Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
66. Dasar Kelakuan


__ADS_3

Melvin membuka selimutnya diwajah. Dinka langsung membuang pandangannya ke arah lain. "Apakah hobimu itu memandangi wajah ku" ucap Melvin dengan tegas. Untuk menutupi rasa malunya yakni membuat Dinka jenuh.


"Em..tidak..buat apa juga aku memandangimu" sahut Dinka sambil menatap ke arah pintu. "Kalau mengajak orang bicara hadap wajah bukannya melihat kearah lain" gerutu Melvin sembari mengambil posisi duduk.


Dinka menatap wajah Melvin. Benar raut wajah Melvin terlihat gusar. Begitu bodohnya dia menanyakan pertanyaan itu pada dokter. Karena hal itu sang suami marah. Semua merasuki pikiran Dinka satu persatu.


"Kenapa dengan wajah mu itu?" tanya Melvin. Dinka memanyunkan bibirnya sambil memasang wajah bersalahnya.


"Maaf ya karena aku kamu jadi marah" ucap Dinka lirih sembari menunduk. Terlihat ada air yang menggenang disudut matanya. Tangan Melvin meraih dagu Dinka. "Kenapa minta maaf?" tanya Melvin lagi. Kata-katanya pada Dinka terdengar halus.


"Aku sudah membahayakan kandunganku" Dinka berkata dan airmatanya menetes di pipi. Matanya saling bertatapan dengan Melvin.


Melvin mendekatkan bibirnya pada Dinka. Airmata menetes melewati hidung mancungnya dan turun kebibir Dinka. Secara bersamaan dengan airmata turun Melvin melumat bibir Dinka dengan lembut. Secara tak sadar Dinka merebahkan tubuhnya dan Melvin mulai menindih tubuh sang istri.


Mereka menikmati ciuman dan saling mengeratkan satu sama lain. Ciuman Melvin turun ke anggota tubuh lainnya. Junior miliknya sudah tidak bisa dikondisikan.


Melvin mengulangi perbuatannya pada sang istri meminta dilayani. Walaupun sudah di nasehati oleh sang dokter tetap saja dilakukannya. Tapi dia melakukannya dengan begitu hati-hati dan lembut.


Dasar kelakuan memang. Tidak bisa dipungkiri bahwa Melvin mulai terobsesi pada tubuh istrinya. Dinka juga menikmati kelakuan jahil dari suaminya. Mereka terlelap seusai perang hangat diatas ranjang.


+++

__ADS_1


Pagi hari Dinka menenggak tiga jenis vitamin sekaligus yang diberikan dari dokter. Dia sudah sarapan terlebih dulu karena menunggu waktu sarapan terlalu lama. Perutnya sudah demo minta di isi secepat mungkin. Tidak masalah baginya bertambah gendut selama kandungannya sehat dan normal.


Hari ini Melvin baru kembali berangkat ke kantor. Langkah kakinya menuruni anak tangga. Berjalan menuju keruang makan. Tubuhnya sudah rapih dengan setelan jas berwarna hitam tanpa dasi.


Alfan sudah berada di kursinya. "Mana adik ipar?" tanya Alfan. "Baru mandi" jawab Melvin. Alfan mengusap bibirnya sendiri menghapus air yang diminumnya. "Kalian..." ucap Alfan tidak diteruskan. Melvin menyendokan makanannya dan menatap kearah Alfan.


"Bagaimana dikantor?" tanya Melvin. "Begitulah aku kewalahan mengerjakan kerjaan mu seorang diri" ungkap Alfan. Melvin kembali fokus pada sarapannya.


Dinka memakai dress berbahan jeans. Rambutnya di kucir kuda. Langkahnya menuruni anak tangga sambil menggendong tas.


Melvin menyelesaikan sarapannya setelah melihat Dinka rapih. "Pagi kaka ipar" sapa Dinka. Alfan tersenyum.


Melvin berdiri dan melangkahkan kakinya menuju keluar rumah. "Kaka berangkat ke kantor sendiri" ucap Melvin tanpa menengok.


"Kak Alfan" jawab Dinka masih memandang keluar kaca mobil. Melvin pun terdiam sampai mobil tiba didepan kampus.


Dinka menyalami tangan suaminya. "Mau keluar begitu saja" ucap Melvin. Dinka yang sedang membuka pintu mobil menatap Melvin. "Apalagi? Bukankah aku sudah berpamitan" sahut Dinka.


Melvin menunjuk pipinya. Dinka memang kurang peka. Tangannya mengelus pipi Melvin seraya bertanya "pipimu kenapa?".


Melvin mendengus kesal. "Sudahlah cepat keluar" ucapnya sambil memandang kedepan. Setelah Dinka turun Melvin langsung melajukan mobilnya dengan cepat. "Kenapa dia? Apa aku salah lagi" Dinka berbicara sendiri.

__ADS_1


Reta dan Bobby memang sengaja menunggu Dinka didepan kampus. Mereka berdua menghampiri Dinka yang entah kenapa. Mulutnya terlihat mengoceh sendiri.


Bobby menatap Reta dan berkata "lihat kaka ipar loe kenapa bibirnya berbicara sendiri". Reta menggendikkan bahunya menjawab Bobby.


"Woy ngapain ngoceh sendiri?" tanya Reta. Dinka terkejut dengan suara Reta yang cempreng. Reta tertawa "gitu aja kaget". Dinka berjalan bersebelahan dengan Reta. Bobby mengikutinya dari belakang.


"Gue lihat mobil kak Melvin dia sudah pulang?" tanya Reta. "Sudah kemarin" jawab Dinka.


"Pantas saja kemarin loe gak berangkat kuliah ya karena kak Melvin pulang" sahut Reta. Dinka diam sejenak teringat hal yang terjadi kemarin. "Apa kamu sakit Din?" tanya Bobby.


"Kemaren boro-boro ke kampus keluar dari kamar aja gak boleh sama Melvin" perkataan dari Dinka membuat Bobby tercengang. Reta malah tertawa terbahak-bahak.


"Astaga kak Melvin ternyata sebegitunya ya ke loe" ujar Reta diselah tertawanya. Bobby berdehem. Dinka menatap tajam pada Reta. "Kalo mau ketawa kira-kira dong, lihat aku sengsara malah seneng" keluh Dinka.


"Baiklah maaf, itu karena kak Melvin over protektif sama loe kaka ipar" jelas Reta. Apa benar itu karena Melvin mulai memperhatikan dirinya. Dinka kembali menatap Reta dan ingin menanyakan sesuatu.


Kini mereka sudah berada didalam kelas dan duduk dikursi masing-masing. "Tadi waktu berangkat aku udah pamitan padanya tapi Melvin menunjukan pipinya aku kira pipinya kenapa-napa jadi aku usap eh malah dia kaya marah gitu. Emang aku salahnya dimana sih?" Dinka bertanya memasang raut wajah tak paham.


Reta menonyor kepala Dinka. "Ya loe jelas salah lah itu jelas-jelas kode minta dicium bego" ucap Reta sedikit mengeraskan suaranya. Dinka jadi cemberut. "Aku kan gak tau, lagian Melvin juga gak pernah kaya gitu sebelumnya" ungkap Dinka.


Bobby ikut mendengar perbincangan antara Reta dan Dinka. Tadinya dia bisa menahan tawanya namun sudah tidak lagi. Bobby tertawa cukup keras. Sehingga membuat anak-anak yang lain menengok kearahnya.

__ADS_1


"Ini cowok satu kenapa lagi" celetuk Reta. "Loe ngetawain apa barusan?" Reta bertanya dengan ketus. Bobby langsung geleng-geleng "enggak kok".


__ADS_2