yang memanggil namanya. Reta tau persis suara itu. "Reta kamu mau kemana" Melvin berjalan cepat mengejar sang adik yang mau bolos kerja. "Reta" Melvin terus memanggilnya.
Reta berlari sambil menutup wajahnya dengan tas selempang yang dipakainya. "Beb ayo buruan" Reta langsung masuk kedalam mobil Bobby. "Kenapa sih beb? Kaya lagi di kejar hantu gitu" ucap Bobby. Mobil sudah melaju cepat namun Melvin tidak berhasil mengejar adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Astaga punya adik satu bandelnya bikin pusing" gerutu Melvin. Reta sengaja bolos karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan sang kekasih. "Kamu beneran gak papa bolos kerja, nanti kak Melvin atau kak Alfan pasti bakal marah-marah" ucap Bobby. "Kayaknya sih gak papa" sahut Reta cengengesan.
"Yah kok kayaknya sih beb, bisa-bisa aku yang dimarahin sama kedua kakakmu itu" Bobby sedikit merinding mengingat betapa sadisnya kedua kakak Reta. "Sudah gak usah di pikir, mending kita pergi jalan-jalan terus makan pokoknya menikmati waktu buat berduaan" Reta sangat antusias. Bobby tersenyum melihat Reta yang terlihat sumringah.
Ronald sudah berada di kantor Melvin. Disaat Melvin sedang bertemu kliennya. Tanpa mengetuk pintu dia asal masuk saja kedalam ruang kerja temannya itu. "Oh maaf ada tamu rupanya" ucap Ronald. Semua orang yang berada di dalam ruang kerja Melvin kompak melihat kearah Ronald. "Aku tunggu di luar ya" ucap Ronald lirih pada Melvin.
Melvin hanya mengangguk mengerti ucapan Ronald. Kebetulan Silma sudah kembali ke meja kerjanya. Tapi terkejut karena ada orang yang menduduki kursinya. "Maaf anda siapa?" tanya Silma dengan hati-hati. Takutnya orang tersebut merupakan klien penting sang bos.
Ronald menatap kearah Silma yang berdiri. "Ini tempat duduk mu?" tanya Ronald. "Iya" jawab Silma disertai senyuman. "Maaf aku lagi menunggu Melvin. Jadi aku duduk di sini dulu" sahut Ronald. "Iya tidak apa-apa" Silma menduduki kursi Reta yang berada di sebelahnya.
"Apa kamu sekretaris Melvin?" tanya Ronald. "Iya" Silma menjawabnya dengan cepat. Jemarinya asik bergoyang diatas keyboard komputer. "Sudah lama menjadi sekretarisnya Melvin?" tanya Ronald lagi. "Sudah lumayan lama" jawab Silma. Kesempatan bagi Ronald untuk berkenalan dengan wanita cantik. "Kalau boleh tau namanya siapa?" tanya Ronald. "Silma" jawab Silma singkat. "Nama yang bagus sebagus orangnya" Ronald mencoba menggombali. "Biasa saja" sahut Silma dengan suara lembutnya.
Ronald ini termasuk playboy kelas kakap. Namun seringkali kisah asmaranya berakhir tragis. Sama seperti halnya kisahnya dengan Serin. Ujung-ujungnya Ronald akan menikahi Serin karena ulahnya sendiri. Tapi masih sering menggombali dan menggoda wanita lain.
__ADS_1