
Kakak beradik itu mengobrol sampai larut malam. "Apa yang kakak suka dari Dinka?" tanya Melvin. "Sepertinya kamu ini penasaran sekali" jawab Alfan. Kini dia berdiri dari kursinya. Melvin pun ikut berdiri sambil menatap kakaknya.
"Kamu disini saja dulu kakak mau mengambil sebotol wine" jelas Alfan. Alfan pun datang dengan membawa sebotol minuman wine dan dua buah gelas.
Melvin merasa yang lebih muda pun menuangkan minuman itu pada gelas sang kakak. "Kakak menyukai Dinka karena dia wanita yang polos dan sederhana" ungkap Alfan sambil memegang gelasnya. Melvin menuangkan wine kegelasnya sendiri dan menenggaknya.
"Dia memang dulu polos kak namun dia sudah beda sekarang" ujar Melvin. Alfan diam sambil menatap Melvin. "Kakak tidak tau sih apa yang dilakukan Dinka selama kita liburan. Dia mengerjai aku habis-habisan kak untuk membelikannya eskrim" ungkap Melvin.
Alfan tertawa mendengar ucapan sang adik. Ternyata Dinka punya keberanian untuk menjahili suaminya. "Bukan itu saja dia juga yang merusak ponsel ku kak dengan cara merendamnya di bathup" lanjut Melvin.
Tawa Alfan pun pecah jadi semakin keras. Melvin kembali meminum wine nya. Dan meletakkan gelas sedikit keras di meja. "Wajar lah dia melakukan itu untuk mengobati sakit hatinya. Itu juga menurut kakak belum seberapa vin. Kamu harusnya bersyukur punya istri seperti Dinka. Jarang-jarang jaman sekarang ada wanita yang seperti dia" jelas Alfan.
Alfan pun jadi teringat saat melihat Enzi sedang menolong anak kecil yang jatuh sewaktu pulang kerja tadi sore. Alfan langsung mengelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa kak?" tanya Melvin. Alfan menuangkan wine pada gelasnya dan gelas sang adik. "Engga papa" jawabnya. Mereka mengobrol sampai menghabiskan satu gelas wine. Sengaja tidak sampai mabuk karena Melvin takut dimarahi sang istri bila mabuk.
"Makasih ya udah jadi adik yang sangat baik untuk kakak" ucap Alfan sambil menepuk bahu Melvin. Seyuman Melvin pun mengembang menanggapi kakaknya.
Didalam kamar Dinka sudah tidak bisa tidur setelah terbangun tadi. Dilihatnya jam besar yang terpajang dikamar. Waktu menunjukan jam satu dini hari. Melvin masuk kedalam kamar. "Sayang kenapa kamu bangun?" tanya Melvin.
__ADS_1
"Aku gak bisa tidur lagi vin" jawab Dinka. "Kenapa? Apa kamu laper?" tanya Melvin sembari mengelus perut Dinka. Dinka pun menggeleng.
Melvin menyuruh Dinka berbaring. Dan diusaplah perut istrinya dengan lembut. Usapan dari Melvin membuat Dinka nyaman. Posisi Dinka miring kesebelah kiri, karena itu posisi yang baik untuk ibu hamil.
Belum juga Dinka nyenyak tidur Melvin sudah mendengkur. Suara dengkuran yang lirih itu membuat Dinka sedikit kesal. Disikutnya tubuh sang suami agar bangun. Tetap saja tidak ada reaksi dari Melvin.
"Vin ayo bangun" Dinka menepuk pipi sang suami. Melihat wajah tampan Melvin yang lelah membuat Dinka tidak tega. "Lihat tuh dek ayah kamu sudah nyenyak tidurnya, mungkin dia sudah lelah" ucap Dinka pada bayi dikandungannya. Dia pun mengelus perutnya sendiri.
+++
Alfan sudah duduk manis di kursinya untuk menikmati sarapan. Dinka berjalan menuruni anak tangga sambil menguap. "Pagi kak" sambut Dinka. "Pagi adik ipar" sahut Alfan sambil tersenyum.
Dinka menyatukan kedua alisnya. Tangannya mengambil paha ayam goreng untuk lauk. "Aku gak ngerusak ponselnya Melvin kak" ujar Dinka.
"Tapi kata Melvin ponselnya rusak karena kamu merendamnya di dalam bathup" sahut Alfan. Dinka memasukan ayam goreng kedalam mulutnya sambil menggeleng.
"Aku lupa meninggalkan ponselnya Melvin didalam kamar mandi kak. Dan ponsel itu jatuh kedalam bathup. Aku gak tau kenapa ponselnya bisa jatuh" jelas Dinka. Dengan cepat paha ayam gorengnya habis dilahap. Dinka kembali mengambil ayam goreng lagi.
Melvin berjalan turun ke lantai bawah. Salah satu tangannya memegang dasi untuk dipakaikan oleh Dinka. "Sayang bantu aku pake dasi dong" bujuk Melvin. Dengan tangan berminyak Dinka mengambil dasi dari tangan suaminya.
__ADS_1
"Sayang tangan kamu kotor nanti dasinya ikut kotor" gerutu Melvin. Alfan berdiri menggantikan Dinka memakaikan dasi. "Gini aja kok repot vin, kaya gak bisa pake dasi sendiri" timpal Alfan.
Dinka melanjutkan sarapannya. Sedangkan Melvin pergi tanpa sarapan karena sudah cukup siang. Pagi ini kakak beradik itu berangkat ke kantor bersama-sama.
Dinka berinisiatif memasak untuk sang suami di bantu oleh si kembar. Rencananya dia akan membawakan bekal itu kekantor untuk makan siang Melvin.
Dikantor seusai rapat Melvin kembali ke ruangannya. Matanya terbelalak melihat Serin sudah berada didalam. "Kenapa kamu bisa ada disini? Siapa yang mengijinkan kamu masuk?" tanya Melvin. Langkahnya langsung keluar dan memanggil Enzi yang harusnya berjaga di meja sekretaris. Tapi tak ada orang disana.
Serin langsung memegang tangan Melvin. Namun Melvin langsung mengibaskannya. "Kamu cepat keluar dari sini" ucap Melvin dengan ketus. "Vin aku cuma mau minta maaf sama kamu" jelas Serin.
"Kamu cepat keluar atau aku panggilkan satpam kesini untuk ngusir kamu" ancam Melvin. Serin terus saja memegangi tangan Melvin sambil meminta maaf. "Vin please maafin aku" ucapnya.
Enzi pun kembali ketempatnya. Dirinya melihat Melvin sedang adu mulut dengan seorang wanita. "Darimana saja sih kamu? Cepat kamu usir dia" Melvin berkata dengan keras pada sekretarisnya. "Maaf pak tadi perut saya mules" jelas Enzi sambil menarik tangan Serin agar mau keluar. "Silahkan anda keluar nona" ucap Enzi. "Apa sih lepas" ucap Serin sambil mendorong Enzi dengan kuat. Seketika Enzi pun terjungkal keatas sofa.
Mulut Serin nyerocos tanpa henti tentang hubungan Alfan dan Dinka di belakang Melvin selama ini. Tapi bagi Melvin omongan Serin itu hanya bualan belaka. Serin memberanikan diri untuk memeluk tubuh Melvin dengan erat. "Kamu apa-apaan sih lepas Serin" ucap Melvin ketus. Tepat saat Serin memeluk Melvin sang istri pun datang dan melihatnya.
Kotak bekal yang dibawa Dinka jatuh berceceran dilantai. Melvin yang sedang mencoba melepaskan pelukan Serin melihat kedatangan sang istri. Airmata Dinka membanjiri pipi mulusnya.
Melvin berhasil melepaskan pelukan Serin dan mengejar Dinka. "Sayang tunggu kamu salah paham" ucap Melvin sembari menyusul istrinya. Dinka mengusap kasar airmata yang turun. Dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu lift. Enzi pun menarik tangan Serin untuk keluar.
__ADS_1