
Dinka sudah terbaring di dalam ruang kesehatan. Bobby dan Reta menjaganya didalam. Terdengar bunyi ponsel Bobby. Dia pergi keluar ruang kesehatan untuk mengangkat telpon.
"Hallo" ucap Bobby.
"Oke baiklah" sahut Bobby menutup telponnya. Dia kembali menghampiri Reta.
"Gue ada urusan loe gak papa jaga Dinka sendirian?" tanya Bobby. Reta hanya mengangguk.
Dinka tersadar. Perlahan membuka matanya namun masih terasa pusing. "Dinka" Reta mengelus tangan Dinka.
"Aku dimana?" tanya Dinka. "Loe pingsan di kelas waktu masih jam kuliah" jelas Reta. Dinka mendudukan tubuhnya dibantu Reta.
"Kerumah sakit periksa ya" bujuk Reta. "Nanti aja kepala ku masih sedikit pusing" sahut Dinka. Reta mengambilkan minuman untuk Dinka.
"Gue udah telpon kak Melvin dia lagi jemput kesini" ujar Reta. Dinka menoleh pada Reta. "Kenapa malah telpon kak Melvin, harusnya bilang dulu ke aku" Dinka panik.
"Kenapa loe kan istrinya dia musti tau dong loe sakit" gerutu Reta. Dinka tidak menjawab lagi. Karena Dinka bersikeras untuk pergi kuliah jadi Melvin mengizinkan asalkan tidak terjadi apa-apa padanya.
Tapi Dinka pingsan dikampus sang suami pun mengetahuinya. Bisa jadi masalah untuk Dinka. "Nah tuh suami dateng" ledek Reta.
Melvin berjalan menghampiri istrinya didalam. Wajahnya sudah terlihat garang bagi Dinka. Tangan Melvin mengecek suhu badan istrinya. Meletakkan di kening.
"Kalau kau masih bersikeras tidak mau periksa kau akan tau akibatnya nanti" bisik Melvin. Dinka menjadi tegang karena takut. Melvin menggendong istrinya ala bridal style ke dalam mobil.
__ADS_1
Seketika orang yang melintas di area sekitar melihat padanya. Pemandangan itu banyak yang melihat. Sebenarnya Dinka sangat malu. Fahmi juga melihat adegan romantis itu. Ada dosen yang melihatnya dan menghampiri Melvin.
"Pak Melvin ada apa kemari?" tanya Dosen. "Aku hanya menjemput istriku" jawabnya. Sontak yang mendengar jadi tercengang. Mereka mengira selama ini Dinka adalah wanita simpanan pria tua. Karena gosip yang beredar memang seperti itu.
Jadi faktanya bahwa pria itu justru sungguh tampan bak pangeran di negeri dongeng bukan pria tua yang sudah keriput. Selama ini mereka salah menafsirkan.
Tapi gosip itu jadi berbanding terbalik. Reta tidak ikut mengantar Dinka kerumah sakit. Karena sudah dirasa cukup sang kaka yang menemani.
Sampailah mobil mereka dirumah sakit keluarga Tama. Dinka turun dari mobil dipapah oleh suami karena tubuh Dinka yang lemah.
Didalam ruangan dokter memeriksa keadaannya. Sang dokter meminta berjabat tangan dengan Melvin. Mata Melvin menatap pada tangan dokter. Tangannya menjulur dan menyalami tangan dokter. "Selamat pak" ucap sang dokter.
Melvin masih terdiam. "Anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah" ungkapan dari sang dokter membuat Melvin terkejut.
Raut wajah Melvin masih terlihat tenang dan dingin seperti biasa. "Terimakasih dok" ucapnya. Dibalik tirai Dinka menghela nafasnya dengan berat.
Setelah kehamilannya ini dia tidak tau apa yang akan dilakukan Melvin padanya. Dia masih teringat ucapan Melvin yang mengatakan dia akan lebih menderita setelah kehamilannya.
'Apa mungkin Melvin akan tega menyakitiku dan janin nya sendiri' batin Dinka. Airmatanya keluar entah karena senang atau sebaliknya. Dia pun bingung dengan perasaannya yang bercampur aduk.
Melvin menghampiri sang istri yang masih terbaring. Melvin meraih tangan Dinka yang berada di atas perut. "Kau harus menikmatinya" ucap Melvin sambil tersenyum tipis.
Dinka tidak mengerti maksud dari suaminya karena dia sudah terlanjur merasa takut. Melvin kembali menggendong sang istri dan mendudukannya di kursi.
__ADS_1
"Akan saya beri vitamin agar janinnya sehat, karena keadaan si ibu begitu lemah. Dan harus makan teratur walaupun tidak bernafsu makan" saran sang dokter.
Melvin mengantarkan Dinka kerumah dan membaringkannya diatas ranjang. Dia menyuruh pak Mimin untuk mengumpulkan semua pelayan dan pengawal.
"Semua sudah berkumpul?" tanya Melvin pada pak Mimin. "Sudah tuan" jawab pak Mimin.
"Ada pengumuman penting, mulai sekarang kalian harus menjaga ekstra istri saya karena dia sedang mengandung. Dia tidak boleh melakukan hal apapun jika kalian masih melihatnya melakukan hal yang berat segera hentikan. Saya membuat pengumuman ini untuk berjaga-jaga karena istri saya termasuk keras kepala" ucap Melvin panjang lebar.
Para pelayan ada yang tertawa kecil mendengar ucapan Melvin. "Baiklah selesai kalian boleh pergi" lanjut Melvin.
Dinka mendengar dari balkon kamar karena sang suami membuat pengumuman konyol itu di taman belakang rumah. Bagaimana tidak konyol hal sepele saja di umumkan seperti pengumuman penting saja. Bagi Dinka itu memang hal konyol yang dilakukan suaminya.
"Kenapa tidak sekalian saja mengumumkan pada seluruh dunia" gerutu Dinka pada diri sendiri. Tangannya disilangkan kedada sambil memanyunkan bibir.
Bunyi ponsel nya terdengar. Nama Reta muncul dilayar ponsel. Namun tidak terangkat. Dinka mengirim sms padanya.
Melvin kembali kedalam kamar dan mencium kening sang istri sebelum kembali kekantor. "Kau akan tau penyiksaan apa yang akan ku lakukan karena kau telah mengandung anakku" bisik Melvin. Mata Dinka menatap tajam sang suami.
"Lihat kau sudah berani menatap ku seperti itu" Melvin mendekatkan wajahnya. Kedua tangannya memegang pipi Dinka. Menciumkan bibirnya dan melumat bibir Dinka dengan lembut.
Dinka merasakan kelembutan bibir suaminya. Yang biasanya tidak terasa sama sekali saat bibir itu menciumnya. Karena sering kali Melvin menciumnya dengan buas. Jadi hanya rasa perih yang dirasa Dinka.
Namun kali ini terasa lembut. Dinka berjinjit dan mengalungkan tangannya dileher suami. Tak terasa bibirnya merespon balik umpan dari sang suami. Mereka berciuman sangat lama sampai nafasnya tersengal.
__ADS_1
Dinka melepaskan ciumannya namun bibir Melvin mengeratkan lagi. Jantung Dinka kembali berdetak dengan cepat. Melvin tersenyum tipis diselah ciumannya. Dia melepaskan bibir sang istri dan berjalan keluar kamar. Tangannya merapihkan dasi yang sedikit kendur.