Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
76. Manjanya si tampan


__ADS_3

Melvin memarkirkan mobilnya di bagasi. Tubuhnya di senderkan pada kursi mobil. Hadiah tas untuk Dinka dilemparkannya ke kursi belakang.


Untuk menghilangkan rasa kecewanya Melvin masih berada didalam mobil. Matanya terpejam sambil kedua tangan di gunakan sebagai bantalan.


Terdengar suara mobil mendekat ke arah bagasi. Melvin membuka matanya melihat mobil Alfan yang datang. Terlihat Dinka pun turun dari mobil Alfan.


Dinka berjalan sambil menunduk karena merasa bersalah. Tapi itu bukan termasuk kesalahan yang disengaja. Melvin turun dari mobil dan berjalan cepat. Tangannya meraih tangan Dinka dan membawa masuk kedalam rumah. Terjadi kesalahpahaman disini. Yang dikira Melvin sang istri malah pergi dengan sang kaka.


Dinka kaget karena tangannya tiba-tiba ditarik Melvin. Genggaman Melvin begitu kuat sampai Dinka merasakan tangannya yang sakit.


"Vin lepas tangan ku sakit" bujuk Dinka sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Melvin. Sama sekali Melvin tidak menghiraukan ucapan istrinya.


Tubuh sang istri di dorongnya ke atas ranjang. Kini mereka sudah berada dikamar. Melvin mendekati Dinka dan memegang dagunya.


"Akan ku buat kau sadar siapa suami mu ini" Melvin melepaskan tangannya dari dagu Dinka dan beralih ke bibir.


Diciumnya bibir sang istri. Karena cemburu buta Melvin melahap bibir Dinka dengan buas. Melvin melepaskan semua yang dikenakan Dinka.


"Vin kau mau apa" Dinka sungguh takut melihat wajah suaminya. Melvin sudah menanggalkan semua bajunya. Dan kembali mendekati sang istri. Dengan cepat bibir Melvin melumat kembali bibir Dinka.


Secemburunya Melvin masih ingat kehamilan Dinka. Dengan lembut Melvin memasukan juniornya pada intim Dinka. Mereka melakukannya cukup lama.

__ADS_1


Sesudah puas dengan aktivitasnya diatas tubuh sang istri Melvin mencium tangan Dinka. "Maaf ya sudah membuat mu takut" ucap Melvin memohon. Dinka manggut-manggut.


"Apa aku membuat mu marah?" tanya Dinka. Tubuh mereka ditutupi dengan selimut. Bagi Dinka wajah Melvin masih terlihat dingin. "Kau hanya membuat ku cemburu" jawab Melvin.


Dinka tersenyum senang mendengar jawaban Melvin. "Aku tidak tau kalau kau mengajakku makam malam, karena ponsel ku tertinggal ditas Reta. Itu pun aku tau dari kak Alfan jadi dia mengantarku ke restoran namun disana kau sudah tidak ada" jelas Dinka.


Melvin mengangguk paham. "Aku sudah salah paham pada kak Alfan" sahut Melvin. Dinka tertawa kecil melihat Melvin.


"Jadi kau cemburu dengan kaka mu sendiri" Dinka menutup mulutnya menahan tawa. Karena malu Melvin mengalihkan pandangannya. "Tuh lihat kamu jadi salah tingkah ya" ledek Dinka.


Melvin tetap diam sambil berjalan kearah kamar mandi. Seusai mandi Melvin menyuruh Dinka membuatkan kopi. Dinka pun menurutinya.


Seranjang buah dan kopi dipegangnya. Membawanya masuk kedalam kamar. Terlihat Melvin sedang berkutat dengan laptopnya. "Ini kopinya suami" ucap Dinka meletakkan secangkir kopi dimeja.


"Apa laptop mu rusak?" tanya Melvin tanpa menatap Dinka. "Iya pasti rusak" jawab Dinka. Kini tangannya memasukan apel kedalam mulut. Dinka tersenyum puas bisa melihat wajah Melvin dengan bebas. Hati sang suami pun sudah menjadi miliknya.


"Mau sampai kapan kau memandangi ku seperti itu" keluh Melvin. Ucapan Melvin langsung membuat Dinka beralih menatap lainnya.


"Oiya boneka ku" celetuk Dinka sambil berlari keluar kamar. Melvin menggelengkan kepala.


Dinka menghampiri kembar yang berada didapur. "Kembar boneka mickey mouse ku masih dikamar kalian ya?" tanya Dinka. "Iya nona, sebentar saya ambilkan ya" jawab Arini.

__ADS_1


Dinka kembali membuka kulkas dan meraih botol madu. Dia meminum madu sambil menunggu Arini.


Karena bonekanya lebih besar darinya, Dinka memeluknya dibagian depan. Alfan sedang menatap ponselnya sambil berjalan kelantai bawah. Mereka pun bertabrakan di dekat anak tangga.


Tangan Alfan dengan sigap meraih tangan Dinka agar tidak terjatuh. "Astaga kenapa kamu begitu teledor sih" keluh Alfan. Dinka mengintip dari balik bonekanya. "Kak Alfan yang gak lihat" ujar Dinka.


Alfan merebut bonekanya dari pelukan adik ipar. "Kenapa membeli boneka yang seukuran dengan tubuh mu? Bahkan malah lebih besar bonekanya dari pada kamu" ucap Alfan.


"Aku tidak membelinya sendiri tapi boneka ini di beri oleh..." Dinka langsung menutup mulut. Hampir saja dia keceplosan. Alfan dan Melvin tidak boleh tau kalau boneka itu diberi oleh Bobby. Bisa gawat kalau Melvin sampai tau.


"Diberikan siapa? Kenapa tidak menjawab?" tanya Alfan sedikit curiga. Dinka hanya cengengesan sambil merebut kembali boneka dan berlari ke atas tangga menuju kamar.


Dinka dengan cepat menutup pintu sedikit keras. Melvin merasa terganggu dan menatap sang istri. "Kau membawa boneka itu lagi?" tanya Melvin. Dinka tidak merespon suaminya. Dimasukannya kembali buah-buahan kedalam mulut.


Melvin selesai dengan pekerjaannya dan Dinka asik menonton tv yang ada dikamar. Melvin mengambil remote tv dan mematikannya.


"Kenapa dimatikan" gerutu Dinka. Melvin mendekat dan memeluk tubuh Dinka. "Aku ingin bermanja-manja padamu" rayu Melvin sambil mengangkat satu alisnya. Dinka tersenyum dan melepaskan secara perlahan pelukan suaminya.


"Tadi kan sudah masa minta lagi" ucap Dinka. Dinka meraih boneka mickey mousenya agar Melvin tidak memeluk tubuhnya lagi. "Kamu lebih memilih boneka itu dari pada suami mu" keluh Melvin. Tidak biasanya Melvin seperti ini. Apa itu sisi lain darinya yang tidak pernah nampak sama sekali pikir Dinka.


Melvin memasang wajah dinginnya. Tangannya disilangkan kedada. Direbutnya boneka itu dari pelukan Dinka. Terjadilah adegan tarik menarik boneka. Karena Melvin lebih kuat Dinka jadi kalah. Boneka besar itu dilempar Melvin ke lantai.

__ADS_1


Tangan Melvin berkeliaran kebagian dada sang istri. Bibir Melvin pun mencium dengan lembut bibir Dinka. Namun mereka tidak sampai melakukan olahraga malam diranjang. Melvin mencium kening sang istri sambil mengusap perutnya.


__ADS_2