Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
103. Kepulangan mertua


__ADS_3

Melvin sudah rapih dengan pakaian kasual untuk menjemput kedua orangtuanya. Dinka bersikeras untuk ikut namun tetap dilarang Melvin. Mengingat hari sudah malam. Karena angin malam tidak baik untuk ibu hamil. Itu hanya alasan Melvin saja agar sang istri tidak ikut.


Sampai dibandara cukup lama Melvin menunggu. Akhirnya munculah rombongan sang ayah beserta yang lain. Melvin menghampiri dan menyalami tangan orangtuanya. "Mana Alfan?" tanya Arya. "Kak Alfan lagi ada urusan yah" jawab Melvin.


Melvin beralih pada sang bunda dan memeluknya. "Melvin kangen sama bunda" ucap Melvin. "Kamu ini belum lama bertemu bunda dan ayah udah kangen aja" ledek Sarah.


Armand menepuk-nepuk bahu Melvin. "Wah semakin hari semakin tampan saja kamu ini" ledek Armand. Melvin tersenyum dipuji oleh rekan bisnis sang ayah sekaligus teman akrab ayahnya itu. "Kamu lihat siapa dulu ayahnya. Bibit unggul dia" ungkap Arya. Melvin kini menyalami Armand dan istrinya. "Tante Betty juga masih tetap cantik om" goda Melvin.


Armand tertawa keras mendengar Melvin menggoda istrinya. "Kamu ini bisa saja" ujar tante Betty. Kini Melvin beralih mendorong kursi roda sang ibunda. Mereka berpisah dibandara.


Didalam mobil Melvin tak mau lepas dari pegangan tangan Sarah. Baginya bermanja ria dengan sang bunda jarang didapatnya. Paman Jay yang mengemudi bersebelahan dengan Arya. Sedangkan Melvin duduk di jok belakang bersama ibundanya. "Bagaimana dengan hubungan kalian?" tanya Arya sembari menatap Melvin lewat kaca spion.


"Sudah baikan yah" jawab Melvin. "Om Armand sudah cerita semuanya sama ayah" sahut Arya. Melvin diam menunggu kelanjutan ucapan ayahnya.


"Serin juga ternyata mendatangi om Armand untuk memohon agar bisa dijodohkan sama Bobby anak tirinya yang sulung. Bobby menceritakan semua pada Armand dan dia juga kaget mengetahui bahwa Serin sudah bertunangan dengan Alfan" sambung Arya.

__ADS_1


"Iya bunda juga mendengarnya. Bunda tidak menyangka bahwa Serin wanita yang seperti itu. Setau bunda dia baik anaknya, tapi setelah mendengar semuanya bunda tidak menyangka" sahut Sarah.


Sampai di depan rumah Dinka sudah menunggu diteras bersama pelayan yang lain. Sarah dituntun oleh Arya untuk menaiki kursi roda. Karena senang Dinka langsung berlari ke arah ibunda mertuanya.


"Astaga Dinka jangan lari" ucap Sarah pada menantunya. "Sayang jangan lari dong" Melvin juga tidak mau kalah menegur Dinka. Yang ditegur hanya cengengesan. "Kamu ini" gerutu Sarah sambil mengelus perut Dinka.


Dinka menyalami tangan mertuanya. "Selamat datang bunda, ayah" ucapnya. "Lain kali jangan lari-lari inget kandungan dong" nasehat Sarah. "Kadang suka spontan bun saking senengnya" sahut Dinka.


Didalam rumah sudah ada orang tua Dinka yang ikut menyambutnya. "Wah besan juga lagi ada disini" ucap Sarah. Siti sedikit iba melihat besannya duduk dikursi roda. Karena mulutnya yang ceplas-ceplos dia pun bertanya "duh mba Sarah ini kenapa, kok bisa duduk dikursi roda?". Dinka yang langsung menjawab sang ibu "sakit bu". Karena melihat ekspresi wajah Dinka yang aneh, Siti pun tidak melanjutkan untuk bertanya lebih. Mereka pun saling cipika cipiki dan mengobrol.


Sarah melihat kesana kemari tidak ada Alfan dirumah. "Mana kakak mu ta?" tanya Sarah. "Kak Alfan lagi sibuk pacaran bunda, mungkin lagi deket sama cewek" ucap Reta yang asal bicara. Mendengar Reta berbicara seperti itu Arya sontak bertanya "wanita siapa?".


Sontak semua mata tertuju pada Alfan. "Nah tuh yang lagi diomongin dateng, panjang umur sekali" ucap Reta. Alfan menyalami tangan Arya dan beralih memeluk Sarah. "Kamu kenapa baru pulang sampai tidak ikut menjemput bunda dan ayah sih" keluh Sarah. "Maaf bun" ujar Alfan.


Karena suasana yang sedang ramai Arya diam sejenak. Dirinya sedikit kaget mendengar si sulung sudah punya tambatan hati baru. Karena dia sudah berencana untuk menjodohkan Alfan dengan wanita lain. Alfan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan badan.

__ADS_1


Reta menghabiskan buah yang tadi sedang dimakan Dinka. "Nih Dinka bawain puding buat bunda, karena Dinka sedang mencoba resep baru" Dinka membawa nampan berisi beberapa puding. Dibelakangnya Melvin ikut membawakan puding untuk yang lain dibantu sikembar.


"Kamu tuh ya lagi hamil jangan terlalu cape sayang" keluh Sarah. Memang mertuanya ini lebih perhatian pada Dinka daripada ibunya sendiri. "Iya ndo benar yang dikatakan mertua kamu" sahut Rama. Siti hanya diam mendengarkan.


Dinka duduk kembali disofa dekat Reta. "Lah mana buah melonnya?" tanya Dinka. "Aku habisin" ucap Reta cengengesan. Dinka memasang wajah cemberut pada Reta.


"Lihat noh mukanya jelek amat" ledek Reta namun menatap pada Melvin. "Aku kupasin lagi ya sayang" ucap Melvin dengan lembut. Seketika semua orang yang berada diruang tamu tertawa. Arya pun ikut tertawa melihat tingkah Reta yang terkadang membuat Dinka kesal. Namun justru Melvin bersikap manis. Kehangatan yang terjadi diantara dua keluarga itu membuat para pelayan juga merasakannya.


Melvin kembali kedapur di ikuti oleh sang istri. "Udah gak usah dikupasin lagi melonnya, ujung-ujunya dihabisin Reta lagi" keluh Dinka. "Tumben kamu ngambek sama Reta karena buahnya dimakan, biasanya kamu maklumin" ucap Melvin.


"Itukan buah yang dikupasin sama kamu vin. Bukannya kamu spesial ngupasin buah itu buat aku" sahut Dinka. Mendengar ucapan sang istri membuat Melvin tertawa geli. "Kenapa ketawa gak lucu?" tanya Dinka. Melvin mengecup kening sang istri. Tangannya masih memegangi pisau dan buah melon.


"Vin pisaunya" gerutu Dinka. Melvin kini memeluk sang istri. Alfan menyusul kedapur untuk membuat dua cangkir kopi. Melihat sang adik sedang bermesraan membuatnya berdehem. Dinka pun melepaskan pelukan Melvin setelah melihat Alfan.


"Sudah lanjutkan saja" ledek Alfan. "Kakak ngapain kesini?" tanya Melvin. "Kakak mau buat kopi buat ayah" jawab Alfan.

__ADS_1


"Kenapa gak nyuruh pak Mimin aja kak" sahut Dinka. "Dia lagi sibuk ikut ngobrol sama yang lain" Alfan memasukan kopi bubuk kedalam mesin pembuat kopi otomatis.


Melvin kembali memeluk tubuh sang istri dihadapan Alfan. Dinka tersenyum kaku pada Alfan karena merasa tidak enak. Sang kakak hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang tanpa malu mengumbar kemesraan.


__ADS_2