
Semilir angin pantai menyejukan udara di sekitarannya. Sinar mentari yang kian meninggi masuk melalui celah gorden kamar hotel. Sebelum pergi untuk jogging Melvin sengaja membuka sedikit gorden kamar.
Dinka menguap selebar mungkin sambil tangannya menutupi mulut. Dia melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 09.00. 'Wah aku sudah telat berangkat kekampus nih' gumam Dinka dalam hatinya.
Dia langsung berlari menuju kamar mandi hotel. Setelah selesai mandi dia baru sadar sedang ada di luar kota. "Astaga ingatanku kenapa jadi begini" Dinka mengetok keningnya sendiri. "Kenapa aku jadi sangat pelupa" ucapnya sambil menggigit jari.
Dinka keluar dari kamar mandi masih mengenakan handuk. Dia mencari bajunya didalam lemari. Kemudian Dinka berjalan ke kolam renang. Dia takjub dengan pemandangannya. Lautan lepas dikelilingi bukit nan cantik.
Dinka menghirup udara sedalam mungkin. Itu mengingatkannya pada desanya. "Jadi pengen pulang kedesa" ucapnya sendiri. Tiba-tiba terdengar ada orang yang menyahuti ucapannya. "Pulanglah".
Dinka menoleh kebelakang mendapati suaminya sudah ada didalam kamar. "Ayo sarapan" ajak Melvin sembari menyilangkan kedua tangannya.
Dinka mengikuti Melvin dari belakang. Tangannya tidak berhenti mengetok kepalanya sendiri namun secara pelan. Melvin menghentikan langkahnya karena ponselnya bergetar.
Dinka yang berjalan di belakang sang suami menabrak punggung Melvin dari belakang. Melvin menoleh ke istrinya sambil menjawab telpon.
"Hallo yah" jawab Melvin.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya sang ayah
"Baik yah" jawab Melvin.
"Ini bundamu ingin mengobrol dengan menantunya" ucap Arya. Melvin memberikan ponselnya kepada Dinka.
__ADS_1
"Bunda ingin berbicara dengan mu" ucap Melvin. Dia kembali berjalan sambil tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Dinka berbicara ditelpon juga dengan berjalan mengikuti suami.
Di meja makan sudah ada Alfan dan Serin. Mereka memang menunggu Melvin dan istrinya. 'Pantas saja Melvin semalam tidak keluar kamar jadi karena ada istrinya' batin Serin. Melvin mendudukan bokongnya dikursi berhadapan dengan Serin. Dinka berhadapan dengan Alfan.
"Nih ponselnya" Dinka meletakkan ponsel diatas meja. Melvin mengambilnya dan memasukan kembali kesaku.
Mata tajam Melvin menatap Serin. Dia masih marah atas perbuatan Serin semalam. Mencampurkan minumannya dengan sesuatu. 'Sungguh berani ya kamu ternyata' batin Melvin.
Alfan menangkap tatapan tajam dari Melvin ke Serin. Dia menyatukan kedua alisnya. Dinka masih terbengong dengan makanan yang sudah tersaji. Dia asik dengan pikirannya.
'Makanan apa ini? Kok bentuknya aneh.' tanya Dinka dalam hati. Dinka mengorek hidangan yang tersaji dengan garpu. Dia mengambil sebuah cumi. Garpunya di angkat tepat kedepan wajah suaminya. Melvin sedikit kaget dengan kelakuan istrinya.
"Apa ini?" tanya Dinka penasaran. Bola mata Melvin bergerak. Yang tadinya sedang melihat tajam kearah Serin kini melirik ke sebelahnya. Alfan langsung tertawa melihat momen didepannya.
"Bisa kau turunkan garpunya?!" tanya Melvin dengan wajah kesal. Dinka menatap kebawah dia tau suaminya marah. "Itu cumi-cumi adik ipar" ungkap Alfan tersenyum.
"Aku gak doyan" ucap Dinka. Dirinya teringat bahwa Alfan alergi pada seafood. "Bukannya kak Alfan alergi dengan seafood?" Dinka menatap Alfan. Serin merasa sedikit terkejut karena Dinka tau alergi Alfan.
Alfan mengangguk seraya menjawab "aku pesan nasi goreng". Dinka menatap Melvin memasang wajah memelas. "Aku mau nasi goreng juga tapi yang biasa" ucap Dinka.
Melvin sudah mulai memakan sarapannya. Dia tidak merespon ucapan Dinka. "Apakah adik ipar ingin nasi goreng juga?" tanya Alfan. Dinka manggut-manggut.
"Baiklah akan ku pesankan" jawab Alfan. Alfan melambaikan tangan kearah pelayan restoran. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya si pelayan.
__ADS_1
"Tambah nasi gorengnya satu lagi ya" jawab Alfan. "Em nasi goreng petay ya ka" sahut Dinka. "Maaf nasi goreng apa? Pataya?" tanya pelayan.
"Bukan nasi goreng petai itu yang bulet-bulet hijau" jelas Dinka tangannya sambil memeragakan bentuk petai.
Alfan tertawa melihat reaksi Dinka yang lucu. "Disini tidak ada nasi goreng itu" ucap Melvin. Dinka menatap kebawah lagi. "Baiklah bisa saya carikan bila anda mau" sahut pelayan.
Dinka mengangguk dengan cepat. Melvin mendengus sambil melirik istrinya. Dinka langsung menoleh kearah lain.
Bibir Serin tersenyum sebelah. 'Sungguh kampungan' batinnya. Makanan yang Alfan dan Dinka pesan datang. Dinka mencium bau nasi goreng yang disukainya.
"Akhirnya bisa makan nasi goreng mix petai juga" ucap Dinka cengengesan. Melvin sudah selesai sarapan dan dia pergi terlebih dulu. Serin juga beranjak pergi mengikuti langkah Melvin dari belakang.
"Kamu tau darimana bahwa aku alergi seafood?" tanya Alfan. "Reta" jawab Dinka.
"Jadi adik tomboy ku yang memberitau mu?" tanya Alfan lagi. Dinka mengangguk sambil mengunyah makanan. Mulutnya di penuhi dengan nasi goreng. Alfan mengambil tisu diberikan pada Dinka.
"Pelan-pelan makanannya gak ada yang mau merebutnya dari mu" ujar Alfan. Setelah selesai makan Dinka dan Alfan mencari keberadaan Melvin dan Serin.
Perut Dinka tiba-tiba saja sakit. Dia meminta izin untuk kembali kekamar hotel. "Kak kayanya mau setor deh" Dinka memegangi perutnya.
"Maksudnya?" tanya Alfan yang tidak mengerti. Dinka berlari ke arah kamar hotel tanpa menjawab Alfan. Dia langsung membuka pintu dengan kartu akses yang dipegangnya.
Dinka melihat Melvin yang sedang berciuman dengan Serin di kursi dekat kolam renang. Karena pintu kamar mandi dekat dengan pintu ke kolam renang. Hanya di batasi dengan jendela kaca yang besar.
__ADS_1
Dinka ternganga dan melotot. Sakit diperutnya seketika hilang. Dia merasa ada sebuah batu besar menghantam hatinya. Saking begitu kerasnya hantaman membuat air mata Dinka menetes jatuh kepipi mulusnya.
Dinka tidak menyangka melihat pemandangan didepannya. Sungguh sangat indah saking indahnya membuatnya muak. Dinka bersembunyi dalam kamar mandi. Menangis sambil menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.