Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
116. Makan malam yang kacau


__ADS_3

Bobby menjemput kekasih tomboinya di kampus. Klakson mobil sengaja dia bunyikan berulang kali untuk memanggil Reta. "Berisik!" gerutu Reta sambil menutup telinganya. Bobby sangat suka mengusili Reta. Yang apabila Reta kesal wajahnya bertambah cantik bagi Bobby.


"Hay kekasih tomboiku" rayu Bobby. Reta membuka pintu mobil dan masuk kedalam. "Anak buahnya ayah gak ngikutin kan?" tanya Reta. "Tenang mereka gak akan ngikutin gue kok" jawab Bobby.


Bobby melajukan mobilnya dengan kekuatan sedang. Sembari menikmati waktu berdua dengan Reta. Jarang-jarang dia punya waktu berdua dengan Reta. Karena Reta jarang mau berduaan. Kalau bukan alasan mengajaknya mengunjungi sang kakak sulung mana mau Reta berduaan dengannya. Memang aneh cara mereka berpacaran.


"Ngomong-ngomong Dinka sampai kapan ngambil cutinya?" tanya Bobby. "Gak tau tergantung kak Melvin" jawab Reta dengan tegas. Tangannya disilangkan kedada. Bobby merasa aneh pada sikap Reta. "Loe kelihatannya lagi marah" ujar Bobby dengan lirih. "Loe gak tau ya si Serin tadi dateng ke kampus" sahut Reta.


"Serin ngapain dateng ke kampus? Loe gak berantem sama dia kan?" Bobby menoleh kearah Reta. "Loe gak tau apa yang dia omongin ke gue. Dia bilang lagi hamil anaknya kak Alfan. Gak mungkin banget kan. Langsung gue gaplok tuh mukanya" jelas Reta.


'Serin kenapa malah sekarang ngaku-ngaku hamil anaknya kak Alfan, apa yang di rencanakannya' gumam Bobby dalam hati. "Gue bakal tanyain kak Alfan biar jelas" lanjut Reta.


Setelah sampai di tempat persembunyian. Bobby terkejut melihat pintu rumah yang terbuka. Reta dan Bobby segera berlari ke dalam rumah. Mata mereka menyapu ke sekeliling rumah. "Kak Alfan dimana?" Reta panik. "Kak Alfan Enzi" panggil Bobby.


Mengetahui rumah itu sudah kosong Bobby dan Reta pergi mencari ke sekitar tempat persembunyian itu. Tempat persembunyian terletak di pinggiran kota. Hasilnya nihil mereka berdua tidak menemukannya. "Gimana nih kalau sampai kak Alfan dan pacarnya ditangkap sama ayah" keluh Reta.

__ADS_1


Bobby mencoba menghubungi ponselnya dengan ponsel Reta tapi tidak aktif. Dia pun memberitahukan pada Melvin.


Belum ada tanggapan apapun dari Melvin, mereka berdua berinisiatif untuk mencarinya. "Sial ponsel gue sama sekali gak bisa dilacak ta" keluh Bobby. "Terus gimana dong" sahut Reta yang mulai panik. "Gue takut kak Alfan bakal di amukin sama ayah" Reta mulai menangis mengingat nasib kakaknya.


"Tenang ya sayang ayah loe gak bakal bisa temuin kak Alfan kok" Bobby menenangkan Reta. "Kalau mereka berdua gak disini lalu mereka kemana lagi coba" bentak Reta yang mulai marah. "Sayang gue kan gak salah" Bobby menggigit jari telunjuknya. "Daripada ribut gak jelas mending kita cari kak Alfan sekarang" gerutu Reta. Mereka kembali naik ke mobil untuk mencari Alfan dan Enzi.


Sepulang dari kantor Melvin mengajak sang istri untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Jarang-jarang mereka berdua makan malam di luar. Karena Dinka yang lebih suka makan masakan rumahan. Ditambah Melvin yang memang alergi bila makanan tidak higienis. Tubuhnya akan mengalami diare.


"Aku mau ajak kamu makan malam" ajak Melvin. "Tumben" Dinka memandang wajah suaminya. Kini mereka berada didalam mobil. "Kamu mau makan apa?" tanya Melvin. "Apa aja deh yang penting jangan yang aneh-aneh" jawab Dinka.


Mata Melvin melirik ke sekitar karena pasti anak buah ayahnya yang mengikuti mobilnya. Dinka menggandeng tangan suaminya. Melvin sengaja memilih private room karena tidak ingin di awasi oleh bodyguard sang ayah. Itu membuatnya risih.


Ponsel Melvin di silent agar tidak mengganggu waktu berdua dengan Dinka. Sambil menunggu hidangan makan malam Melvin mengecek ponselnya. Ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari Reta. Dan beberapa pesan teks.


"Ada apa vin?" tanya Dinka. "Sayang kak Alfan gak ada di tempat persembunyian" jawab Melvin. Dinka ikutan panik mendengar hal itu. "Kita harus pulang pasti ayah sudah menemukan mereka berdua, aku takut kak Alfan bakal di hajar sama ayah" sahut Melvin dengan cepat.

__ADS_1


Melvin mengemudikan mobilnya sedikit cepat. Sampai dirumah dia langsung berlari kedalam dan mencari sang kakak tapi tidak ada. "Ayah dimana pak?" tanya Melvin pada kepala pelayan.


"Tadi sore tuan besar besar pergi dengan beberapa bodyguardnya tuan" jawab pak Mimin. Tangan Melvin memegang kepala. "Sayang aku harus pergi kesuatu tempat, kamu istirahat dulu ya" Melvin pamit pada Dinka dan mengecup keningnya. "Mau kemana? Apa yang terjadi?" tanya Dinka.


Melvin tidak merespon pertanyaan sang istri. Dia sudah kelabakan dengan nasib sang kakak. Di depan rumah Bobby berpapasan dengan Melvin. "Kebetulan kamu disini cepat ikut denganku" ucap Melvin.


"Apa kak Alfan tidak ada dirumah?" tanya Reta. "Kamu sebaiknya dirumah saja tidak usah ikut" jawab Melvin. Reta langsung menaiki mobil sang kakak. "Aku harus ikut kak" sahut Reta. Melvin mendengus kesal. "Ini urusan laki-laki!" bentak Melvin.


Reta terkejut mendengar suara Melvin yang berteriak padanya. "Kak tapi.." ucapan Reta di potong oleh Bobby. "Sayang" Bobby menggelengkan kepala pada Reta. Reta pun turun dari mobil Melvin.


Dinka keluar dari rumah diikuti si kembar. "Reta kamu disini?" tanya Dinka. "Kaka ipar apa yang terjadi, kenapa kak Melvin terlihat marah?" tanya Reta. "Aku juga gak tau detailnya tapi sepertinya ayah sudah menemukan kak Alfan. Jadi itu membuat Melvin panik dan pergi" jawab Dinka.


"Aku kira kak Alfan balik kerumah, jadi aku dan Bobby kesini" sahut Reta. "Kak Alfan gak ada dirumah dan ayah juga gak ada" jawab Dinka. "Bunda dimana? Cuma dia yang bisa menghentikan ayah. Pasti kak Alfan bakal dihajar habis-habisan sama ayah" Reta mulai menangis lagi.


'Jarang-jarang aku lihat Reta sepanik ini, pas dengar bunda sakit juga dia tidak sepanik ini' batin Dinka. Dia memeluk Reta untuk menenangkannya. "Ayah gak bakal sampai segitunya sama kak Alfan kamu tenang ya. Bunda udah tidur tadi aku gak berani bangunkan dia" Dinka mengelus lembut bahu Reta.

__ADS_1


__ADS_2