Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Hari Pernikahan #2


__ADS_3

Dinka menangis sendirian di kamar pengantin. Badannya melingkar dengan tangan yang masih terikat.


Reta mengantarkan makanan dan obat untuk ibundanya. Dia mengetok pintu kamar namun tidak ada jawaban dari bunda Sarah. Reta membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Seketika nampan berisi makanan terjatuh kebawah. "Bundaaa" teriak Reta. Dia panik mendapati bundanya pingsan.


"Bunda bangun" Reta menepuk pipi ibundanya. Dia berlari ke gedung aula tempat acara pernikahan karena ayahnya masih disana begitu pula kedua kakaknya.


"Ayah bunda pingsan" teriak Reta yang sudah menangis. Arya segera bergegas lari kekamarnya. Melvin dan Alfan ikut menyusul dibelakang.


Arya menggendong istrinya dan menyuruh paman Jay untuk menyiapkan mobil didepan resort.


"Melvin bawa istrimu ikut kerumah sakit" ujar Arya. Melvin mengangguk. Disaat inilah keberadaan Dinka menjadi sangat penting untuk keluarga mereka. Karena transfusi dari darah Dinka bisa menyelamatkan ibundanya.


Melvin berjalan kedalam kamar. Mendapati Dinka sudah tertidur. "Dinka bangun" teriak Melvin. Namun Dinka tidak bergeming sama sekali. Melvin menyiram air dimuka Dinka baru dia terbangun.


"Bangun cepat ganti bajumu" ucap Melvin. Dia melepaskan tali ditangan istrinya. Mereka pergi kerumah sakit.


Dinka masuk keruangan untuk diambil darahnya lagi. Namun darah itu tidak mau keluar. "Santai ka jangan tegang" ucap perawat.


Suasana hati Dinka memang sedang tidak baik karena perlakukan kasar dari suami barunya. Dinka disuruh untuk beristirahat sejenak agar tubuhnya tidak tegang.


"Silahkan diminum teh hangatnya" ucap sang perawat. "Terimakasih" Dinka tersenyum. Reta pergi keruangan donor darah. Melihat Dinka sedang minum tehnya.

__ADS_1


"Bukannya loe lagi diambil darahnya" ucap Reta. "Aku disuruh istirahat dulu karena tubuh ku terlalu tegang jadi darahnya tidak keluar" Dinka meminum tehnya.


"Bagaimana keadaan bunda?" tanya Dinka. "Dia masih diperiksa dokter" Reta memandang kebawah. Dia mulai menangis lagi karena takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Gue takut bunda kenapa-napa karena sejak dari rumah loe kondisi fisik bunda kembali melemah. Dan sekarang mungkin dia terlalu lelah karena acara pernikahan" ungkap Reta. Dinka menepuk bahu temannya itu yang kini sudah jadi adik iparnya.


"Bunda akan baik-baik saja ta" Dinka memeluk Reta. Mengelus punggungnya agar tenang. Melvin mendatangi mereka. "Bagaimana sudah donornya?" tanya Melvin. Reta menggeleng.


Perawat kembali datang keruangan itu. Dia mulai menyuntikkan jarumnya kembali ke lengan Dinka. Darah pun berhasil keluar.


Setelah dari ruangan Reta memegangi tubuh Dinka yang sedikit melemah. Reta melihat mata kaka iparnya sembab. Pasti dia habis menangis tapi apa yang membuatnya menangis. Reta bertanya-tanya dalam hatinya.


"Apa kak Melvin sebegitu kuatnya sampai loe nangis" ledek Reta. Dinka mendudukan dirinya dikursi. "Mau tau aja" celetuk Dinka.


"Vin bawa istrimu pulang dia terlihat sangat lelah" ucap Arya. Dinka menggeleng dengan cepat. "Aku ingin disini menemani tante, eh salah maksudnya bunda yah" ujar Dinka.


"Disini sudah ada ayah dan Alfan yang menjaga kamu sama Reta kembali ke resort ya diantar Melvin" kata Arya.


"Iya lagian ini kan malam pertama kalian masa harus melakukan malam pertama di rumah sakit sih" ucap Alfan menggoda. Melvin berada di sebelah Alfan menyikut perutnya.


"Ya sudah ayo pulang" ajak Melvin. Dia tersenyum sembari menggenggam tangan istri mungilnya. Dinka tidak mau hanya berduaan bersama Melvin. Karena dia takut atas perlakuan kasarnya Melvin.

__ADS_1


Reta merangkul Dinka dan mengajaknya untuk pulang. Dinka mau tidak mau mengikuti langkah suaminya di belakang.


Penyakit yang diderita Sarah merupakan penyakit yang banyak membutuhkan transfusi darah. Karena golongan darahnya sangat langka membuatnya sering bolak-balik kerumah sakit.


Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Arya yang setia menunggu istrinya dirumah sakit. Ketika Arya punya segalanya tapi dia hanya setia pada satu wanita. Alfan sampai kagum dengan sosok ayah angkatnya, pria yang hebat karena setia dan tulus merawat istrinya. Walaupun Arya sering memukulinya tapi itu tidak membuat Alfan marah.


"Ayah mau aku belikan kopi" tawar Alfan. Arya mengangguk.


+++


Didalam kamar pengantin Dinka duduk termenung sambil memeluk kedua lututnya. Dagunya bertumpu pada lutut. Dia sudah mengganti bajunya dengan baju tidur yang diberikan pelayan resort. Dia memikirkan apa yang akan diperbuat Melvin kali ini.


Dikamar mandi terdengar suara air yang turun deras. Melvin sedang membersihkan tubuhnya. Hanya memakai jubah handuk dia keluar dari kamar mandi. Bulir air menetes dari rambutnya yang masih basah. Dia mengeringkannya dengan handuk.


Melvin memulai aksinya lagi. Mengikat tangan Dinka dengan dasinya. "Kalau mau selamat kamu harus nurut jangan membantah!" ucap Melvin penuh penekanan.


Mata Dinka sudah berkaca-kaca. Bibirnya dibungkam oleh bibir Melvin dengan buas. Melvin tidak akan melakukannya dengan lembut. Dia mulai menyusuri lekuk tubuh istrinya. Meninggalkan tanda merah di berbagai badan Dinka.


Dinka hanya bisa pasrah atas perlakuan dari suaminya itu. Tangannya pun terikat jadi dia tidak bisa berkutik. Melvin memaksakan miliknya masuk kedalam inti tubuh Dinka. Seketika Dinka menjerit dan menangis karena merasa sakit dibagian bawah badannya. Terdapat bercak merah membekas di sprei kamar pengantin.


Setelah selesai dengan aksinya Melvin tertidur dengan pulas disamping Dinka. Sedangkan Dinka menutup mulutnya karena menangis.

__ADS_1


Hal pertama kali yang seharusnya dilalui dengan indah tapi dia menerima perlakuan yang kasar dari suaminya itu.


Awal pernikahan saja sudah seperti ini bagaimana kelanjutannya. Dia tidak mau berpikir yang macam-macam. Dia berharap akan ada hal yang baik dalam pernikahannya walaupun tanpa dasar cinta.


__ADS_2