Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Debaran Hati


__ADS_3

Dinka berdendang ria didalam kamar mandi. Setelah puas dengan berendam air hangat dia membilas tubuhnya. Terdengar suara pintu dibuka. Dinka terperanjak melihat suaminya sudah berdiri dibelakangnya.


"Kak Melvin" ucap Dinka menutup anggota tubuhnya dengan handuk. Melvin hanya terdiam dia mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar mandi. Dinka melanjutkan mandinya kembali.


Wajah Melvin terlihat serius menatap ke layar laptop di pangkuannya. Kini dia melanjutkan pekerjaannya di dalam kamar. Dinka menatap sepintas wajah dingin suaminya. Dan berjalan masuk ke ruang sebelah kamar untuk memakai baju.


Melvin mengikuti istrinya. Tubuhnya bersender di tembok sambil menyilangkan kedua tangan ke dadanya. Dinka sontak langsung menutup tubuhnya kembali dengan handuk. "Kenapa tidak menginap?" tanya Melvin. Suara itu terdengar seperti sebuah ancaman bahwa dirinya tidak akan selamat.


"Em...itu...aa..aku" Dinka tergagap. Jantung Dinka berdebar tidak karuan. Melvin berjalan mendekat. Tangannya perlahan membuka handuk yang melilit dibadan sang istri. Dinka menatap wajah Melvin pipinya sudah mulai merah karena malu.


Melvin mencium bibir ranum istrinya. Mendorong tubuh Dinka dengan perlahan ke atas ranjang. Dia meninggalkan tato merah di sekujur tubuh istrinya. Dinka kelelahan setelah melayani sang suami. "Kenapa Melvin melakukannya dengan lembut tidak seperti biasa" gumam Dinka lirih. Matanya menatap kearah sang suami yang duduk disofa.


Melvin melanjutkan kembali berkutat dengan laptopnya. "Kalau kamu terus saja menatap ku seperti itu...malam ini kamu tidak akan selamat" ucap Melvin tanpa melihat Dinka.


Dinka langsung membuang pandangannya kearah lain. Dia berdehem. Lagi-lagi pipinya bersemu merah. Debaran dijantungnya bertambah cepat. Dia membaringkan tubuhnya dan terlelap.


Melihat Dinka sudah tertidur Melvin baru naik keatas ranjang dan tidur disebelah istrinya. Cahaya redup dari lampu tidur membuat wajah Dinka tidak terlihat jelas. Melvin mengusap pipi istrinya yang sedikit cubby.

__ADS_1


Pagipun datang Dinka terbangun dari tidurnya. Terdengar suara desiran air yang mengalir dikamar mandi. Dinka tersadar belum memakai baju sejak semalam. Dia langsung berlari ke ruang sebelah kamarnya.


Melvin sudah rapih dengan setelan jas berwarna putih. Terlihat lebih tampan bila memakai jas berwarna putih dipadukan dengan dasi berwarna merah bergaris.


Melvin berangkat lebih dulu tanpa menunggu istrinya. "Aduh ditinggal lagi" keluh Dinka. Dia melihat dari balkon kamarnya. Terlihat iring-iringan mobil.


Langkah kaki Dinka menuruni anak tangga dengan cepat. Pak Iwan sudah berdiri disamping mobil dan membukakan pintu untuk majikannya. "Silahkan nona" ucap pak Iwan. "Lah bukannya bapak mengantarkan Melvin?" tanya Dinka heran.


"Hari ini saya ditugaskan untuk mengantar nona, karena tuan Melvin sudah berangkat bersama tuan Alfan diantar oleh pengawal mereka" jelas pak Iwan.


'Apa mereka akan ke sebuah pertemuan penting tumben Melvin dan Alfan bawa pegawal' batin Dinka. Dia masuk kedalam mobil. Karena penasaran Dinka bertanya pada pak Iwan.


Pak Iwan tersenyum. "Nona tenang saja kalau mereka membawa pengawal pasti aman" ucap pak Iwan sambil menatap ke kaca spion. "Apa mereka membawa banyak pengawal pak?" tanya Dinka lagi.


"Lumayan non sekitar 15 orang" sahut pak Iwan. Wajah Dinka masih terlihat ingin bertanya dan pak Iwan tau itu. "Apakah masih ada yang mengganjal di pikiran nona?" tanya pak Iwan.


"Em.. kenapa keluarga ini sangat suka membawa pengawal kalau ke acara atau perayaan gitu pak?" tanya Dinka penasaran. Pak Iwan kembali menatap ke arah kaca spion dan mulai menjelaskan. "Dulu sewaktu tuan muda masih kecil dia pernah dibawa oleh tuan besar kesebuah acara resmi perusahaan, dan di acara tersebut tuan Melvin kecil diculik oleh wanita gila"

__ADS_1


"Lalu?" tanya Dinka. "Semenjak itu tuan memperkerjakan beberapa pengawal, tapi belum banyak seperti sekarang. Beberapa tahun lalu tuan Alfan dan tuan Melvin diserang oleh sekelompok preman. Mereka disuruh oleh orang yang dendam pada tuan besar karena perusahaannya dibuat bangkrut non" jelas pak Iwan.


Dinka tersadar betapa rumitnya kehidupan keluarga konglomerat itu. Tidak seperti kehidupannya yang damai dan tenang sebelum bertemu dengan keluarga mertua. Dinka menghela nafas beratnya. Mengingat betapa tidak beruntungnya dia sekarang.


Tidak terasa mobil sudah sampai. Pak Iwan membukakan pintu mobil. Dinka masih asik dengan lamunannya. "Nona" suara pak Iwan membuat Dinka tersadar. "Sudah sampai ya pak" Dinka turun dari mobil.


Dia berjalan kedalam kampusnya. Dari kejauhan terlihat Reta merangkul pundak Bobby. Alis Dinka menyatu terheran melihat keakraban Reta dan Bobby. "Kalian terlihat sangat akrab" Dinka mengampiri keduanya.


"Iya dia akan jadi kacung kita sekarang karena dia akan melayani kita sebagai tuan putri" ucap Reta antusias. Bobby mengangguk membenarkan ucapan Reta. Mereka masuk kedalam kelas bersama. Dinka duduk ditengah diantara Bobby dan Reta.


Bobby mencium bau harum dari parfum Dinka. Hidungnya mulai berkeliaran mendekati Dinka yang terduduk disebelahnya. Tanpa sadar wajahnya dan wajah Dinka berhadapan.


Sontak mata Dinka terbelalak melihat wajahnya yang begitu dekat dengan Bobby. Jantung Bobby berdetak dengan cepat. Dinka langsung mengalihkan pandangannya. Tapi mata Bobby bertemu dengan pandangan marah dari Reta yang duduk disebelah Dinka.


Mata Reta melotot kearah Bobby. "Ngapain loe" ucap Reta ketus. Bobby cengengesan dipandang oleh Reta. "Gak papa" ucapnya.


Seusai jam kuliah Reta langsung menarik Bobby ke kantin karena sudah kelaparan. Dinka menyusul setelah pergi keperpustakaan. "Jangan lama-lama ka ke perpusnya" teriak Reta. Dinka menoleh kebelakang dan mengangguk.

__ADS_1


Di perpustakaan Fahmi melihat Dinka yang sedang membaca buku. "Pumpung pengikutnya Dinka gak ada aku harus menghampirinya" gumamnya. Fahmi duduk disebelah Dinka.


__ADS_2