
Setelah melewati gerbang utama Dinka tak kunjung mendapat taksi. Dia sudah cukup lama menunggu. Mobil sang suami juga sudah lewat. Dinka mendesah sambil berjongkok karena lelah berdiri.
Ponselnya berbunyi ada panggilan dari Reta. "Hallo kaka ipar" sahut Reta.
"Hallo" ucap Dinka dengan suara yang lirih.
"Kenapa dengan suara loe?" tanya Reta.
"Gak papa kok" jawab Dinka.
"Dosen bentar lagi masuk nih kenapa loe belum masuk juga. Apa hari ini gak masuk lagi?" tanya Reta.
"Aku belum dapat taksi" keluh Dinka.
"Kak Melvin gak nganterin loe atau pak Iwan?" tanya Reta lagi.
"Em engga" ucap Dinka. Dia tidak akan memberitahu bahwa Melvin marah padanya.
"Baiklah tunggu ya akan ada yang jemput kok" Reta menutup telponnya.
Dinka menunggu jemputan yang dimaksud Reta. Sebuah mobil yang tidak asing baginya menepi tidak jauh dari Dinka. Bobby turun dengan gaya yang keren. Sengaja memang agar Dinka terpesona melihatnya. Tapi Dinka biasa saja melihat Bobby.
Bobby membuka kacamata hitamnya. "Hai nona manis butuh tumpangan?" tanya Bobby mencoba menggoda Dinka.
"Kamu kenapa bisa jemput aku kata Reta dosennya sudah datang" sahut Dinka. "Kamu tenang saja Reta sudah tanda tangani absen kita kok" ucap Bobby mengedipkan satu matanya. Bobby berlaku sopan pada Dinka mulai dari segi berbicara. Karena baginya Dinka sangat pantas diperlakukan dengan baik.
Dinka berjalan menuju mobil Bobby. Dinka menarik gagang pintu mobil keatas. Namun tidak berhasil dibuka. "Apa yang kau lakukan?" tanya Bobby bingung.
__ADS_1
"Membuka pintu mobilnya" perkataan dari Dinka membuat Bobby tertawa. "Nona manis pintunya jangan ditarik keatas cukup membukanya seperti mobil kebanyakan" ujar Bobby.
Dinka menggaruk tengkuk lehernya. "Biasanya mobil seperti ini bila dibuka pintunya harus ditarik keatas" Dinka menjelaskan.
"Mobil sport ini tidak semahal itu nona" jawab Bobby. Dia penasaran kenapa Dinka tidak berangkat kuliah. "Kemana saja kau sehingga tidak datang untuk kuliah?" tanya Bobby.
"Apa kita sedekat itu untuk saling berbicara?" tanya Dinka balik. Bobby mengangguk paham. "Baiklah mungkin kita belum cukup dekat" timpal Bobby dengan tersenyum.
Dia membawa mobilnya dengan cepat. Sampai di kampus Dinka dan Bobby menunggu Reta dikantin. Waktu yang tepat untuk Fahmi berbicara pada Dinka. Selagi tidak ada si tomboy bermulut pedas disampingnya.
Fahmi mendekat ke meja Dinka. "Bolehkan aku bicara dengan mu sebentar?" tanya Fahmi. Namun Bobby yang menjawab "bicara saja".
"Gue gak ngomong ke loe tapi ke Dinka" ucap Fahmi dengan ketus. Dinka menoleh menatap Fahmi. "Bicara apa kak?" tanya Dinka.
"Bisa ikut kaka sebentar?" tanya Fahmi. Dinka menatap Bobby meminta persetujuan dan pembelaan. Bobby maksud dengan tatapan Dinka yang tidak nyaman.
"Ayo Dinka" Fahmi meraih tangan Dinka. Dinka langsung melepaskan tangannya. "Santai dong kalo dia gak mau kenapa loe harus maksa" tangan Bobby ikut memegang tangan Dinka. Bobby dan Fahmi saling bersitatap.
Reta sudah berada di kantin melihat dua orang pria sedang merebutkan tangan kaka iparnya. Reta menghampiri mereka. "Ada apa ini?" tanya Reta ketus.
Fahmi dan Bobby menengok. Reta melepaskan tangan kedua pria didepannya dari tangan Dinka. Fahmi langsung pergi setelah datangnya Reta. Dia tidak mau urusan bertambah ribet. Karena Reta memang hobi membuat masalah dengannya.
+++
Dikantor Alfan memimpin sebuah rapat karena Melvin sedang pergi menemani tamu penting dari luar negeri. Bersama dengan rekan bisnis sang ayah Melvin menemani investor dari Dubai.
Melvin menemani kliennya makan siang yang menunya khas masakan indonesia semua. Diselah pembicaraan bisnisnya. Armand bertanya tentang kondisi ibunda Melvin.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi bunda mu?" tanya Armand yang merupakan rekan bisnis ayahnya. "Baik om" jawab Melvin.
"Aku sudah dengar semua ceritanya dari ayahmu, om turut prihatin atas apa yang menimpa bundamu" ungkap Armand.
"Terimakasih atas kepedulian dari om Armand" ucap Melvin tersenyum. Armand juga ingin menanyakan kabar istri Melvin. Namun tidak jadi karena mungkin terbilang aneh tiba-tiba menanyakan kabar istrinya.
Mereka kembali ke perusahaan dan mengadakan penandatanganan kontrak kerja sama. Armand sengaja terbang dari Malaysia karena permintaan dari Arya. Untuk menemani Melvin bertemu dengan klien bisnis yang sangat penting itu. Dengan senang hati pastinya Armand menemani Melvin. Karena keluarga Tama sudah dianggap seperti keluarga sendiri baginya.
Armand mampir ke sebuah universitas. Dia menghubungi anak tirinya. Setelah menunggu cukup lama anak tirinya keluar juga.
Dinka dan Reta menunggu Bobby di bawah pohon taman kampus. "Siapa dia?" tanya Dinka. "Sepertinya ayah tirinya Bobby" jawab Reta.
Dinka merasa pernah bertemu dengan pria paruh baya yang mengobrol dengan Bobby. Dinka mencoba mengingatnya lagi. Benar ingatannya pernah bertemu dengan pria itu.
"Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat" ucap Dinka. Reta menoleh pada Dinka seraya bertanya "dimana?".
"Di sebuah acara malam itu sewaktu aku belum menjadi istrinya kak Melvin" ungkap Dinka. Dia mengajak Reta menghampiri Bobby. Untuk sekedar menyapa pria paruh baya itu.
"Siang om" sapa Dinka dan Reta kompak. Dinka menyalami tangan Armand diikuti oleh Reta. Armand tercengang melihat Dinka. "Nak Adinka ya?" tanya Armand. Dinka tersenyum.
Kali ini giliran Bobby yang tercengang. "Dari mana ayah tau nama Dinka?" tanya Bobby penasaran.
Armand menjelaskan pada anak tirinya bertemu dengan Dinka di anniversary nya. "Ayah bertemu dengan Adinka di pesta anniversary ayah dan bunda, ayah juga bertemu dengan suaminya" jelas Armand.
"Kamu kuliah disini?" tanya Armand. "Iya om" jawab Dinka tersenyum. "Baguslah" sahut Armand. Sungguh suatu kebetulan yang tidak disangka oleh Armand. Dia ingin bertemu dengan Dinka lewat Melvin. Namun sekarang tidak sengaja dipertemukan dengan Dinka.
Armand melanjutkan mengobrol dengan Bobby. Sedangkan Dinka dan Reta meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1