Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
49. Himbauan atau Peringatan


__ADS_3

Dinka banyak mengobrol dengan Reta dan pelayan kembarnya. Melvin sibuk dengan pekerjaan kantornya di ruang kerja. Alfan juga ikut membantu sang adik menyelesaikan.


Melvin meregangkan ototnya dan melangkah menuju lantai bawah mencari sang istri. Dia melihat istrinya sedang bercanda ria bersama adik dan pelayan kembar.


'Sebahagia itukah kamu' batin Melvin. Terlihat wajah Dinka yang berbeda disaat Dinka berhadapan dengannya. Bila berhadapan dengan Melvin wajah Dinka sering kali takut. Namun bila bersama pelayan dan adiknya wajah Dinka terlihat sumringah dan ceria.


'Bisakah kau perlihatkan wajah itu bila berhadapan denganku' batin Melvin sembari asik melihat sang istri. Bagaimana mau terlihat sumringah bila Melvin memasang wajah menyeramkan bagi Dinka. Menyeramkan tapi tampan mungkin.


Melvin berjalan menghampiri sang istri. "Buat kan aku kopi dan bawakan cemilan" pinta Melvin tertuju pada Dinka. Namun si kembar yang berdiri dan menjawab "baik tuan".


"Siapa yang menyuruh kalian, aku menyuruh Dinka" ucap Melvin. "Kakak gak lihat aku lagi ngobrol sama Dinka" gerutu Reta. Mata Melvin tajam menatap sang adik. "Baiklah cepat kau layani dulu suami mu kaka ipar" lanjut Reta sambil menatap Dinka. Dinka pergi kedapur dan menyiapkan permintaan sang suami.


"Sudah cukup malam kau tidak kembali ke asrama?" tanya Melvin sembari berkacak pinggang.


"Kenapa? Apa aku tak boleh pulang kerumah?" tanya Reta balik. "Bukankah kau dari dulu sering kabur dari rumah dan tidak pernah betah dirumah" jawab Melvin berniat meledek adiknya.


"Kak Melvin" rengek Reta. Melvin tersenyum puas mengusili adiknya. "Kalau mau pulang minta diantar sopir" saran Melvin. Terkadang singa jantan ini memang terlihat sebagai kaka yang sangat menyayangi adiknya.


Melvin kembali ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian Dinka membawa dua cangkir kopi dan makanan ringan. "Terimakasih adik ipar" ucap Alfan. Dinka tersenyum manis. Senyuman dari Dinka yang terlihat dekat membuat degup jantung Alfan berdetak lebih cepat.


Alfan langsung meminum kopi yang sudah tersaji. Spontan memuntahkan karena masih panas. Dinka tertawa kecil melihat Alfan terlihat lucu.

__ADS_1


Melvin menurunkan dokumen yang sedang dibacanya dan menatap kearah Dinka dan Alfan. Melvin menangkap wajah gugup dari sang kakak. "Hati-hati dong kaka ipar" ucap Dinka tersenyum.


"Ah iya" jawab Alfan cepat. "Kau masih tertarik disini" suara berat dari Melvin membuat Dinka dan Alfan menoleh bersamaan. Bibir Melvin tersenyum separuh seraya berkata "bahkan kalian pun kompak melihat kearah ku".


Dinka langsung membuang tatapannya kearah lain. Dan mengangguk mengerti bahwa Melvin sudah mengusirnya untuk keluar dari ruang kerja.


+++


Pagi buta sinar matahari belum muncul sempurna menyinari bumi namun Dinka sudah sibuk bolak-balik kedalam kamar mandi.


Itu sudah entah keberapa kalinya masuk kekamar mandi. Sembari memegang perut Dinka membilas wajahnya di westafel. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Dia kembali ke atas ranjang dan bersandar pada kepala ranjang.


Tidak lama kemudian dia kembali berlari dan memutahkan isi perutnya. Namun seperti tadi yang keluar hanya tetesan air ludahnya.


Dinka tidak menanggapinya karena masih sibuk dengan muntahnya. Sekiranya sudah tidak mual dia menjelaskan.


"Mungkin masuk angin" jawabnya. Dinka mencoba berdiri namun sedikit terhuyung kesamping. Tangan kekar Melvin dengan sigapnya menangkap tubuh sang istri.


"Wajah mu pucat dan kau sedikit demam" ungkap Melvin. Dia menggendong istrinya kembali keatas ranjang.


"Akan kusuruh si kembar untuk membuatkan teh tunggu sebentar" ucap Melvin. Wajahnya terlihat sedikit cemas namun yang dilihat Dinka masih wajah dingin sang suami.

__ADS_1


Alfan berjalan dari lantai bawah keatas sambil menguap. Karena buru-buru Melvin bertabrakan dengannya di anak tangga. "Kau kenapa terlihat cemas vin?" tanya Alfan. Melvin nyelonong kebawah tanpa menghiraukan kakanya. "Kenapa dengannya" Alfan kembali berjalan menuju kamar.


Setelah teh siap Melvin membawanya kekamar dan membantu Dinka meminum teh hangat. "Mau periksa kedokter?" tanya Melvin suaranya terdengar lembut.


Dinka tersenyum dan menolak "tidak usah". Melvin menghela nafasnya. "Baiklah kalau kamu mau terlanjur sakit" pungkasnya.


Sekiranya merasa mendingan Dinka bersiap-siap pergi kuliah. Melvin pun sudah rapih dengan setelan jasnya. Matanya hanya menatap sekilas sang istri.


Dinka diantar oleh pak Iwan. Melvin berangkat bersama kaka tersayang. Di sepanjang jalan Alfan bercerita tentang hubungannya bersama Serin. Dia juga bercerita bahwa Serin main serong dibelakangnya.


Melvin menyarankan agar Alfan jangan terlalu percaya pada tunangannya itu. Alfan belum tau kalau Melvin ada hubungan khusus dengan tunangannya itu. Antara Alfan terlalu bodoh atau Melvin yang pintar menyembunyikan hubungannya.


Dikampus Reta dan Bobby mendekati Dinka yang terduduk di bangku taman kampus. Reta melihat wajah Dinka yang terlihat pucat.


"Ka muka loe kenapa pucet?" tanya Reta panik. Dinka menggeleng. "Ini muka loe pucet kenapa masih nekad berangkat kuliah sih" sambung Reta.


"Udah waktunya masuk ke kelas" ucap Dinka. Reta menggandeng tangan kaka iparnya. Bobby juga ikutan menggandeng.


"Pokoknya kalo gue sampai tau siapa orang yang udah kirim video itu gue bakal sangat berterima kasih padanya" celetuk Reta. Bobby menyahuti dengan bangga "ya loe emang harus berterimakasih kasih dong".


Reta dan Dinka kompak menengok kearah Bobby. "Kenapa seolah-olah loe tau siapa yang ngirim video itu" ucap Reta.

__ADS_1


"Gue hanya... ya gue juga harus berterimakasih dong sama dia" ujar Bobby cengengesan.


"Wangi kamu seperti biasa Din" kata Bobby mencoba mengalihkan pembicaraan. Bobby yang berkata dia juga yang kena lirikan mata tajam dari si tomboy. Dinka tersenyum melihat raut wajah Bobby yang lucu karena lirikan mata tajam dari Reta. Mereka terlihat cepat akrab seperti sudah menjalin pertemanan sejak lama.


__ADS_2