Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
122. Pertentangan ayah dan anak #2


__ADS_3

Arya di ceramahi banyak oleh Herman. Tanpa mereka tau Sarah mendengar semua obrolannya. Sarah segera berlari menemui Alfan untuk memastikan keadaan si sulung. Pintu kamar Alfan terbuka karena sedang dibereskan dan dirapihkan oleh beberapa pelayan. Alfan selesai mandi dan menunggu didepan kamar yang sedang di bereskan. Kakinya sudah dibalut dengan perban. Melihat kondisi sang anak yang kacau balau itu membuat Sarah jatuh pingsan. Ditambah lagi dia sudah tau semua yang dialami kedua putranya.


"Nyonya" bi Nah langsung berteriak memanggil Sarah. Alfan kelabakan dan langsung menghampiri Sarah. Dinka dan Melvin yang sedang bermesraan didalam kamar mendengar teriakan bi Nah.


"Apa bunda pingsan lagi vin" Dinka segera membuka pintu kamar. Melvin melotot melihat Sarah yang sudah jatuh pingsan. "Bunda" panggil Melvin sambil berlari mendekati Sarah. Mendengar ada suara ribut-ribut dilantai atas membuat Arya dan Herman keluar dari ruang kerja. Melvin merebut Sarah dari tangan Alfan.


"Bunda bangun" Melvin menggendong sang ibunda dan membawanya kedalam kamar. Airmatanya sudah tumpah membasahi pipi. "Ada apa dengan bunda?" tanya Arya. Sontak Melvin langsung mendorong tubuh ayahnya.


"Ini semua gara-gara ayah!" bentak Melvin. Matanya sudah merah karena marah. Alfan menahan tubuh Melvin. "Tenang vin tenang" Alfan memegang erat kedua tangan Melvin. Dan mencoba menghalangi Melvin dari sang ayah.


"Pak Mimin cepat panggil dokter" ucap Arya dengan suara keras. "Kamu bawa Melvin keluar" pinta Herman pada Alfan. Melvin ditarik paksa oleh sang kakak keluar dari kamar orangtuanya. Semua pelayan berkumpul di lantai bawah ikut mengkhawatirkan majikannya. Beberapa bodyguard juga ikut berkumpul.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama bunda ayah harus tanggung jawab!" teriak Melvin yang sudah sangat emosional. Dinka ketakutan melihat reaksi Melvin yang diluar batas. Dia teringat sewaktu dirinya disiksa oleh Melvin. Sama persis ekspresi wajah Melvin dengan sekarang ini. Apalagi keadaannya yang masih tertekan.


Dinka mundur selangkah dan mengusap perutnya sendiri. Belakangan ini dia cukup syok dan tertekan. Ditambah lagi melihat Melvin yang begitu sangat marah. Alfan membawa Melvin menjauh dari kamar orangtuanya.

__ADS_1


Sikembar berada dibelakang Dinka. "Nona baik-baik sajakan?" tanya Alini. Arini mengambil air minum untuk Dinka. Melihat wajah Dinka yang risau dan pucat. "Melvin tenangkan diri kamu jangan gegabah" Alfan mencoba menenangkan sang adik.


"Melvin" Dinka memanggil sang suami sambil menangis. Melvin baru sadar dari amarahnya. Melihat wajah Dinka yang kembali takut padanya membuatnya merasa bersalah. "Sayang" Melvin mencoba mendekati istrinya.


Dinka langsung mundur satu langkah dari Melvin tanpa sadar menginjak kaki Alini. Dinka berjalan dengan cepat ke arah kamarnya. Alfan yang melihat hanya bisa memegang kepalanya dengan satu tangan. 'Timbul masalah lagi' batin Alfan.


"Temui nanti setelah Dinka tenang" nasehat Alfan. Melvin menunduk sambil duduk menyender ke tembok. Dokter yang di panggil pun datang dan memeriksa Sarah. "Keadaannya benar-benar drop dia harus dibawa kerumah sakit sekarang juga" ucapan dari dokter seketika ibarat petir disiang bolong bagi Arya terutama Melvin.


Agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi Alfan langsung menahan tubuh Melvin kembali. "Kakak awas aku mau masuk kedalam kamar bunda" ucap Melvin.


Melvin mengangguk dan berjalan kearah kamarnya. Melihat kembar berdiri didepan pintu kamar membuat Melvin was-was. "Apa Dinka sama sekali tidak mau ditemani kalian?" tanya Melvin. "Maaf tuan kami di suruh menunggu didepan kamar" jawab Alini.


"Baiklah kalian boleh pergi" sahut Melvin. Dia mengetuk pintu kamarnya. "Sayang kamu buka pintunya dong, maafin aku" Melvin menunggu beberapa menit namun tak kunjung ada jawaban dari Dinka. "Sayang kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Melvin lagi. Dia menggedor pintu kamar dan mendobraknya. "Dinka" Melvin langsung berlari melihat istrinya kembali pingsan.


"Sayang bangun" Melvin menepuk-nepuk wajah Dinka. Si kembar masuk kedalam kamar setelah mendengar suara Melvin.

__ADS_1


"Alini cepat panggil dokter Mirna" perintah Melvin. "Baik tuan" jawab Alini.


Melvin menjaga istrinya di rumah. Yang lain berjaga dirumah sakit. Melvin merasa bersalah pada sang istri. Karena dirinya dipenuhi amarah jadi tidak mengingat sang istri yang sedang tertekan. Apalagi Dinka melihatnya secara langsung. "Sayang maafin aku, gak seharusnya aku marah didepan kamu" gumam Melvin. Matanya berkaca-kaca sembari menatap sang istri. Tangannya memegang erat kedua tangan Dinka.


"Tuan muda ini saya bawakan vitamin untuk nona" Alini meletakkan nampan ke atas meja didalam kamar. Melihat tidak ada respon dari sang majikan Alini pun keluar dan menutup pintu kamar.


Alfan melongok kedalam pintu kamar Melvin. "Apa Dinka belum siuman?" tanya Alfan. "Belum tuan" jawab Alini. Alfan mengetuk pintu kamar dan meminta izin dulu kepada Melvin. "Boleh kakak masuk vin?" tanya Alfan.


Melvin menghampiri sang kakak didepan pintu. Tangannya mengusap airmata yang telah membasahi wajah tampannya. "Bagaimana dengan bunda kak?" tanya Melvin. Alfan tersenyum untuk membuat Melvin tenang. "Bunda harus segera dibawa ke singapura malam ini juga keadaannya sudah kritis, tapi kamu tenang aja bunda kuat kok pasti bisa melewati ini semua" Alfan menepuk bahu Melvin.


"Aku juga bakal ikut ke singapura, kamu jaga istri kamu dan Reta disini" nasehat Alfan. Langkahnya berjalan menuju ke arah kamar untuk bersiap-siap. Sejenak Melvin menatap Dinka yang terbaring di atas ranjang. Dia mengikuti sang kakak kekamar. "Kak aku ingin ikut kerumah sakit" ucap Melvin.


"Kamu lebih baik jaga istri kamu dulu, dia lebih membutuhkan kamu vin. Untuk bunda kita doakan saja" sahut Alfan. Melvin menarik kerah baju sang kakak sambil berkata "tapi aku ingin melihat bunda kenapa kakak gak ngebolehin aku buat melihatnya".


Alfan melepaskan kaitan tangan Melvin di kerah bajunya. "Kamu masih dipenuhi amarah, kamu mau berkelahi di rumah sakit. Itu cuma tambah buat masalah vin. Jangan keras kepala" ucap Alfan penuh penekanan. Hampir saja amarah Melvin menguasainya kembali.

__ADS_1


"Kali ada apa-apa langsung kabari aku" Melvin kembali ke kamarnya.


__ADS_2