
Sampailah Dinka di sebuah hotel mewah didekat pantai. Pak Iwan membangunkan Dinka dari tidurnya. "Non bangun kita sudah sampai dihotel" ucap pak Iwan. Dinka tercengang dengan perkataan sopirnya itu. Spontan dia menutupi area dadanya. Karena nyawanya belum terkumpul Dinka telah salah paham dengan ucapan pak Iwan.
Pak Iwan tersenyum "maksud saya nona sudah sampai di hotel tempat tuan muda menginap". Dinka tersenyum kecut. Dia sangat malu telah salah mengartikan ucapan sopirnya.
"Ayo mari saya antarkan nona" ucap pak Iwan. Dinka melihat kemegahan hotel didepannya. Dia masuk kedalam lobby dan diantarkan ke sebuah taman. Kamar hotel Melvin dan Alfan memang di jaraki dengan taman yang cukup luas bila dari pintu masuk hotel.
Dinka melihat sekeliling taman dan kolam ikan. Dia diantarkan oleh pak Iwan menuju kamar Melvin. "Ini dia nona kamar hotel tuan Melvin" ungkap pak Iwan. "Ini kartu akses nya" pak Iwan memberikannya pada Dinka.
"Tapi pak saya kesini tidak bawa baju ganti" ucap Dinka. Pak Iwan tersenyum seraya berkata "kebutuhan nona sudah ada didalam".
Dinka mengangguk mengerti. Dia masuk kedalam kamar yang didominasi dengan warna hitam putih dan abu-abu. "Huufftt tidak jauh beda dengan kamarnya yang ada dirumah" ucap Dinka sendiri.
Melvin dan Alfan masih berada di acara peresmian hotel. Dinka memainkan ponselnya di kamar hotel. Terlalu lama menunggu kepulangan sang suami akhirnya dia berjalan keliling hotel. Untuk mengurangi rasa bosannya.
Dinka tidak sadar sudah terlalu lama melangkah. Melihat bangunan hotel yang mewah dan indah membuatnya tersesat. Saking luasnya hotel tersebut. 'Aduh aku gak inget jalan kembali ke kamar hotel yang tadi lagi' keluh Dinka dalam hati. Dia menggaruk kepalanya karena bingung.
Wajahnya mulai panik dan mengigit jarinya. Dinka berjalan kesana kemari. Ada petugas keamanan hotel yang melihatnya. "Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya si petugas keamanan. "Em ini saya lupa kesebelah mana jalan menuju kamar hotel yang saya datangi" jawab Dinka.
"Mari saya antarkan ke bagian resepsionis untuk menemukan kamar hotel anda" petugas keamanan berjalan didepan Dinka. "Atas nama siapa nona?" tanya petugas keamanan.
__ADS_1
"Melvin... " Dinka mengingat kembali nama lengkap suaminya. "Em Melvin...Melvin Laksmana Artama mungkin" ucap Dinka. Petugas keamanan itu mengenali nama bosnya.
"Oh apakah anda istrinya pak Melvin?" tanya si petugas keamanan. Dinka mengangguk dengan cepat. "Wah kenapa tidak bilang nona, mari saya antarkan anda" petugas keamanan mempersilahkan Dinka berjalan didepannya. Namun Dinka masih belum melangkahkan kakinya. "Bisakah saya mengikuti anda dari belakang" sahut Dinka.
Petugas keamanan mengantarkan Dinka menuju kamar hotel Vip milik bos besarnya. Dinka tidak bosan melihat pemandangan taman dan kolam ikan yang berada di dekat kamar hotel Melvin.
"Terimakasih pak" ucap Dinka. Si petugas keamanan tersenyum ramah padanya. "Kalau anda butuh sesuatu panggil saja lewat telpon yang didalam kamar nona" ungkap petugas keamanan.
+++
Alfan dan Melvin kembali ke hotel. Mereka merayakan kembali ditaman depan kamar hotel. Serin tidak tau dengan kedatangan Dinka.
"Mari bersulang" Serin mengangkat gelasnya keatas. Diikuti oleh Alfan dan Melvin. 'Minumlah sampai habis vin' batin Serin. Dirinya memasukan sesuatu kedalam gelas berisi wine milik Melvin.
Melvin meminumnya sampai tetesan terakhir. Dia meletakkan gelasnya di meja. "Akhirnya peresmian pun selesai juga, sungguh leganya" ujar Alfan.
"Bukannya kaka tidak setuju pada awal pembangunan hotel itu" sahut Melvin. "Awalnya tidak setuju karena hotel itu membuat ku sering dimarahi oleh ayah" jawab Alfan. "Selamat ya sayang" ucap Serin dengan lembut pada Alfan.
Melvin merasa ada yang aneh dengan badannya. Tiba-tiba dia merasa sangat panas menjalar ketubuhnya. Birahinya pun sungguh menggebu. Ujung matanya melirik kearah Serin. Pasti ini ulah Serin pikirnya.
__ADS_1
Melvin masuk kedalam kamarnya terlebih dulu untuk beristirahat. Dinka melihat pintu yang dibuka dari luar. Melihat suaminya yang mulai membuka setelan jas.
"Kamu kenapa?" tanya Dinka menghampiri suaminya. Melvin langsung meraih bibir Dinka tanpa di aba-aba karena birahinya yang sudah tak bisa dia elakkan.
Dinka terkejut dengan sergapan sang suami yang begitu mendadak. Mau tidak mau Dinka mengikuti alurnya. Badan Dinka sungguh lelah karena perjalanannya yang cukup panjang ke hotel ditambah Melvin yang tiada hentinya melakukannya diatas tubuh Dinka.
Sudah pelepasan yang ketiga bagi Dinka namun belum bagi Melvin. Melvin juga tidak bisa mengontrolnya. "Vin lepas" ucap Dinka dengan suara yang melemah.
Melvin tidak menanggapi istrinya yang berada didekapan tubuhnya. Masih terus melakukan aktivitasnya sampai puas. Dinka mencoba untuk mengimbangi gerakan Melvin yang sangat kuat.
Sejam lebih mereka melakukannya. Dinka langsung terlelap tidur dalam pelukan sang suami. Melvin merasa sangat puas dan lega istrinya berada bersamanya saat ini. Mungkin bila tidak dia tidak tau apa yang akan diperbuatnya. Apakah akan melampiaskannya pada Serin mungkin.
Serin sudah marah menunggu Melvin yang tak kunjung datang ke kamarnya. Dia merasa frustasi. Rencana nya kali ini gagal untuk mendapatkan Melvin.
Dia menghubungi ponsel Melvin namun tak diangkat. Serin berjalan keluar dari kamarnya dan menghampiri kamar Melvin. Alfan tidak sengaja melihat Serin berada didepan kamar hotel Melvin.
Alfan menyembunyikan dirinya di balik tembok agar tidak terlihat oleh Serin. 'Apa yang dilakukan Serin didepan kamar hotel Melvin' gumam Alfan dalam hati. Serin pun akhirnya pergi dari sana.
Alfan mulai curiga dengan tunangannya itu. Apakah Serin masih menyukai Melvin. Dan kenapa pula sudah larut malam begini Serin berada didepan kamar hotel Melvin. Alfan bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1