
Melvin merasa sangat kecewa karena telah dibohongi oleh Serin. Sungguh dirinya telah berhasil dimanfaatkan oleh Serin.
Wajah tampannya lebam dan terluka karena bogeman sang ayah. Melvin masih terduduk diruang kerja sang ayah. Sedangkan Arya sudah kembali kerumah sakit lagi tanpa bicara sepatah kata pun pada Melvin.
Sepanjang perjalanan kerumah sakit Arya diam membisu. Memikirkan bahwa perbuatan anak kandungnya memang salah. Tapi dibalik semua itu Melvin lakukan demi seorang anak yang telah diasuhnya. Yaitu demi Alfan. Walaupun bukan kakak kandung ikatan persaudaraan mereka cukup kental bagaikan darah.
Arya sedikit merasa bersalah sudah menghajar Melvin. Tapi itu berhak Melvin dapatkan karena Melvin sudah menyiksa Dinka. Kini Arya tau betapa miripnya sifat Melvin dengannya. Keras kepala dan egois itu sifat yang paling menonjol.
Paman Jay melihat kebelakang lewat kaca spion. "Apakah tuan baik-baik saja?" tanya paman Jay. Arya mengangguk sembari berkata "hem".
"Sebaiknya kita jangan pergi kerumah sakit dulu tuan kalo sampai nyonya melihat wajah tuan yang sekarang bisa-bisa menimbulkan kecurigaan" bujuk paman Jay.
"Baiklah kita cari tempat makan terlebih dulu baru ke toko bunga ya, aku ingin membelikan bunga untuk Sarah" pinta Arya. Paman Jay tersenyum sambil memandang lewat kaca spion.
"Kamu ini kenapa tersenyum padaku Jay?" tanya Arya. "Tidak apa-apa tuan hanya saja saya melihat bahwa tuan muda itu sangat mirip dengan anda" ungkap paman Jay. Arya mengalihkan pandangannya melihat keluar kaca mobil.
Arya datang dengan membawa sebuket bunga mawar putih. Sang istri memang sangat menyukai mawar putih. Buket bunga tersebut di ambil langsung oleh Reta. "Wah romantisnya ayah bawa bunga buat bunda" ledek Reta sambil tersenyum. Dinka pun ikut tersenyum.
Tiba-tiba melintas dipikirannya teringat sang suami. Selama jadi istri Melvin sama sekali dirinya tidak pernah diberikan bunga sekalipun.
Dinka langsung menggelengkan kepalanya agar Melvin pergi dari pikirannya. "Loe kenapa ka?" tanya Reta. "Gak papa" jawab Dinka.
__ADS_1
Arya mengajak Dinka untuk bicara ditaman rumah sakit. Semua yang di jelaskan oleh Melvin diceritakan pada Dinka. "Ayah tau Melvin sudah banyak membuat kamu menderita, tapi ayah tau rasa cintanya sama kamu itu bener-benar tulus" ungkap Arya. Dinka masih terdiam.
"Ayah tidak akan memaksakan kamu untuk memaafkan Melvin, itu semua kembali sama kamu sendiri. Ayah tau kamu juga butuh waktu untuk menenangkan pikiran mu. Tapi ayah harap jangan terlalu lama marah pada suami kasian dia." nasehat Arya diangguki oleh Dinka.
"Dan pastinya ayah sudah menghukum Melvin dengan memukulnya biar dia jera" ujar Arya sambil tersenyum. Dinka pun ikut tersenyum.
Dirumah, Melvin mengobati sendiri lukanya diwajah. Alfan yang baru bangun tidur menghampirinya. Dia terkejut melihat wajah Melvin terluka. "Vin astaga, ayah mukulin kamu?" tanya Alfan. Dengan cepat Alfan merebut kain yang sedang digunakan untuk mengompres pipi Melvin.
"Sini biar kakak aja" Alfan menempelkan secara pelan-pelan kain pada pipi sang adik. "Apa sakit?" tanya Alfan.
"Kakak masih tanya ini sakit apa enggak? Ya jelas sakit lah" keluh Melvin. "Iya maaf sensitif amat" sahut Alfan.
Sampainya dirumah sakit Melvin melihat Dinka dan Reta berada kantin. Langkah kaki Melvin menghampiri keduanya. "Noh suami dateng" ucap Reta sambil menunjuk dengan dagunya.
Dinka tidak menengok kebelakang. Tangan Melvin mengelus rambut istrinya. Namun Dinka tidak meresponnya. "Kalian disini" ucap Melvin. "Iya kita cari makan karena kakak ipar mengeluh laper mulu dari tadi, nih aja udah abis dua porsi" ungkap Reta sambil mengaduk makanannya. "Apaan sih" gerutu Dinka.
"Lah muka kak Melvin kenapa jadi gitu?" tanya Reta penasaran. Reta bangkit dari duduknya untuk memegang pipi dan bibir Melvin. "Apaan sih sakit tau" gerutu Melvin. Dinka sontak ikut melihat kearah suaminya. "Hehe maaf kak" ucap Reta cengengesan.
"Sayang udah waktunya kamu periksa kandungan kan, ayo pumpung kita dirumah sakit jadi sekalian aja" ajak Melvin. Dinka berdiri dari kursinya dan melangkah pergi diikuti langkah suaminya. Melvin mencoba memegang tangan Dinka namun dikibaskan.
Reta melihat situasi yang tidak mengenakan itu. Dinka juga belum cerita apapun pada dirinya menyangkut apa yang dirasakannya. Tapi Reta sudah tau semuanya. Mungkin waktu itu bila dia tidak menguping percakapan antara sang ayah dan kakak nya sama sekali tidak akan tau.
__ADS_1
"Gue jadi kasian sama Dinka" kata Reta pada diri sendiri. Melvin menemani sang istri periksa kehamilannya. Dokter mengatakan janinnya tumbuh sehat dan kuat. Bulan ini kandungan Dinka memasuki tahap ke lima bulan.
Tendangan dari sang bayi belum begitu jelas namun kata dokter sangat aktif. Jenis kelaminnya pun belum terpampang jelas. Setelah memeriksakan kandungannya Melvin mengajak Dinka untuk pulang. Karena lelah Dinka tertidur didalam mobil.
Melvin menggendong sang istri masuk kedalam kamar. Direbahkan tubuhnya dengan perlahan. Dinka langsung mengambil posisi tidur miring kekiri untuk menghindari tatapan suaminya.
Melvin segera keluar dari kamarnya. Dia tau Dinka masih marah padanya. Karena merasa badannya sedikit pegal Melvin merebahkan tubuhnya diatas sofa diruang keluarga. Alfan melihat sang adik melamun. "Vin" panggil Alfan sembari mendekati Melvin.
"Apa yang dilamunin?" tanya Alfan. Melvin menggelengkan kepala. "Kak Alfan mau kemana?" tanya Melvin balik.
"Mau kerumah sakit" jawab Alfan. "Bawa pulang Reta sekalian kak tadi aku gak sempet masuk keruang rawat bunda, karena memeriksakan kandungannya Dinka" jelas Melvin. Alfan pun beranjak pergi.
Melvin asik melamun sampai tertidur. Pak Mimin melihat anak majikannya tertidur diatas sofa. "Tuan muda bangun" pak Mimin menepuk dada bidang Melvin. "Tuan muda" ucapnya lagi. Melvin pun terbangun dari tidurnya.
"Tuan muda kenapa tidur disini, sebaiknya pindah saja kekamar" bujuk pak Mimin. Melvin melihat jam tangan yang membulat di tangannya. Waktu hampir menunjukan pukul tengah malam.
"Pak Mimin kenapa belum tidur?" tanya Melvin. "Belum ngantuk tuan" jawabnya. Melvin sedikit merasakan lapar karena sedari siang hari belum makan apapun. Bagaimana mau berselera makan otaknya masih kacau memikirkan hubungannya dengan Dinka.
"Apa pelayan yang lain sudah pada tidur pak?" tanya Melvin. "Sudah tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Mimin. Melvin tersenyum sambil berkata "bisa buatkan makanan gak pak laper nih".
Dengan cepat pak Mimin menghangatkan makanan untuk dimakan sang majikan.
__ADS_1