Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Nasib Menjadi Bayangan


__ADS_3

Disebuah gedung tinggi yang bertuliskan XnT Group. Disana terdapat berbagai macam orang yang mengabdikan hidup untuk bekerja di perusahaan milik keluarga Tama. Begitu juga Alfan yang berada di ruangan presdir. Dia dimarah oleh ayah angkatnya. Arya tau disaat malam penutupan ospek Melvin membawa pulang seorang wanita. Namun Arya tidak tau alasannya mengapa. Karena dia tidak butuh alasan.


Apa yang dilakukan anak kandungnya itu salah. Arya menendang betis Alfan. Yang ditendang sama sekali tidak berkutik. Hanya bisa menahan rasa sakit. Alfan menggigit bibirnya. Arya kemudian menampar wajah Alfan dengan keras. Kemarahannya meluap karena Alfan tidak memberi jawaban pertanyaannya.


Melvin masuk keruang kerja ayahnya. Setelah mendengar Alfan berada di ruang kerja ayahnya. Benar dugaan Melvin pasti Alfan sedang diinterogasi. Dia mendapati Alfan sudah berdarah di pinggir bibirnya. Arya kini mengarahkan bogemnya kembali pada Alfan. Dia tersungkur jatuh kebawah.


"Ayah cukup" teriak Melvin mendekati abangnya. Memegang pipi Alfan dengan kedua tangannya. "Bagus kamu disini, jelaskan siapa wanita itu?" Arya meminta penjelasan pada anak kandungnya. Melvin masih diam. Dia panik melihat luka wajah Alfan. "Kenapa ayah memukul Alfan, aku yang salah" teriak Melvin.


Arya menyeringai "dia memang tidak salah tapi dia yang harus menanggung kesalahan mu". Melvin kembali berteriak "Ayah". Alfan meraih tangan Melvin yang sudah terkepal. Dia menggeleng kepala pada Melvin. Sepertinya Melvin akan memprotes perbuatan ayahnya pada Alfan.


Ketika Melvin yang membuat kesalahan selalu Alfan yang terkena imbasnya. Jalinan kasih sayang mereka cukup kuat. Melvin tidak suka ketika Alfan dipukul oleh ayahnya.


Melvin membawa Alfan pergi. Namun Alfan tidak mau beranjak dari sana. Sampai akhirnya Melvin pun menarik paksa Alfan untuk keluar dari kantor ayahnya.


Melvin melemparkan sebuah kantong berisi es batu pada Alfan. "Tempelkan ke muka biar tidak bengkak" bujuk Melvin. Alfan tertawa melihat wajah Melvin yang aneh. "Kenapa malah tertawa, kamu pikir itu lucu" Melvin duduk disebelah Alfan.

__ADS_1


"Lain kali jawab saja pertanyaan ayah, kenapa juga harus babak belur seperti itu" sambung Melvin. Alfan menempelkan sekantong esbatu diwajahnya. "Aku hanya tidak mau menambah masalah" jelas Alfan.


"Kak" bentak Melvin. Alfan kembali tertawa. Jarang-jarang adik angkatnya ini memanggilnya dengan sebutan yang pas. "Kenapa?" Alfan menanggapinya dengan tersenyum. Melvinpun juga ikut tersenyum.


+++


Reta menguap sangat lebar. Dia sedang menunggu Dinka yang membeli makanan. "Lama banget sih beli makan doang" gerutunya pada diri sendiri. Reta menghubungi Dinka tapi ponselnya tertinggal. Lelah menunggu Reta pun tertidur.


Dinka masuk kedalam kamar mendapati Reta tertidur nyenyak. Sampai bibirnya terbuka. Dia membuka makanan agar baunya tercium oleh Reta. Itu cara yang cukup ampuh untuk membangun seseorang tanpa suara.


Benar dugaannya Reta terbangun mengerjapkan matanya mencari asal bau. "Emmmhh" gumam Reta membuka mata. Dia langsung berpindah tempat ke meja yang berisi makanan. Dinka menahan tangan Reta. "Cuci muka dulu baru makan" ucap Dinka tersenyum. Reta memanyunkan bibirnya. Masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Dinka mendekati temannya. Melihat kearah ponsel yang dimainkannya. Rupanya Reta sedang asik chating dengan pacarnya mungkin. "Reta" panggil Dinka. Reta menoleh kesampingnya "apa?".


"Besok temenin beli laptop ya" ajak Dinka. Reta manggut-manggut sambil tangannya mengetik dengan cepat. Dinka hanya geleng-geleng melihatnya.

__ADS_1


+++


Pagi itu Melvin menuju ke Universitas Kusuma untuk menemui adiknya. Melvin mengenakan setelah jas berwarna biru tua namun tidak berdasi. Bersandar pada mobil mewahnya. Tangannya dimasukkan pada saku celana. Didepan kampus banyak orang yang melihat kearahnya. Terpesona melihat ketampanan Melvin. Terutama para mahasiswi. Walau banyak yang melihatnya namun dia tetap cuek. Melvin mulai risih menjadi bahan pandangan buas para wanita.


Di kejauhan Reta berlari mendekat. "Mana?" Reta mengangkat tangannya meminta sesuatu. Melvin mengambil dompet miliknya. Menyerahkan kartu kredit pada Reta. "Makanya kalau mau kabur stok uang dulu yang banyak, biar gak bikin repot kakak" gerutunya.


Reta memanyunkan bibirnya. "Kalo gak ikhlas ngomong aja" celetuk Reta dengan nada yang tinggi. Melvin hanya menatap tajam pada adiknya angkatnya. "Ya sudah aku masuk dulu ke kelas" ucap Reta menyalami tangan kakaknya. "Hus hus hus" usir Reta sambil tersenyum puas. Melvin masuk ke mobil dan melajukannya.


Di sekitar mereka banyak mahasiswi yang mulai bergosip. Mereka membicarakan tentang Reta. "Sepertinya dia pacarnya deh" ungkap salah satu wanita. "Mungkin saja" jawab yang lainnya. Dinka mendekati Reta yang juga berjalan kearahnya. "Habis ketemu siapa?" tanya Dinka. "Ketemu sama atm berjalan gue" jawab Reta bangga.


Dinka hanya menggelengkan kepalanya. "Ayo masuk" ajak Reta menggandeng lengan Dinka. Di dalam kelas mahasiswi yang lain juga berbisik membicarakan Reta. Namun dia tetap cuek. Dinka menengok ke setiap orang yang melihat mereka dengan tatapan sinis.


"Reta mereka itu kenapa sih?" tanya Dinka masih melihat kesegala arah. "Biarin aja" tandas Reta. Tidak lama dosen pun datang dan pelajaran dimulai.


Seusai jam kuliah Dinka dan Reta menyambangi toko elektronik. Mereka sudah mendatangi beberapa toko untuk melihat-lihat. Dinka juga bertanya harga laptop disana. Reta menyarankan untuk membeli laptop dengan logo apel digigit sebelah. Itu merek yang terkenal. Namun Dinka hanya geleng kepala karena uangnya tidak akan cukup.

__ADS_1


Reta membeli dua laptop dengan merk yang sama namun beda warna. Dia menyerahkan satunya untuk Dinka. "Nih, dari pada bingung nyari lagi" Reta mengarahkan tas berisi laptop pada Dinka. "Enggak deh" ucap Dinka menolak. Reta memaksa Dinka untuk menerima. "Kaki gue udah pegel muter-muter nyari laptop, nih pegang deh" Reta kembali memberikan tas yang di pegangnya.


Dinka menerima laptop pemberian dari teman sekamarnya. Dia berjanji akan mengganti uang laptop tersebut. "Loe santai aja lagian duit yang gue pake bukan punya gue kok" Reta tersenyum memberi penjelasan. "Maksudnya?" tanya Dinka. Reta hanya menatap jengah pada Dinka. Dia menarik Dinka masuk kedalam restoran mewah.


__ADS_2