
Melvin berjalan masuk kedalam rumah. Hari ini dia pulang lebih awal karena merasa cukup lelah. Melvin melonggarkan dasinya dan melepas jasnya. Diberikan jas tersebut pada pak Mimin. "Apa tuan ingin saya buatkan kopi?" tanya pak Mimin. "Tidak usah pak aku mau berendam air hangat" ucap Melvin sambil melepas kancing kemeja di tangan.
"Baiklah akan saya siapkan dulu" ujar pak Mimin. Melvin duduk disofa ruang keluarga dan menyenderkan tubuhnya. Matanya terpejam dan tangannya memijat pertengahan alis. Terdengar suara Dinka yang tertawa keras dari arah dapur.
Melvin pun menghampiri sang istri. Dilihatnya Dinka sedang menonton youtube dengan pelayan kembarnya. Melvin menyender pada pintu dapur sambil menyilangkan tangannya.
Seutas senyuman tipis diwajah Melvin melihat Dinka tertawa. Rasa lelahnya sedikit menghilang. Pak Mimin pun memberitahukan bahwa air hangatnya sudah siap.
Melvin berjalan kearah kamarnya. Dilihatnya ada sebuah boneka besar yang berada diatas ranjang empuknya. 'Apa Dinka sengaja membelinya' batin Melvin. Untung saja ranjangnya itu ukuran jumbo jadi masih luas bila ada boneka yang besar. Bila dibandingkan boneka dengan tubuh sang istri saja lebih besar bonekanya.
Melvin melepaskan semua pakaian yang dikenakannya dan masuk kedalam bathup berisi air hangat.
Setelah selesai Melvin beranjak ke lantai bawah dan mendapati Dinka sedang berbincang ria dengan sang kaka. Terlihat raut wajah Dinka begitu senang. Dinka memang terlihat nyaman ketika berada didekat Alfan. Disitulah Melvin mulai merasa tersinggung dan rasa yang susah dijelaskan muncul.
Melvin menghampiri mereka berdua dan berdehem. "Kelihatannya asik banget ngobrolnya" ucap Melvin. Dinka dan Alfan kompak melihat pada Melvin.
Dinka tersenyum menatap Alfan. "Aku masuk dulu ya kak mau ngerjain tugas" ucap Dinka. "Baiklah" sahut Alfan. Suara Dinka terdengar halus dan lembut. Membuat Melvin naik pitam.
Dinka berjalan saja melewati Melvin. Merasa diacuhkan Melvin meraih tangan Dinka. Dinka langsung mengibaskan tangannya secara kasar.
__ADS_1
Alfan melihat kejadian itu. Dia menatap pada sang adik. "Ada apa kamu dengan Dinka?" tanya Alfan. Melvin tidak menjawab dan beralih mengejar Dinka.
Dinka menaiki anak tangga dengan rasa kesal. Melvin terus membuntuti sang istri. "Kau ini kenapa? Kau sungguh acuh padaku tapi kau bisa tersenyum senang jika bersama Alfan. Aku ini suami mu kenapa kau mengacuhkan ku?" Melvin berkata dengan ketus.
Dinka masih terdiam tidak merespon sang suami. Dibukanya laptop dan diletakkan diatas pangkuan. Karena merasa di diamkan Melvin meraih laptop dan membantingnya.
"Kau tidak dengar aku sedang berbicara denganmu" teriak Melvin. Dinka hanya menatap sang suami tanpa kata.
"Jawab apa kau masih marah padaku? Katakan apa kesalahanku katakan apa yang membuat mu marah" teriak Melvin. Dinka tersenyum miris. "Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi" ucap Dinka.
"Kau tau rasanya sangat menyiksa melihat mu terlihat akrab dengan Alfan. Tapi disaat bersama ku kau malah acuh" sahut Melvin masih berteriak.
"Aku diam karena kau membuatku takut. Selama ini kau sudah membuat ku jatuh hati padamu, tapi apa yang ku dapat hanya sebuah penghianatan. Bila kau mencintai Serin kenapa kau tidak menikahinya saja" teriak Dinka sambil mengusap airmata.
Melvin menarik tangan Dinka dan memeluk tubuh mungilnya. "Maaf" kata yang selalu di ucap Melvin.
"Berhentilah minta maaf aku tidak butuh maaf darimu" Dinka melepaskan pelukan suaminya tapi pelukan Melvin cukup kuat. Tanpa tersadar Melvin mengatakan sesuatu yang ada didalam lubuk hatinya. "Aku mencintaimu" kata yang sulit diucap oleh Melvin akhirnya keluar dari bibirnya. Dinka terdiam dalam pelukan sang suami.
"Maaf membuatmu menunggu kata-kata ini karena aku harus meyakinkan hatiku dulu" Melvin berkata dengan lembut. Tangannya mengelus rambut Dinka.
__ADS_1
Dinka tidak langsung percaya dengan suaminya yang pandai berkata itu. Karena takut hatinya akan merasa kecewa lagi. Dengan pelan Dinka melepaskan tautan tubuh suaminya.
Dinka tersenyum tipis dan berkata "kau pintar sekali merangkai kata-kata manis". Ucapan dari Dinka membuat Melvin diam mematung.
Masih ada rasa kebimbangan dalam hati sang istri. Namun Melvin tetap diam tidak melanjutkan untuk meyakinkan sang istri tentang perasaannya. Karena percuma saja, biarlah waktu yang akan menjawab.
Dinka mengambil laptop yang dibanting oleh Melvin. Dan mengambil boneka besar yang ada dikamar. Langkahnya berjalan kearah kamar si kembar. Mungkin malam ini dirinya akan tidur bersama pelayannya.
Dinka mengetuk pintu kamar sikembar. Alini membukakan pintu dan sedikit terkejut melihat Dinka. "Nona ada apa?" tanya Alini. Dinka menerobos masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya di samping Arini.
Dinka memikirkan kembali kata-kata Melvin yang barusan didengarnya. Apakah Melvin benar-benar mencintainya, apa memang hanya sekedar kata untuk menenangkannya. Mungkin saja Melvin benar sudah mencintainya. Dinka merasa bingung dengan semua pikiran yang datang.
Dinka menggeleng-geleng. 'Bukankah kata-kata itu yang kau mau dengar dari Melvin, tapi kenapa hati ini merasa gundah sih' batin Dinka. "Nona kenapa? Apa nona sakit?" tanya Alini.
"Tidak" jawab Dinka dengan cepat. 'Apa mungkin ini jawaban dari kesabaran ku selama ini, coba lihat saja kedepannya apa Melvin masih berhubungan dengan Serin atau tidak. Jika masih berhubungan berarti dia memang pembual yang bermulut manis' batin Dinka.
Perlahan matanya terlelap karena merasa lelah habis menangis. Tidak lama setelah itu Melvin mengetok pintu kamar sikembar dan membawa sang istri kembali kekamar mereka.
Didalam kamar Melvin memandangi wajah damai sang istri ketika tidur. Mengelus perut Dinka dan menciumnya. Disanalah bersemayam calon bayi generasi penerusnya.
__ADS_1