Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
162. Salah mengira


__ADS_3

Melihat sang adik pergi entah kemana, Alfan pun mengejarnya dengan menggunakan taksi juga. "Pak ikuti taksi yang di depan, cepat ya" perintah Alfan sambil duduk di kursi penumpang. Setelah taksi yang di tumpangi Melvin berhenti. Alfan pun ikut turun dan berlari mengejar sang adik. "Melvin" panggil Alfan dengan suara yang keras.


Karena saking khawatirnya Melvin tak mendengar panggilan Alfan. Langkahnya berlari menuju ruang gawat darurat. Alfan tetap mengejar sang adik. "Sus apa ada yang datang barusan wanita hamil yang menjadi korban tabrak lari?" tanya Melvin. Susternya tercengang melihat ada seorang lelaki yang tampan didepannya. Sang suster terbengong sambil menatap Melvin. "Sus" Melvin melambai-lambaikan tangan di depan wajah suster itu.


"Oh itu ada mas sedang ditangani oleh dokter" si suster sadar dari lamunan. Melvin langsung saja berlari ketempat dimana dikiranya sang istri dirawat. Alfan pun mendapati sang adik berada di depan UGD. Melvin mondar mandir tidak jelas seperti setrikaan.


"Melvin kenapa kamu langsung kesini dulu tanpa menanyakan yang jelas" ucap Alfan. Melvin hanya menatap sang kakak tanpa menanggapinya. "Memang sudah jelas kalau itu istrimu?" tanya Alfan. "Aku gak tau kak, makanya aku mau mastiin sendiri wanita itu Dinka atau bukan. Tapi semoga saja bukan" sahut Melvin dengan nada yang cemas.


Keduanya menunggu cukup lama. Akhirnya sang dokter pun keluar dan menanyakan keluarga pasien. "Dimana keluarga pasien yang tadi?" tanya dokter pada susternya. "Mungkin itu dok" jawab sang suster menunjuk kearah kakak beradik. Dokter yang menangani pasien tadi itu pun menghampiri Melvin dan Alfan. "Yang mana suami dari pasien?" tanya dokter. Alfan mendorong Melvin kedepannya. "Ini dok" ucap Alfan. "Saya dok" ucap Melvin secara kompak dengan Alfan.


"Pasien tidak apa-apa namun bayinya harus di keluarkan terlebih dulu karena mengalami pendarahan. Jadi harus di lakukan operasi caesar. Walaupun usia kandungannya masih berumur delapan bulan. Saya membutuhkan persetujuan dari suaminya" jelas sang dokter. Melvin mengernyit, setau dirinya usia kandungan sang istri sudah sembilan bulan lebih. "Tapi usia kandungan istri saya sudah mendekati hpl dok" ungkap Melvin.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada seorang lelaki dan anak perempuan berlari menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan istri saya dok" tanya si lelaki yang membawa anak perempuannya. Melvin merasa sangat malu karena sudah salah orang. Tangannya menutupi wajah tampannya itu. Begitu pula dengan Alfan yang menunduk dengan cepat. Menyimpan wajahnya karena malu. "Kamu kenapa bisa teledor begitu sih" gerutu Alfan berkata dengan lirih.


"Aku panik banget tadi kak, yang pentingkan wanita itu bukan Dinka" jawab Melvin merasa lega. "Tapi keluyuran kemana istrimu" Alfan menjadi bingung. "Apa sudah ada kabar dari pihak keamanan kak?" tanya Melvin. "Ya mana kakak tau, ponsel kakak tertinggal di kantor" keluh Alfan. Karena saking cemasnya Melvin juga tidak membawa ponsel miliknya.


"Ya sudah kita kembali dulu ke kantor" saran Alfan. Mereka berdua akhirnya kembali ke kantor lagi. Sampai di kantor Melvin berjalan menuju ruang kerjanya. Dan berpapasan dengan orang yang bekerja di kantin perusahaan. Tapi tidak di hiraukannya. Orang tersebut membawa banyak makan yang dipesan oleh Dinka.


Alfan yang mengekori sang adik dari belakang merasa ada yang aneh melihat banyak orang kantin bisa menjangkau lantai teratas perusahaan. Karena pada dasarnya terdapat aturan yang tidak boleh sembarangan orang bisa ke lantai paling atas gedung itu. "Kalian ngapain ada disini?" tanya Alfan pada salah satu karyawan di kantin. "Ini pak mohon maaf kami hanya mengantarkan pesanan yang dipesan atas nama pak presdir. Karena pesanan yang banyak jadi saya membawa banyak orang kesini" ungkap si lelaki itu. "Iya tapi seharusnya minta izin dulu ke sekretaris presdir. Apa sudah di perbolehkan" sahut Alfan yang sedikit marah. "Maaf pak kami minta maaf, saya kira ini pesanan pak presdir sendiri" jawab si lelaki tadi.


Silma pun sudah selesai dengan aktivitasnya didalam toilet. Melihat banyak orang di depan meja kerjanya membuatnya terkejut. "Waduh ada apa nih" gerutu Silma. Melvin melihat sang sekretaris dari kejauhan. "Silma cepat kemari" panggil Melvin sedikit berteriak sambil berkacak pinggang. "Iya pak" jawab Silma dengan lemas. Karena dia bakal di marahi habis-habisan oleh bos tampannya itu. "Bisa gawat nih" gumam Silma dengan lirih sembari berlari kecil.


"Iya pak bos" Silma cengengesan tidak jelas. "Kamu ini dari tadi kemana saja, bisa ada orang masuk keruangan saya" bentak Melvin. "Anu pak maaf, tadi saya ke toilet untuk membuang hajat" Silma menunduk takut melihat raut wajah marah Melvin.

__ADS_1


"Kamu urus mereka" perintah Melvin pada Silma. "Ba..baik pak bos" jawab Silma dengan gagap. Melvin kembali masuk kedalam ruang kerjanya di buntuti oleh sang kakak.


Di lain tempat Dinka sedang asik berjalan-jalan di sekitaran kafe. "Wah banyak juga tempat makan di sini. Lain kali aku harus mengajak Melvin kesini" ucapnya sendiri. Setelah merasa puas berkeliling, Dinka pun kembali ke kantor suaminya. Dia tidak tau sudah seperti apa sang suami khawatir padanya.


Dinka melihat ada bunga kecil yang tumbuh diantara rerumputan di pinggiran jalan. Tangannya memetik bunga tersebut. Ada sebuah mobil berhenti tepat di depan Dinka. "Hai neng cantik" ucap si pengemudi mobil. Suara itu membuat Dinka tersentak kaget. "Wah kenapa kaget begitu neng, ini abang kok bukan orang jahat" sahut Ronald dengan santainya. "Kamu" ucap Dinka dengan sedikit amarah karena terkejut tadi. "Hehe kenapa neng ada disini?" tanya Ronald.


"Gak papa" jawab Dinka singkat. "Ayo neng biar abang antar ke kantor suaminya sekalian abang juga mau kesana" ajak Ronald. Dinka yang sedang merasa lelah karena berjalan, jadi dia mengiyakan ajakan dari Ronald. Dinka berjalan terlebih dahulu setelah mengucapkan terimakasih.


"Sayang" Melvin langsung memeluk Dinka. "Kamu kemana saja dari tadi, aku khawatir banget tau gak sama kamu" kata Melvin sambil mengelus pipi chuby Dinka. Melvin sangat senang melihat sang istri kembali ke kantor. "Aku jalan-jalan sebentar, karena bosen disini" sahut Dinka dengan entengnya.


"Kamu harusnya bilang dulu mau kemana biar aku gak panik nyariin kamu sayang" Melvin kembali memeluk sang istri. Dinka melepaskan pelukan Melvin dan berjalan ke arah ruang kerja suaminya.

__ADS_1


"Kayanya tadi aku sudah pesan banyak makanan. Kenapa gak ada satupun" Dinka berbicara sendiri. Melvin mendengarnya. "Jadi kamu yang pesan semua makanan tadi" sahut Melvin. "Iya" Dinka manggut-manggut dengan polosnya.


__ADS_2