Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
90. Hari pertama liburan


__ADS_3

Pagi itu Dinka dan Melvin sudah berada di bandara untuk pergi ke hongkong. Dinka memasang muka masam. "Sayang kita mau berlibur tapi kenapa dengan wajah mu?" tanya Melvin. Dinka diam membisu tak menjawab suaminya.


Melvin menghela nafasnya kasar. Kemarin Dinka mau diajaknya untuk mengobrol namun kini diam lagi. Mereka berdua memasuki pesawat. Dengan hati-hati Melvin menuntun sang istri masuk. Tangan Dinka digenggam erat olehnya. Supaya Dinka tidak bisa melepaskan begitu saja.


Dinka tidur selama perjalanan. Kepalanya menyender ke kursi penumpang. Melvin membenarkan posisi tidur Dinka agar kepala sang istri bersender pada bahunya. Diusap dengan lembut rambut Dinka.


Melvin membuka laptopnya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk. Selama di singapura dirinya sama sekali tidak mengurusi pekerjaannya. Fokusnya terpecah antara keadaan ibunda dan istrinya.


Perjalanan dengan menggunakan pesawat memakan waktu sampai empat jam. Setibanya di negara tujuan mereka berdua langsung ke sebuah hotel.


Melvin pun mengajak Dinka makan siang terlebih dulu. Dia sengaja mengajak sang istri mengunjungi restoran yang pastinya halal. Karena pasti sang istri akan marah-marah bila diajak ke restoran yang makanannya aneh.


Setelah makan siang Dinka langsung masuk kedalam kamar hotel dan mengambil posisi senyaman mungkin. "Siang ini kita istirahat dulu ya, baru nanti malam kita pergi jalan-jalan" ucap Melvin.


Dinka hanya berdehem menjawab ucapan suami. Melvin pun ikut merebahkan tubuhnya disamping sang istri. Muncul sebuah ide untuk mengerjai sang suami. Apakah Melvin akan sabar atau tidak menuruti kemauannya.


"Mau eskrim" ucap Dinka tanpa menghadap Melvin. Dengan cepat Melvin pun mencarikan eskrim untuk istrinya. Setelah membeli eskrim Melvin memberikannya pada Dinka. "Kenapa cuma satu mau dua" ucap Dinka sedikit keras.


Tanpa berkata apapun Melvin kembali turun kelantai bawah dan membelikan eskrim lagi. "Mau yang coklat bukan vanila" ucap Dinka tegas. Terpaksa Melvin mengangguk dan kembali membelikan eskrim.


Tidak tau sudah yang keberapa kalinya Melvin memasuki minimarket disekitaran hotel. Kakinya pun pegal karena bolak balik berjalan. "Nih" Melvin memberikan kantong berisi berbagai macam rasa dan varian eskrim agar dirinya tidak di suruh balik lagi.

__ADS_1


Dinka membukanya dengan menaruh di ranjang tidur. "Jangan disitu sayang basah" nasehat Melvin. Hanya rasa yang banyak coklatnya yang dipilih Dinka. Padahal masih tersisa lima eskrim.


"Mau buah" ucap Dinka sembari mengusap bibirnya dengan tisu. Belum lama Melvin duduk. Kini sang istri sudah menyuruhnya lagi. Melvin menghubungi pihak hotel untuk membawakannya buah.


Namun Dinka tidak kekurangan cara agar bisa mengerjai suaminya habis-habisan. Pintu kamar hotel diketuk. Seorang pelayan mengantarkan buah-buahan yang segar.


Dinka hanya mengambil satu buah jeruk. "Kenapa hanya jeruknya saja yang dimakan?" tanya Melvin. "Terserah aku dong" jawab Dinka. Melvin meluruskan kakinya di sofa sambil meneruskan pekerjaannya.


"Mau burger sama pizza" ucap Dinka. Kali ini permintaan itu diucapkannya dengan tersenyum manis. Melvin menghela nafasnya. "Sayang kamu kan ngelihat aku lagi kerja" ucap Melvin dengan halus.


Dinka memanyunkan bibirnya. "Baiklah-baiklah, tunggu sebentar ya tuan putri" Melvin pun akhirnya mengalah dan kembali turun kelantai bawah.


Setelah mendapatkan keinginan sang istri Melvin kembali ke kamar hotel. Sang istri tertidur. Melvin meletakkannya di meja dan melanjutkan kembali aktivitasnya.


Acara yang ditunggu banyak orang pun dimulai. Ada pertunjukan lampu yang biasa dinamakan symphony of lights. Dalam sekejap mata Dinka dimanjakan oleh atraksi lampu yang menyala dengan indah.


Melvin tersenyum bahagia melihat raut wajah sang istri yang terlihat senang. Mungkin liburan kali ini akan berhasil membuat hati Dinka kembali luluh dan memaafkannya.


Melvin memanfaatkan situasi untuk memeluk Dinka dari belakang. Dinka menikmati pertunjukan lampu itu. Tangan Melvin mengelus perut Dinka sambil memeluknya. Pertunjukan lampunya selesai Dinka segera melepaskan tangan sang suami.


"Ya kok cuma sebentar" gerutu Dinka. "Pertunjukan lampunya memang cuma sepuluh menit saja sayang" sahut Melvin.

__ADS_1


Semenjak dirinya marah Melvin jadi sering memanggilnya dengan sebutan sayang. "Aku bosen denger kamu manggil aku sayang terus" keluh Dinka. Melvin pun mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa menjawab Dinka.


Puas berjalan-jalan Melvin mengajak sang istri untuk kembali ke hotel. "Cape tidak?" tanya Melvin. Dinka hanya mengangguk. Sebenarnya malam ini dia ingin meminta haknya pada Dinka. Tapi karena sang istri lelah niatnya itu diurungkan.


Dini hari Dinka terbangun karena lapar. Tangannya menggerakkan tubuh Melvin. "Vin laper" kata Dinka. Dinka kembali menggoyangkan tubuh Melvin dan berkata "vin aku laper". Tak kunjung bangun juga Dinka menggigit tangan Melvin.


Sontak Melvin terbangun dan menarik tangannya. "Astaga sayang kenapa kamu gigit tanganku" Melvin meniup tangannya yang di gigit.


"Kamu gak bangun-bangun dari tadi" gerutu Dinka. Melvin mengambil ponselnya untuk melihat jam. "Kenapa jam segini bangunin aku?" tanya Melvin.


Dinka mengelus perut buncitnya. Melvin mengira istrinya ingin di usap-usap perutnya. Tangan kekar Melvin pun mengusap dengan pelan. Dinka menyingkirkan tangan sang suami dari perutnya. "Laper" ucap Dinka dengan tegas.


"Bilang dong dari tadi" keluh Melvin. Setelah memesan makanan yang di minta Dinka, Melvin melanjutkan tidurnya kembali. Dengan lahapnya Dinka memakan makanan sampai habis.


Dinka kembali membangunkan suaminya. "Vin bangun pengen siomay" ucap Dinka. Kali ini dia benar-benar ingin memakan siomay langganannya saat berada di tanah air.


"Mana ada disini siomay sayang. Kamu tuh aneh-aneh aja deh" keluh Melvin. Ucapannya lebih dihaluskan lagi takut sang istri akan ngambek.


"Kan anak mu yang pengen bukan aku" gerutu Dinka. "Baiklah makan siomaynya kalau kita sudah pulang ya" nasehat Melvin di acuhkan oleh Dinka.


"Aku mau makan sekarang vin" Dinka berkata dengan manja. Ucapan manja dari sang istri membuatnya tersenyum. Melvin mengelus perut Dinka sambil berkata "anak ku sayang pengennya ditunda dulu ya".

__ADS_1


Dinka merasakan sedikit tendangan dari si kecil. Mungkin bayinya tau sedang diajak bicara oleh ayahnya.


__ADS_2