
Alfan menyuruh Silma untuk menjemput rekan kerjanya yang baru. Karena kalau hanya Silma pekerjaannya bisa menumpuk lima kali lipat dari biasanya. "Silma rekan mu baru saja di interview kau jemput di ruang tunggu hrd" ungkap Alfan yang sontak membuat Silma bersemangat.
"Wah pak langsung di suruh kerja hari ini juga" Silma berdiri kegirangan. Seperti anak kecil yang di beri permen lolipop kesukaannya. "Tidak usah banyak bicara cepat pergi" sahut Alfan.
"Siap" Silma bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu lift. Sampai di ruang hrd matanya celingukan menatap ke sekitar. Terdapat seorang wanita yang cantik nan seksi duduk membelakangi pintu.
"Apa dia orangnya" gumam Silma. Belum juga bekerja bersama. Dirinya sudah merasa insecure melihat bentuk tubuh rekan kerjanya itu. Tapi Silma mencoba percaya diri. Sambil melangkah dengan percaya diri dia sengaja terlihat jutek. "Hei kau" panggil Silma.
Siwanita pun menengok kearah suara yang memanggilnya. Sebuah senyuman indah terpancar di wajah karyawan yang baru itu. "Selamat siang kak" sapa si karyawan baru.
"Ayo ikut denganku" Silma memberi kode menggunakan wajahnya. Si wanita pun mengekori di belakang. Tapi langkahnya terhenti karena sesuatu. Tapi rekan barunya tetap saja berjalan. "Lihat-lihat cara berjalannya saja sengaja di buat-buat dan sudah berani mendahuluiku" gerutu Silma yang tertinggal di belakang.
"Ah maaf kak" ucap si karyawan baru dengan suara lemah lembut. Silma menyilangkan kedua tangannya ke dada. "Hei kau gak sopan banget si mendahuluiku, aku ini senior mu" Silma sengaja terdengar galak.
"Uh terlihat jelas sok senioritasnya" keluh karyawan baru. Suaranya berhasil didengar oleh Silma. "Apa kau bilang"celetuk Silma sambil membelokkan badannya. Tangannya kini di berkacak pinggang. "Anda salah dengar kak" timpal si karyawan baru.
Silma menatapnya dengan tajam. Dan melanjutkan langkahnya. Sampai di lantai teratas Silma menunjukan berbagai ruangan yang ada disana. "Kamu lihatkan tulisan besar yang terpampang di pintu itu" tunjuk Silma pada ruang kerja Melvin. "Iya kak" jawab siwanita. "Itu ruangan kerja bos kita" sahut Silma terdiam sejenak. Matanya melihat dari atas sampai bawah.
"Besok-besok gunakanlah baju yang sesuai dengan ukuranmu. Jangan baju dan rok mini seperti ini, kamu tau kan sopan santun" kata Silma sembari memainkan bola matanya malas. "Baik kak" jawab si wanita.
__ADS_1
Silma membuka cv milik rekan barunya untuk melihat nama. "Sri Vasi" Silma tersenyum miring menertawakan nama rekan barunya. Menurutnya nama itu sedikit kampungan. "Nama panggilannya Vasi atau Sri nih" ungkap Silma.
"Panggil saya seenaknya kakak saja" Sri Vasi berkata dengan nada mengejek kembali. "Baiklah Sri" Silma tertawa kecil tanpa tau di pelototi oleh Vasi.
Silma kembali berdiri dan mengambil beberapa dokumen yang tertata rapih di sebuah lemari khusus. Dibawanya beberapa tumpuk berkas untuk di kerjakan oleh karyawan baru itu. "Nih pekerjaan untukmu. Dan meja kerja mu ada disini" Silma meletakkan di sebuah meja yang kosong. Meja tersebut tadinya milik Enzi yang dulu sebagai rekan kerjanya.
Vasi berjalan dengan santai menuju meja kerjanya yang baru. Disini dia menjabat sebagai sekretaris kedua alias asisten sekretaris yang membantu pekerjaan Silma.
"Kerjanya yang cepet jangan lelet" sindir Silma sembari membuka kertas yang ada di genggaman. Si karyawan baru hanya memandangnya.
Melvin keluar bersama dengan sang istri. Begitu melihat Melvin mata Vasi bersinar cerah bagaikan melihat malaikat yang turun dari kayangan. Dia begitu takjub melihat ketampanan bosnya itu.
Silma yang melihatnya segera menegur Vasi dengan sebuah ketukan dimeja. Vasi segera tersadar.
Sebenarnya dia risih dan malu dengan kelakuan Melvin yang merengkuh pinggangnya. Dari jauh Alfan memandangi sambil geleng-geleng kepala. Tingkah adiknya sudah mulai normal seperti biasa. Membuat Alfan sedikit lega.
"Perkenalkan ini pak Alfan asisten pribadinya pak bigboss" Silma menunjuk dengan sopan pada Alfan. "Selamat siang pak" sapa Vasi sambil tersenyum manis. Manisnya seperti gula. Tapi Alfan hanya merespon dengan anggukan kepala.
Menurut Vasi itu terlalu cuek. Tapi apalah daya dia hanya karyawan baru yang tidak bisa protes pada atasannya. Alfan tidak kalah tampan dari Melvin. Membuat Vasi ingin menggodanya. Mungkin kalau bisa berpacaran dengan seorang asisten pimpinan bisa membuat hidupnya mewah. Pikiran Vasi sibuk memikirkan atasannya yang tampan dan mapan itu.
__ADS_1
"Hei kau jangan pernah berpikir bisa memiliki salah satu diantara keduanya ya. Karena itu tidak mungkin terjadi" ocehan dari Silma membuyarkan otak Vasi. Sejak tadi memang Silma melihat gelagat aneh rekan barunya itu. Vasi hanya bisa tersenyum menanggapinya.
Dilain sisi Alfan mengejar jejak sang adik. Mungkin Melvin lupa bahwa sebentar lagi akan ada rapat penting.
Yaitu rapat akhir bulan. Yang harus didatangi oleh Melvin sendiri tanpa bisa di gantikan orang lain. Baru sampai di basement Alfan menghentikan laju mobil adiknya.
"Pak bos kau lupa bahwa akan ada meeting" celetuk Alfan sambil berkacak pinggang. Dinka melihat sang kakak dan menengok kesamping melihat suaminya. "Sayang sepertinya kamu sibuk. Aku pulang naik taksi saja" ucap Dinka.
Melvin mengangguk dan mengelus puncak kepala istrinya. "Maaf sayang aku lupa" Melvin mencium kening istrinya itu. Membuat Alfan memalingkan mukanya menghadap arah lain.
"Beraninya mereka mesra-mesraan di depanku" keluh Alfan berkata sendiri. "Huh jadi kangen Enzi" Alfan menghela nafasnya kasar. Dilihatnya arloji yang melingkar di tangan.
Melvin kembali memarkirkan mobilnya. Begitu turun dirinya mengantarkan Dinka mencari taksi. Seakan tak mau berpisah dari sang istri. Padahal setiap hari pun bertemu. Mereka bergandengan tangan sampai dilihat oleh orang sekeliling. Dinka merasa malu dengan tingkah suaminya.
"Sudah cukup kamu masuk sana. Aku pulang dulu" Dinka melepaskan genggaman tangan Melvin. "Makasih ya sudah bawain makan siang. Semenjak ada si kecil aku jadi kurang perhatian" keluhan Melvin seperti rengekan anak kecil yang minta diperhatikan.
Kini Vasi ikut menemani Silma untuk mengikuti meeting. Agar tau cara kerjanya. "Ingat kata saya ini ya. Saya paling tidak suka mengulang perkataan atau tindakan dua kali. Jadi kamu harus paham dengan apa yang saya ajarkan paham?" Silma bertanya memastikan.
Lagi-lagi Vasi terlihat bengong. Kini mereka berada didalam lift. Dan akan turun ke lantai bawah menuju ruang konferensi. "Hei kamu denger gak sih" Silma mulai kesal. Baru beberapa jam bekerja Vasi sudah sering terlihat asik dengan pikirannya.
__ADS_1
"Astaga Vasi" Silma sedikit berteriak karena Vasi tak kunjung sadar. Dirinya sampai penasaran apa yang membuat Vasi banyak berpikir.
Kali ini Vasi baru tersadar dengan bentakan dari Silma. Membuat Silma makin naik darah. "Heh sejak tadi kamu itu melamun terus" gerutu Silma. Lagi-lagi Vasi hanya tersenyum manis sambil meminta maaf.