
Melvin menemui sang kakak yang berada didalam kamar. "Kak boleh aku masuk" Melvin mengetuk pintu kamar Alfan. Dengan langkah tertatih Alfan membuka pintu kamarnya. Melvin tercengang melihat kondisi kamar yang begitu berantakan seperti kapal pecah. Dan kaki Alfan pun terluka.
"Kak Alfan ini" Melvin berjongkok memegang kaki Alfan. "Kakak jangan melukai diri sendiri begini dong" bujuk Melvin. Alfan mundur beberapa langkah dari adiknya. Wajah Alfan pun terlihat pucat dan rambutnya berantakan. Alfan terlihat sangat frustasi. Melvin mengajak Alfan duduk diatas sofa untuk berbicara.
"Kakak gak bisa melindungi Enzi. Apa kakak salah kalau kakak jatuh cinta" Alfan mulai menitihkan airmatanya sambil berdiri. Baru kali ini Melvin melihat sang kakak yang begitu hancur karena perbuatan ayahnya. Karena sudah dipisahkan dari pujaan hati.
"Kak Alfan harus tenang kita pikirkan caranya agar bisa menemukan Enzi, aku sudah tau ayah mengirim Enzi kemana" jelas Melvin. Alfan langsung menghampiri Melvin sambil memegang erat lengan Melvin.
"Kemana ayah mengirim Enzi? Kemana?" tanya Alfan tidak sabaran. "Ayah mengirim Enzi ke singapura tapi aku tidak tau dimana persisnya, kak Alfan kita pasti bisa menemukan Enzi" jawab Melvin.
Melihat ada harapan untuk menemukan wanita yang di cintai membuat Alfan bernafas lega. Melvin menyuruh Alfan untuk duduk kembali. "Kak aku obati ya lukanya" ucap Melvin. Alfan memeluk sang adik dengan begitu erat. "Apa kamu benar mau membantu kakak mencari Enzi?" tanya Alfan memastikan.
"Demi kebahagiaan kak Alfan walaupun harus sampai menentang ayah aku gak masalah. Lagi pula dari dulu aku memang sudah sering menentang ayahkan" sahut Melvin dengan bangganya. "Kamu ini" Alfan mencubit perut sang adik.
"Kelihatannya kak Alfan sudah baikan nih jadi kakak mandi sanah bau tau pasti dari kemaren belum mandi" ledek Melvin sambil menutup hidungnya. "Kamu yang dulu bersikap semena-mena dan memasang wajah dingin semenjak luluh pada Dinka jadi lelaki yang hangat ya" Alfan tidak mau kalah dari adiknya.
__ADS_1
"Kamu beruntung bisa mendapatkan Dinka, dia begitu polos, baik dan cantik. Walaupun kalian dijodohkan tapi kehidupan rumah tangga kalian sekarang jadi baik. Jujur saja kakak iri padamu vin" jelas Alfan. Melvin menghela nafasnya. "Kak Alfan pasti juga bisa bahagia dengan Enzi..dia wanita yang baik untuk kakak" Melvin menatap Alfan dengan dalam. "Kakak harus yakin suatu hari nanti ayah bakal merestui hubungan kalian walaupun pada awalnya dia menentang" imbuh Melvin. Melihat sang kakak sudah cukup tenang Melvin pun beranjak dari sofa.
"Baiklah aku pergi dulu" Melvin keluar dari dalam kamar Alfan. "Oiya kak jangan sampai bunda melihat keadaan kakak seperti ini bisa gawat nanti" saran Melvin. "Baiklah kakak tau" ujar Alfan. Pak Mimin melihat suasana yang hangat dan kekompakan diantara kakak beradik itu. Dia tidak sengaja menguping pembicaraan Melvin dan Alfan.
"Pak Mimin sejak kapan disini?" tanya Melvin. "Tadi saya dengar suara dari kamar tuan Alfan. Jadi saya mau memastikan keadaan tuan Alfan" jawab pak Mimin. "Pak Mimin gak nguping kan?" tanya Melvin.
"Maaf tuan muda bukan maksud saya lancang, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan tuan muda dan tuan Alfan" pak Mimin berucap sembari menunduk. Melvin mendekati pak Mimin dan menepuk bahunya.
"Pak Mimin mau tidak uang tambahan" ucap Melvin. "Maksud tuan muda apa ya?" tangan pak Mimin gemetar.
Melvin memasuki kamarnya dan terdengar suara deburan air. "Apa Dinka sudah sadar" gumam Melvin. Langkahnya mendekat kearah pintu kamar mandi. "Sayang kamu didalam?" tanya Melvin.
"Iya" sahut Dinka dari dalam kamar mandi. Melvin tersenyum senang dan masuk kedalam kamar mandi juga. Melihat sang istri tidak mengenakan sehelai benang pun membuatnya bergelora.
Melvin menanggalkan semua yang dikenakan dan memeluk Dinka dari belakang. "Mandi kenapa gak ajak-ajak" ucap Melvin lirih. Bibirnya mulai nakal menciumi leher Dinka. Satu tato merah telah terukir indah di leher jenjang milik Dinka. "Vin apa-apaan sih" Dinka mencoba melepaskan diri dari sang suami. "Belum lama aku mendengar kamu memanggilku sayang, apa panggilan itu membuatmu jadi salah tingkah" Melvin kembali mengecup leher Dinka. Tangannya telah melalang buana kesegala arah.
__ADS_1
"Melvin aku udah selesai mandi" Dinka mencoba melepaskan tangan Melvin. Tapi tangan suaminya menahan tubuh Dinka. Karena merasa ingin dilayani Melvin menggendong Dinka dan memasukan Dinka kedalam bathup. "Sayang pengen" Melvin memulai dari bibir merah Dinka.
Mau tidak mau Dinka melayani suaminya. "Pelan-pelan" ucap Dinka lirih. Melvin yang akan memasukan juniornya pun kembali menatap sang istri dan mencium bibirnya. "Kamu tenang aja aku udah tau kok" bisik Melvin di dekat telinga Dinka.
Selesai melakukan tugasnya Melvin mengambil handuk dan membalutkan pada tubuh sang istri. Dia akan menggendong Dinka tapi ditolak. "Aku bisa jalan sendiri" ucap Dinka. Melvin mengekori istrinya dari belakang.
"Apa kamu sudah mendingan?" tanya Melvin. Dinka mengambil baju dan memakainya. "Sayang aku lagi tanya kok gak dijawab" gerutu Melvin.
"Aku gak papa" jawab Dinka. Dari nadanya bicara Dinka terdengar tidak enak. "Sayang kalo ada yang mengganjal cerita dong" bujuk Melvin.
"Tentang kak Alfan bagaimana sekarang?" tanya Dinka. "Kak Alfan sudah kembali kerumah dan ayah mengirim Enzi ke singapura" jawab Melvin. Tangannya kembali memeluk Dinka. "Sayang maaf ya aku sebagai suami kurang peka. Kamu pasti masih syok kan karena om Armand" ungkap Melvin.
"Aku kurang memahami perasaan kamu" sambung Melvin. Dinka berbalik dan mengalungkan tangannya pada Melvin. "Aku udah melupakan tentang itu, gak perlu dibahas lagi" sahut Dinka.
"Masalah Reta bagaimana? Apa ayah tetap bersikeras akan menjodohkannya dengan pria bernama Daniel itu?" tanya Dinka. "Aku juga gak tau tapi kakek datang untuk menasehati ayah dan membawa Reta pulang" jelas Melvin.
__ADS_1
Dinka mengelus perutnya karena merasa lapar. "Vin kayanya kalau makan salad enak nih" ucapnya. "Baik aku akan buatkan salad spesial untuk istriku tersayang" Melvin mencubit pipi Dinka yang sudah chubby.