Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
161. Kecemasan


__ADS_3

Di lain tempat Melvin sudah kembali bekerja di kantornya. Kini pekerjaannya tidak sebanyak seperti biasanya ketika tidak ada sang kakak. Jadi dia membawa sang istri untuk menemaninya. Namun niat Melvin bukan untuk di temani melainkan agar bisa bermesraan setiap waktu. Dan juga bisa menjaga Dinka karena sudah mendekati waktu melahirkan.


"Kamu kerjanya santai banget" ucap Dinka. "Iya dong sayang kan kak Alfan sudah kembali jadi aku bisa bersantai ria. Makanya aku ngajak kamu ke kantor" jelas Melvin menghampiri istrinya yang duduk di sofa. "Bilang aja maunya berduaan" sahut Dinka. "Gak boleh ya, kita kan baru baikan lagi sayang setelah beberapa hari ada masalah" ujar Melvin.


"Oiya katanya orangtua kamu yang dari kampung mau kesini, kenapa belum sampai juga ya" ungkap Melvin. "Kata siapa, aku malah gak tau tentang itu" sahut Dinka.


"Aku lupa ngasih tau kamu, waktu dirumah sakit kak Alfan menghubungi adik iparmu untuk mengantarkan kedua orangtua mu kesini untuk membujuk mu sayang" ucap Melvin sambil memainkan rambut Dinka yang panjang. "Sayang rese banget sih, jangan mainan rambutku" gerutu Dinka.


Mendengar ucapan Dinka yang bernada manja membuat Melvin mendekat. "Mau apa deket-deket?" Dinka memasang tanda silang dengan tangannya di depan tubuhnya untuk menghalau Melvin. "Sayang kaya gak tau aja sih" Melvin memegangi tangan Dinka agar bisa lebih dekat lagi. "Minggir jangan deket-deket" gerutu Dinka sembari mencoba melepaskan tangannya dari Melvin.


Melvin ingin meraih bibir sang istri dan menciumnya. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. "Kalian lagi ngapain" Alfan geleng-geleng kepala karena menangkap basah pasangan suami istri yang bermesraan. Melvin tidak jadi mencium bibir Dinka. Padahal posisinya sudah sangat pas dan dekat. "Kak Alfan ganggu aja" gerutu Melvin. Dinka segera mendorong tubuh Melvin dari hadapannya.


"Nih kontrak kerjasama yang di urus om Armand. Karena gak ada ayah klien kita yang diluar negeri om Armand yang urus" Alfan melempar tumpukan kertas pada meja kerja Melvin. Alfan pun mendudukan dirinya di samping Dinka. Dan memakan buah yang ada di meja.

__ADS_1


"Kakak kalau mau buah ambil sendiri dong, aku sengaja kupasin buat Dinka bukan buat kakak" keluh Melvin. "Pelit banget sih, Dinka juga gak ngelarang kok" sahut Alfan. "Makan aja kak" timpal Dinka.


Melvin melihat isi kontrak kerjasama yang dibawa Alfan tadi. "Ini sudah beres semua kak, pihak dari klien kita sudah menyetujuinya?" tanya Melvin. "Sudah beres semua kata om Armand" jawab Alfan.


Kakak beradik pun membahas tentang pekerjaan. Dinka tidak tau tentang bisnis jadi dia hanya melongo sambil melihat kanan dan ke kiri antara sang suami dan kakak iparnya. "Ngobrolin apaan sih ngalor-ngidul kagak jelas banget" Dinka berbicara sendiri. Karena merasa bosan dan cemilan buahnya sudah habis, dia pun keluar tanpa di sadari Melvin dan Alfan.


Dinka berjalan-jalan di gedung perusahaan besar yang kelak akan menjadi milik suaminya. Itu baru pertama kali dirinya berjalan-jalan didalam gedung perusahaan selama menikah dengan Melvin. "Enaknya kemana ya" Dinka berhenti sejenak. "Ke kantin aja kali ya" gumam Dinka berbicara sendiri.


Para karyawan yang bekerja disana terheran melihat ada wanita yang sedang hamil besar berkeliaran. Setau mereka perusahaan tersebut tidak memperkerjakan wanita yang hamil. Bila ada itu pun sudah di suruh cuti beberapa bulan yang lalu sebelum kandungannya kelihatan besar. Mereka semua tidak tau bahwa Dinka adalah istri dari presdir mereka. Karena sangat jarang Dinka mendatangi kantor suaminya. Itu pun bisa di hitung hanya beberapa kali saja.


Setelah memesan banyak makanan Dinka keluar sejenak dari gedung kantor itu. Melihat ada taman kecil di samping kantor membuat Dinka ingin kesana. "Wah bunganya cantik-cantik" ucap Dinka pada diri sendiri. Tangannya sembari mengelus perut. Karena berjalan cukup lama membuatnya merasakan beratnya sang janin. Ada seorang keamanan yang menegur Dinka agar tidak ke taman itu. Karena taman itu sengaja di buat Melvin untuk menenangkan diri. Tanpa boleh ada orang lain yang memasukinya.


"Maaf nona, anda tidak di perbolehkan ke taman ini" ucap si lelaki. "Tapi kenapa pak?" tanya Dinka. "Maaf anda tidak bisa kesana" jawab si lelaki tanpa memberitahukan alasannya. Karena tidak ingin berdebat Dinka segera pergi menjauh.

__ADS_1


Melvin dan Alfan sedang kalang kabut mencari Dinka. Tas milik Dinka juga di tinggal diruang kerja Melvin. "Ini istriku kemana lagi, mana gak bawa tasnya" keluh Melvin. "Mungkin dia berjalan-jalan di dalam perusahaan. Tidak mungkin pergi jauh" ucap Alfan menenangkan. Mereka sudah mencari kesana kemari sampai menyuruh beberapa pihak keamanan untuk ikut mencarinya.


"Pak bos tadi ada yang bilang bahwa ada yang melihat seorang wanita hamil mendekat ke arah taman" ucap Silma sekretaris Melvin. Tanpa menjawab Melvin segera berlari. "Apa dia masih disana?" tanya Alfan. "Saya kurang tau pak" jawab Silma.


Melvin sampai di taman disamping kantornya namun tidak ada sang istri. Dia benar-benar cemas karena Dinka tidak ada di sekitaran taman. "Apa tadi ada wanita yang sedang hamil kesini?" tanya Melvin pada pihak keamanan yang berada di depan pintu masuk. "Ada pak" jawab si lelaki yang menegur Dinka tadi.


"Lalu dia kemana?" tanya Melvin tidak sabaran. "Saya tidak tau pasti pak, tapi saya melihat wanita itu pergi ke arah sana" tunjuk si lelaki menuju sebuah kafe di seberang jalan tidak jauh dari gedung perusahaan. Melvin segera berlari menuju kafe yang di maksudkan. Tidak jauh dari tempat Melvin berdiri banyak orang yang berkerumun. Karena penasaran Melvin bertanya pada seseorang yang berjalan pergi. "Ada apa itu pak?" tanya Melvin. "Oh ada seorang wanita yang menjadi korban tabrak lari mas" jawab si pria.


Mendengar hal tersebut Melvin menjadi was-was. "Melvin" Alfan berlari menghampiri sang adik. "Ada apa?" tanya Alfan. Dia pun juga melihat banyak orang yang berkerumun itu. Tidak lama ambulan datang. Dan wanita yang tertabrak pun di angkat. Namun Melvin dan Alfan tidak bisa melihatnya dengan jelas hanya sedikit perut wanita itu terlihat besar. Sontak Melvin langsung berlari mendekati ambulan. "Pak tunggu" Melvin mencoba menghentikan laju ambulans. Sayangnya petugas ambulans tidak mendengar dan terus mengemudi.


"Wah kasian sekali ya sepertinya wanita itu sedang hamil" ucap seseorang yang berada di antara kerumunan. Melvin yang mendengar itu menjadi lemas. Dia takut kalau itu adalah sang istri. "Iya padahal lagi hamil tapi malah jadi korban tabrak lari" sahut orang yang lainnya.


"Apa tadi wanita yang tertabrak itu memiliki rambut yang panjang?" tanya Melvin. "Kurang tau mas sebab tidak terlihat jelas tadi, coba tanyakan saja yang tadi ikut menolongnya" jawab seseorang. "Iya mas katanya mau di bawa ke rumah sakit terdekat dari sini" sahut yang lain.

__ADS_1


Melvin menghentikan taksi dan menaikinya. Alfan pun mengejar sang adik namun tidak berhasil. "Dia mau kemana lagi" Alfan berbicara sendiri.


__ADS_2