Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
194. Ikhlasnya Hati


__ADS_3

Benar dugaannya. Sang suami terlihat sangat berantakan dan pucat wajahnya. Melvin dipapah oleh bodyguard ayahnya. Karena tubuh Melvin yang eightpack itu jadi hanya bodyguard yang memiliki tubuh besar dan tinggi saja yang kuat memapahnya.


Setiba dari rumah sakit jena*ah sang ibunda langsung di kebumikan tanpa menunggu kerabat yang jauh. Karena dulu itu permintaan sang mendiang.


Arya masih terbaring dirumah sakit. Begitu pula dengan Reta. Sebenarnya Melvin tidak diperbolehkan ikut pulang kerumah namun dia kekeuh ingin ikut mengantarkan sang ibunda untuk yang terakhir kali.


Alfan dan Enzi pun ikut mengantarkan kepergian Sarah. Disini Alfan sangat merasa bersalah. Karena dirinya lah sang bunda tiada. Mungkin kalau sang bunda tidak membelanya mungkin Sarah masih ada. Itu yang dipikirkan Alfan sedari malam. Mungkin kalau Sarah tidak peduli padanya, kejadian sekarang tidak akan pernah terjadi. Yang banyak di pikiran Alfan hanya kata mungkin ini dan mungkin itu.


Tapi sebelumnya memang Alfan sudah diberi pesan oleh Sarah. Apapun yang terjadi pada sang bunda bukanlah salah siapapun. Alfan tak henti-hentinya mengeluarkan airmata. Dia terbayang perlakuan hangat dari sang bunda. Berkat Sarah, Alfan mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan kehangatan keluarga. Dan bisa mendapatkan adik-adik yang sayang dan peduli padanya. Alfan merasa sangat berterimakasih sekali pada sang bunda karena selalu di bela di depan semua orang. Sampai di akhir hayatnya Sarah pun masih membela dirinya.


"Bunda maafkan aku belum bisa bahagiakan bunda. Aku selalu memikirkan diri sendiri. Dan terimakasih banyak karena bunda sudah merawatku sebaik mungkin" Alfan berbicara sendiri dengan suara yang parau karena menangis sejak tadi. Enzi mengelus pundak pujaan hatinya.


"Sudah ya kamu ikhlasin bunda Sarah orang yang baik jadi Tuhan lebih sayang pada beliau" ungkap Enzi menenangkan Alfan.


Disisi lain Dinka membantu memapah Melvin yang tubuhnya lemas. Suaminya ini sama sekali tidak bisa berkata apapun. Hanya diam membisu sambil melihat gundukan tanah yang sudah menutup raga ibundanya. Airmata pun sudah kering kerontang tak bersisa. Kini Melvin terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya yang tampan menjadi pucat pasi.


Dinka merasa sangat hancur. Hati istri mana yang tidak berantakan melihat suaminya menjadi seperti itu. Tapi Dinka harus berjuang memberikan Melvin semangat hidup demi masa depan keluarga kecilnya. Apalagi sang buah hati yang masih kecil dan butuh kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya. Tangan Dinka mengelus lembut pundak suaminya. Elusan tersebut membuat Melvin merasa cukup tenang.

__ADS_1


Namun tatapan Melvin masih kosong. "Sayang ayo kita pulang" ajak Dinka berbisik di dekat telinga suaminya. Melvin masih mau berada di sekitaran makam ibundanya. "Kakak ipar kita pergi dahulu ya" Enzi menuntun Alfan.


Disini Alfan mencoba tegar dan sudah ikhlas. Berbeda dengan Melvin yang mempunyai ikatan batin kuat dengan ibundanya. Belum tau seperti apa perasaan yang dirasa Reta.


Dinka hanya mengangguk menjawab ucapan dari Enzi. Dia setia menunggu sang suami didekatnya. Sembari tangannya menepuk-nepuk perlahan pundak Melvin. Kini Dinka tidak menangis untuk menguatkan Melvin.


Satu jam dua jam berlalu dengan cepat. Melvin masih betah menatap makam ibundanya. "Sayang kamu ikhlasin ya bunda, kalau kamu tidak ikhlas bunda akan sulit pergi ke alam sana" pinta Dinka berkata dengan lembut. Melvin masih terdiam tidak merespon perkataan sang istri.


Dinka menahan airmatanya lagi. Nafasnya merasa sesak karena harus menahan betapa sakit hatinya melihat kondisi suaminya.


Dari kejauhan terlihat bi Nah berjalan menuju makam. "Nona tuan muda kecil menangis terus sejak tadi" ucapan dari bi Nah membuat Dinka menengok ke belakang.


Melvin berjalan kearah mobil dan duduk di kursi penumpang. Disana sudah ada sopir yang sejak tadi setia menunggu para majikannya itu. Dibelakang disusul oleh Dinka. Dan duduk dikursi sebelah sang suami.


Mobil melaju menuju kediaman utama. Sepanjang jalan Melvin hanya melihat keluar kaca jendela mobil dengan diam membisu. Dinka berkali-kali menengok kearah suaminya. Matanya tidak berhenti mengeluarkan airmata. Tapi tangisannya tidak bersuara karena takut mengganggu suaminya.


Sampai di rumah masih banyak orang yang melayat. Melvin mencoba berjalan sendiri dan sering terjatuh. Tapi orang yang berada disana hanya melihat tidak bisa menolong. Bahkan sang istri pun tidak sanggup melihatnya. Bodyguard yang mencoba menolongpun disingkirkan oleh Melvin sendiri.

__ADS_1


Dinka berjalan dengan langkah kaki yang berat mengikuti jejak suaminya masuk kedalam rumah. Dari dalam rumah Melvin mendengar suara tangisan bayi yang sangat familiar. Langkah kakinya menuju asal suara tangisan itu. Ya tangisan itu berada didalam kamarnya.


Ada pelayan yang menjaga si kecil. Seketika pelayan itu terkejut melihat Melvin yang membuka pintu itu dengan keras. Tangan Melvin sigap merebut buah hatinya dari tangan pelayan. Dia menggendong dan menciumi pipi si kecil. Suara Melvin menangis kini terdengar di sertai airmata yang jatuh.


Dinka melihat kelakuan suaminya di depan kamar. Dia mengintruksikan pelayan untuk keluar dengan tatapan mata. Sang pelayan yang sadar itu segera keluar dari kamar. Selama beberapa menit Dinka hanya melihat pemandangan itu didepannya. Tanpa berkata sedikitpun.


"Sayang maafin ayah" sontak ucapan dari Melvin membuat Dinka terkejut. Karena sejak kemarin Melvin tidak berkata apapun. Dan wajahnya yang pucat pasi kembali sedikit segar setelah melihat anaknya. Dinka berjalan perlahan menuju suaminya berdiri. Di peluknya sang suami dan anaknya. Dinka yang sedari tadi menahan tangis pun akhirnya meluapkan tangisannya. Begitu juga dengan Melvin.


Drama menangis pun terjadi didalam kamar. Si kecil tersenyum dalam tidur siangnya. Membuat Melvin sedikit menyunggingkan mulutnya. Didepan mata ada sebuah permata yang harus di jaga dan dirawat. Itu yang ada di benak Melvin. Dan pikiran Melvin mulai tersadar bahwa masih banyak orang di sekelilingnya yang sangat menyayanginya.


Apalagi buah hatinya yang masih mungil dan butuh luapan kasih sayangnya. "Sayang" Dinka berucap. Tanpa menjawab Melvin berbalik dan mengecup kening Dinka.


Waktu berlalu begitu cepat. Tiba malam di adakan tahlilan untuk sang bunda. Ayahnya masih berada di rumah sakit karena keadaannya melemah. Melvin sudah lumayan segar kembali. Tapi masih sering merenung. Dia lebih memilih berdiam diri didalam kamar. Hanya terdengar suara rengekan bayi yang membuat Melvin beranjak untuk menggendong anaknya.


Sedangkan Dinka merasa kikuk dengan situasi dirumah yang besar itu. Dinka membawakan nampan berisi makanan. Dia menyuruh Melvin untuk makan beberapa suapan. Tapi tak di hiraukan oleh suaminya itu.


Dinka mencoba membujuk Melvin untuk makan. Sang suami hanya mengangguk perlahan. Dengan telaten Dinka menyuapi suaminya. Di tangan Melvin digendonglah sang anak. Begitulah cara Melvin menghibur diri sendiri agar tidak terlalu ingat pada sang mendiang.

__ADS_1


Kini hanya Alfan yang bisa fokus mengurus perusahaan. Di bantu oleh paman Jay sang asisten pribadi Arya. Setelah beberapa waktu tak terurus.


__ADS_2