Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Teman baru


__ADS_3

Mereka masuk kedalam kantin diikuti Bobby dibelakangnya. Kali ini karena Reta merasa kasihan dia mengizinkan Bobby bergabung bersama mereka. Mata Berta terbelalak melihat Bobby berjalan dibelakang Reta dan Dinka.


"Loh itu bukannya cowok keren yang gue lihat tadi pagi, kenapa kelihatan akrab sama dua wanita jalang itu!" gerutu Berta. Sinta dan Rani juga melihat kearah yang dimaksud temannya.


Sinta dan Rani mengakui ketampanan pemuda yang mengekori Dinka dan Reta. "Wah gak bisa di biarin nih, kenapa kebanyakan cowok yang dikenal mereka selalu ganteng dan kaya" gerutu Rani. "Ya mereka aja yang pinter ngegaet cowok-cowok itu" sahut Sinta.


Dinka duduk disebelah Reta. Bobby memesan makanan permintaan mereka berdua. "Nah ini pesanan kalian" Bobby meletakkan nampan di meja. "Mana bakmi pesenan gue" gerutu Reta. "Nanti juga diantar" ujar Bobby tersenyum.


Bobby memulai percakapan terlebih dahulu. "Nama kalian siapa?" tanya Bobby. "Gue Reta dia Dinka" jawab Reta. Kali ini nada bicaranya sudah tidak ketus dan keras. Bobby tersenyum lagi. Tidak ada hentinya dia mengumbar senyum manisnya.


Pesanan datang dan mereka mulai memakannya. "Loe baru dikampus ini?" tanya Reta. "Iya gue pindahan dari Malaysia" jawab Bobby.


"Temen loe ini kenapa dari tadi diem terus apa emang dia pendiam orangnya?" tanya Bobby penasaran. Sedari tadi Dinka tidak membuka mulutnya. Reta menahan tawa. "Dia emang gak terbiasa ngomong sama orang asing" ungkap Reta. Ujung mata Dinka melirik ke Reta.


"Oh begitu ya" sahut Bobby. Mereka terlihat cepat akrab. Karena Bobby cepat berinteraksi dengan orang lain.


Dikantor Serin membawakan makanan untuk Melvin. Kedatangannya bukan untuk bertemu Alfan tapi dia ingin bertemu Melvin.


Suara bunyi sepatu heels terdengar. Kedua sekretaris Melvin serentak melihat kearah Serin. "Siapa tuh?" tanya Silma. Rekan kerjanya disamping mengangkat bahunya. "Badannya indah seperti model" jawab Enzi sekretaris yang satunya. Serin menghampiri meja sekretaris.

__ADS_1


"Apa Melvin ada didalam?" tanya Serin. "Maaf anda siapa?" tanya Silma. "Bilang saja bahwa Serin ingin bertemu" jelas Serin. Silma mengangguk dan berjalan kedalam ruang kerja bosnya.


Silma mengetok pintu ruang kerja bosnya. "Masuk" ucap Melvin sambil melihat berkas. Silma masuk kedalam ruang kerja Melvin. Dia terpesona melihat dada bidang Melvin yang terpampang. Karena jarang sekali Melvin membuka kancing kemejanya sampai tiga kancing kebawah.


Silma menelan ludahnya. "Ada apa?" suara berat dari Melvin membangunkan lamunan Silma. "Ada yang ingin bertemu anda pak namanya Serin" ungkap Silma. "Suruh masuk" jawab Melvin. Silma keluar dari ruang kerja Melvin.


Melvin mengancingkan kemejanya kembali. Sebelumnya dia membuka kancing kemejanya karena merasa badannya panas mengingat wajah Dinka ketika berada dibawah tubuhnya.


Serin masuk setelah dipersilahkan dan berdiri di depan meja kerja Melvin. "Hai vin" sapa Serin. Melvin berdiri dari kursi dan mendekati Serin. "Boleh aku memeluk mu" ucap Serin. Melvin mengangguk dan menjulurkan tangannya sebagai tanda minta dipeluk.


"Aku sudah ingin memeluk tubuh hangat mu ini dari lama, namun aku tidak berani melakukannya didepan kak Alfan dan yang lainnya" ungkap Serin sambil memeluk Melvin.


"Apa yang kau bawa itu" Melvin melepaskan pelukannya. "Makanan kesukaanmu" ujar Serin. Mereka duduk disofa. Serin membuka kotak makan yang dibawanya.


Kedua sekretaris Melvin sibuk bergosip dan menguraikan penilaian mereka terhadap wanita yang mencari Melvin secara pribadi. "Menurut mu cantik yang mana wanita ini dengan istrinya pak Melvin?" tanya Enzi. "Kalo menurutku dua-duanya cantik. Kalo wanita yang tadi body nya bagus. Dan untuk istrinya pak Melvin terlihat unyu seperti anak kecil" ungkap Silma.


"Menurut kamu siapa yang disukai pak Melvin?" tanya Enzi. Mereka malah bermain tebak-tebakan. "Kamu mau ngajak aku main tebak-tebakan? baiklah asalkan ada hadiahnya" sahut Silma.


"Kalo menurutku dari perlakuan pak Melvin ke istrinya waktu itu lumayan kasar deh, kalo cinta kan gak mungkin berbuat kasar. Pasti wanita yang ini tebakanku" Silma menjentikkan jarinya. "Sama" sahut Enzi.

__ADS_1


Serin mendengar perkataan dua sekretaris itu. Karena suara mereka bergosip cukup keras. Dia tersenyum puas. 'Belum juga mulai perang ternyata Melvin sudah memperlakukan istrinya dengan buruk' batin Serin.


Dia berjalan ke ruang pantry kantor. Dua sekretaris tersenyum memberi salam. "Apa dia denger ucapan kita" ucap Silma lirih. Enzi hanya menggeleng tidak tau.


+++


Malam hari Dinka mampir keasrama Reta untuk mengerjakan tugas bersama. Dia sudah mengirimkan pesan singkat pada suami. Tapi Melvin tidak membalasnya.


"Aku takut nih kak Melvin akan marah karena sms ku gak di balas" keluh Dinka. "Loe tenang aja kalo dia marah bilang aja ke gue" Reta mengangkat kedua alisnya.


"Sebaiknya selesaikan dulu nih otak gue udah mau meledak saking pusingnya" gerutu Reta. Dinka mendesah. "Sejak dari tadi emang aku aja kan yang ngerjain" keluh Dinka sambil melirik Reta. "Hehe udah lanjutin" ujar Reta cengengesan.


Dinka pulang naik taksi karena tidak dijemput oleh sopir Melvin. Hujan turun dengan deras. Baju Dinka basah karena dia turun didepan gerbang utama. Memang kendaraan lain selain mobil pribadi tidak boleh masuk kedalam.


Jarak gerbang utama ke rumah lumayan jauh bila berjalan kaki. Nafas Dinka tersengal karena berlari. Dia masuk kedalam rumah lewat pintu belakang.


Bi Nah melihat majikannya basah kuyup. "Astaga nona kenapa bisa basah kuyup? Sebentar bibi ambilkan handuk". Dinka tersenyum seraya mengucapkan terimakasih.


Pelayan kembarnya juga ikut mengusap baju Dinka dengan handuk. "Nona harus segera mandi bila tidak bisa sakit" bujuk Alini. "Baiklah" ucap Dinka.

__ADS_1


Dia melepaskan bajunya yang basah dan memakai jubah handuk kedalam kamar. Langkah kakinya berjalan perlahan. Berharap Melvin tidak melihatnya disituasi seperti itu.


Dinka membuka pintu kamar dengan hati-hati. Dia memasukan kepalanya masuk terlebih dulu. Pandangannya melihat ke sekitar kamar tidak menemukan sang suami dikamar. Dia langsung masuk dan berlari kedalam kamar mandi.


__ADS_2