
Sepanjang perjalanan Bobby memasang muka masamnya. Dia terbakar api cemburu dengan ulah si Ronald itu. "Beb wajah loe biasa aja kali gak usah kaya gitu serem tau gak" keluh Reta. Bobby terdiam membisu dan fokus menyetir. "Aku laper nih kita mampir ke tempat biasa ya" Reta mengucapkan dengan lembut sembari tersenyum. Agar Bobby tidak marah lagi. Namun tetap saja Bobby masih belum mau berbicara.
"Kita langsung pulang aja, gue udah gak mood buat makan" sahut Bobby. Kini giliran Reta yang diam. Bicara pun percuma kalau sang kekasih sedang cemburu buta tidak jelas.
Karena bensin yang hampir habis Bobby membawanya ketempat pengisian bensin. Reta keluar dari mobil menuju ke toilet umum yang ada di pombensin. Terdengar suara ponsel berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Melvin. Setelah berbicara tentang rencana kejutan untuk Reta, Bobby pun menuruti ucapan Melvin. Mobil diparkirkan didepan sebuah cafe.
"Beb ayo turun katanya laper" ajak Bobby. Reta turun dari dalam mobil dan mengikuti langkah kaki Bobby. Cafe yang unik itu menjadi tempat dimana Reta akan di tinggalkan oleh Bobby.
"Loe pesen aja dulu gue mau ambil ponsel ketinggalan di mobil. Oiya sini tas loe biar gue taruh di mobil" Bobby langsung merebut tas selempang milik Reta. "Gak usah ditaruh di mobil beb" ucap Reta. Namun tasnya sudah berada ditangan Bobby. Karena rasa lapar yang tak tertahankan Reta tidak memperdulikan Bobby. Satu persatu menu kesukaannya dipesan.
Sampai tiba makanan yang di pesan tersaji Bobby tak kunjung juga terlihat batang hidungnya. Reta mulai curiga dengan tingkah Bobby yang aneh. Seorang pelayan cafe memberikan struk pembayaran makanan dan nampan berisi menu makanan. "Ini silahkan nona" ucap si pelayan. Reta menerima nampan tersebut.
"Mau bayar cash atau kartu kredit?" tanya si pelayan. Reta mulai resah karena Bobby tak kunjung muncul juga. "Em sebentar ya ka ini saya lagi nunggu pacar saya, soalnya dia bawa tas saya tadi" jelas Reta.
__ADS_1
Setelah menunggu sepuluh menit Bobby tak kunjung datang. Reta pun mau tidak mau membatalkan pesanannya dengan rasa yang sangat malu. Namun si pelayan cafe tidak mau menerimanya karena makanan yang sudah terlanjur dipesan tidak bisa dibatalkan.
'Awas loe Bob berani buat gue marah dan malu kaya gini bakalan gue terkam hidup-hidup' batin Reta. Dia pun melepas jam tangannya dan memberikannya sebagai bahan pembayaran. Makanan itupun di bungkus dan dibawa pulang oleh Reta. Dia benar-benar sangat malu sudah seperti itu.
"Bobby breng**k" teriak Reta dipinggir jalan. Sembari menunggu taksi dia pun marah-marah tidak jelas. 'Awas aja loe bob' gumam Reta. Kedua tangannya mengepal karena marah.
Sampai dirumah pelayan tidak ada satupun yang terlihat tidak seperti biasanya. Reta dengan wajah marahnya mencari keberadaan Bobby yang sudah pasti ada dirumahnya itu karena melihat mobil yang dikenakan tadi terparkir rapih di garasi rumah.
Rumah terlihat begitu sepi sampai membuat Reta merasa aneh. "Pak Mimin bi Nah kalian dimana?" Reta berteriak sekeras mungkin. Kebetulan ada seorang bodyguard yang datang dari arah belakang rumah. "Nah kebetulan ada anda pak, aku mau pinjem duit buat bayar taksi" ucap Reta. Si bodyguard mengambil dompet dan beberapa lembar uang kertas. "Ini non" jawab sang bodyguard sambil memberikan uangnya.
"Sungguh keterlaluan si Bobby, bakalan aku aduin kelakuannya sama kak Melvin biar di labrak sekalian" ucap Reta menyemangati diri. Padahal itu juga merupakan ulah dari sang kakak. "Pada kemana sih kok sepi banget, Dinka juga gak ada kak Melvin mungkin ke kantor. Tapi masa iya kerja malam-malam" keluh Reta.
Reta mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu dan merebahkan tubuhnya. Matanya terpejam untuk menghilangkan rasa lelah. Diam-diam Dinka dan Melvin berjalan menghampiri sofa tempat Reta tidur. Suara tiupan terompet mengawali kejutan untuk Reta. "Happy Birthday adik ipar kesayanganku" kata Dinka antusias. "Selamat ulang tahun de" kali ini Melvin yang mengucapkan. Seketika Reta pun terharu dan memeluk Dinka. "Makasih" mata Reta langsung berkaca-kaca. Padahal tadi dia benar-benar marah karena ulah Bobby.
__ADS_1
Bobby yang bertugas membawakan kue ulang tahun. "Selamat ulang tahun kekasih tomboi, maaf ya udah ninggalin loe tadi. Ini semua rencananya kak Melvin gue cuma nurut aja buat ngejalanin rencananya dia" ucap Bobby cengengesan.
Reta memanyunkan bibirnya maju kedepan. "Jadi ini ulah kak Melvin, tega banget sih kakak sama aku" gerutu Reta. Dinka tersenyum melihat reaksi Reta yang lucu. Tangannya menghapus airmata yang jatuh di pipi Reta. "Duh kaya gini sampai nangis sih, segitu terharunya ya" ledek Dinka. "Kakak ipar juga nyebelin banget, kalian bener-bener keterlaluan" Reta memeluk Dinka.
"Keterlaluan kaya gini juga kamu terharu kan" kali ini Melvin yang menggoda sang adik. "Nih tiup dulu dong lilinnya sama kuenya dipotong, tangan gue udah pegel pegangnya beb" Bobby mendekat pada Reta.
Sebelum meniup lilin Reta tidak lupa berdoa terlebih dahulu. Potongan pertama dia berikan pada Bobby yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Biasanya tahun-tahun sebelumnya potongan kue pertama selalu diberikan pada ayah dan bundanya. Namun kali ini berbeda dengan biasanya.
"Kenapa nangis lagi ta?" tanya Dinka. "Tahun ini pertama kalinya ulang tahun ku gak ada bunda sama ayah, biasanya kalau bunda sakit pun selalu sempetin buat ngerayain ulang tahunku" Reta menunduk dan kembali menangis. Melvin memeluk sang adik. "Kita berdoa aja supaya bunda cepat sembuh" kata-kata Melvin membuat Reta sedikit nyaman.
Dinka ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Reta. Dia juga ikut nimbrung memeluk sang suami dan adik iparnya. Sifat usil Bobby muncul. Dia mencolek wajah Reta dengan kue ulang tahun. Tapi yang terkena malah wajah tampan Melvin.
Lirikan mata Melvin kini mengarah pada Bobby. "Maaf gak sengaja kak" ucap Bobby cengengesan. Dinka pun ikut mengotori wajah tampan nan rupawan suaminya dengan kue. Seketika suasana menjadi riuh karena aksi kejar-kejaran untuk saling menjahili.
__ADS_1
Pak Mimin dan bi Nah tersenyum senang melihat pemandangan yang langka itu. Walaupun formasi keluarga kurang lengkap namun itu tidak membuat mereka sedih.