
Sudah beberapa hari Arya dirumah sakit ditemani asistennya. Alfan bergantian jaga dengan sang ayah dirumah sakit. Wajah Arya begitu pucat pasi. Makan pun tidak berselera. "Ayah istirahat lebih dulu ya biar aku yang jaga bunda disini" bujuk Alfan. Dia melihat kearah paman Jay. "Paman sebaiknya bawa ayah pulang kerumah biar dia bisa istirahat" pinta Alfan.
Paman Jay meraih tangan Arya dan membawanya. "Ayo tuan biar saya antarkan" ucap paman Jay. Arya sama sekali tidak mau bergerak dari kursinya. "Ayah lebih baik pulang dulu untuk istirahat, ayah sudah beberapa hari ini dirumah sakitkan" Alfan mengelus tangan Arya.
Melihat kondisi sang istri membuat Arya terlihat seperti mayat hidup. Sama sekali tidak bisa diajak bicara. Itu baru pertama kalinya Alfan melihat sang ayah seperti itu. Keadaan Sarah memang sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Tubuhnya hanya bergantung pada peralatan medis.
"Ayah ayo Alfan antar ayah pulang dulu kerumah" Alfan membantu Arya untuk berdiri. "Demi bunda ayah gak boleh kaya gini, ayah harus tegar dan harus menyemangati bunda" Alfan berkata didekat telinga sang ayah. Arya menengok melihat wajah anak angkatnya. "Kamu benar" sahut Arya. Sepatah kata dari sang ayah membuatnya cukup puas karena ayahnya sudah sulit untuk diajak bicara beberapa hari ini. Akhirnya sang ayah mau diajak pulang ditemani oleh paman Jay.
Alfan berencana akan berkeliling dan mencari Enzi selama di singapura. Tapi hal yang lebih penting adalah keadaan ibundanya. Bahkan dia juga tidak berani memberitahukan kondisi Sarah yang sebenarnya pada Melvin. Orang yang paling syok pastilah sang adik. Melihat keadaan sang ayah yang begitu saja membuat dirinya risau. Sedangkan sang adik selalu saja menanyakan kabar ibundanya.
Alfan hanya bisa menutupi keadaan Sarah yang sebenarnya. Itu demi kebaikan Melvin juga. 'Aku mana tega memberitahukan yang sebenarnya sama Melvin tentang kondisi bunda saat ini, benar-benar sudah kritis. Tapi mau sampai kapan menyembunyikan keadaan bunda' keluh Alfan dalam hati. Tangannya memijit pinggiran kening karena merasa pening.
Disisi lain dia juga tidak bisa berhenti memikirkan Enzi yang entah dimana. Tanpa sadar matanya mengeluarkan airmata. Paman Jay kembali kerumah sakit setelah mengantar bosnya. Perlahan dia memasuki ruang rawat vvip di rumah sakit. Melihat Alfan sedang menangis membuatnya terenyuh. "Tuan muda yang sabar ya" paman Jay menepuk bahu Alfan.
"Apa aku salah bila membohongi Melvin tentang keadaan bunda yang sebenarnya paman?" tanya Alfan. "Itu lebih baik tuan, karena bagaimanapun tuan Melvin lah yang akan paling tergoncang bila tau kondisi nyonya sekarang ini. Apalagi melihat tuan besar juga begitu terpukul" saran paman Jay.
__ADS_1
"Kamu harus bisa menyemangati mereka tuan karena kamulah yang bisa memberi tuan besar semangat untuk berjuang demi kesembuhan nyonya" lanjut paman Jay. Alfan tersenyum mendengarkan nasihat yang diberikan paman Jay. Itu sudah cukup untuk membuatnya tenang.
Kini fokusnya akan lebih dulu pada kesembuhan sang bunda. Dering ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari sang adik. Namun Alfan tidak berani mengangkatnya. "Paman Jay bisa angkatkan telpon dari Melvin?" Alfan memberikan ponselnya pada paman Jay. Paman Jay menerimanya dan keluar dari ruang inap untuk mengangkat telepon.
Setelah berbincang sebentar wajahnya terlihat serius. "Tuan Alfan tuan muda sudah ada disini bersama istrinya" ucapan dari paman Jay membuat Alfan tercengang. "Melvin datang kesini bersama Dinka?" tanya Alfan memastikan. "Iya tuan" jawab paman Jay.
"Paman gimana ini jangan biarkan Melvin melihat kondisi bunda, biar aku yang menghalau Melvin untuk datang kerumah sakit" Alfan berkata sambil beranjak pergi. Paman Jay menunggu istri majikannya dirumah sakit.
Alfan segera menjemput Melvin dan Dinka dibandara. Sesampainya di bandara ternyata Melvin dan Dinka sudah sampai dirumah terlebih dulu.
Alfan bingung harus bagaimana agar Melvin tidak pergi kerumah sakit. "Pasti kalian capek kan ayo sebaiknya istirahat dulu" ajak Alfan sambil mendorong Melvin dan Dinka menuju ke kamar. "Kondisi bunda bagaimana kak?" tanya Dinka.
"Kalian tidak usah khawatir, keadaan bunda tidak parah kok" sahut Alfan mencoba tersenyum. Agar Mevin dan Dinka tidak cemas.
"Aku harus ke rumah sakit, aku mau melihat keadaan bunda" Melvin berbalik dan menarik tangan Alfan. "Kamu harusnya istirahat dulu vin kasian istrimu pasti lelah" ucap Alfan. Ekspresi wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu. Melvin merasa aneh dengan raut wajah sang kakak.
__ADS_1
"Kakak tidak menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Melvin. Alfan celingukan tidak jelas. "Eh itu...tidak ada...mana ada kakak menyembunyikan sesuatu dari kamu. Sebaiknya kalian istirahat dulu ya" Alfan mendorong Melvin dengan susah payah kedalam kamar. Dinka mengekori dari belakang.
"Vin aku laper" ungkap Dinka sembari mengelus perutnya. "Bukannya tadi sewaktu dipesawat kamu udah makan banyak ya sayang" ujar Melvin. "Laper" jawab Dinka dengan cepat.
"Biar aku suruh pelayan mengantarkan makanan ke kamar kalian ya. Sebaiknya kamu istirahat dulu ya vin" Alfan menyuruh Melvin duduk disofa kamar. "Baiklah, tapi kakak ini terlihat aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu" ungkap Melvin sambil mengerutkan kening.
Alfan tersenyum dan berjalan keluar dari kamar sang adik. Dengan cepat dia menyuruh kepala pelayan untuk mengawasi Melvin. Dan menyuruh pelayan yang lain untuk membawakan makanan.
Didalam kamar Dinka berjalan kearah balkon kamar. Matanya menatap keatas melihat langit yang cerah. Sebuah taman bunga yang cukup luas membuat matanya takjub. Baru dua kali dia berkunjung kerumah mertuanya di singapura. Dari belakang Melvin memeluk sang istri. "Kelihatannya kamu senang berada disini? Apa pemandangannya bagus?" tanya Melvin.
"Aku cuma ingat saat pertama kalinya kesini, sewaktu menengok bunda. Sekarang pun kesini juga karena menengok bunda. Kapan ya kita semua bisa berlibur bersama" jelas Dinka. Melvin mengeratkan pelukannya dan mengelus perut sang istri. "Setelah bunda sembuh pasti kita akan berlibur okehhh" sahut Melvin.
"Pergi liburan bersama bunda dan ayah, kak Alfan dan Enzi dan juga Reta Bobby. Pasti akan menyenangkan bila semuanya ikutkan" saran Dinka.
Mengingat Enzi dia juga dikirim oleh sang ayah ke singapura. Itu kesempatan bagi Melvin untuk membantu kakaknya mencari Enzi.
__ADS_1