Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
160. Perhatiannya seorang kekasih


__ADS_3

Bobby sudah bertengger asik dengan mobilnya di halaman rumah Reta. Menjemput sang kekasih adalah kegiatannya rutin setiap hari. Hari libur pun dirinya masih tetap pergi kerumah Reta untuk sekedar bertamu atau mengajak pergi bertamasya.


Kemeja berwarna biru muda di padu padankan dengan celana hitam panjang disertai topi menunjang penampilannya dihari ini. Biasanya hanya memakai celana pendek selutut dengan t-shirt pendek juga. Sembari bersiul Bobby bersandar di samping mobil. Tepatnya di sisi pintu sebelah kiri. Matanya melihat ke arah jarum jam yang melekat di tangan kirinya. "Sudah jam segini kenapa belum keluar juga" keluh Bobby berbicara sendiri.


Akhirnya menunggu beberapa menit sang kekasih keluar dari rumahnya. "Tumben lama banget nih beb" ucap Reta. Reta belum sempat menjawab sudah mendekati Bobby. "Haaacchhiii" Reta bersin tepat di depan wajah Bobby. Reta melakukannya dengan sengaja untuk menulari sang kekasih. "Kamu kenapa bersin di depan ku beb" gerutu Bobby sembari mengelap wajahnya dengan tangan.


"Sudah ayo jalan, telat nih" ajak Reta masuk kedalam mobil menyingkirkan Bobby. "Padahal mau aku bukain lho" sahut Bobby. Reta tidak menjawabnya dan langsung duduk. Mobil melaju membelah jalanan kota. Sudah cukup ramai pagi ini. Banyak kendaraan yang lalu lalang.


Sampailah di tempat magang, Bobby memarkirkan mobilnya di parkiran bawah. Sebelumnya Reta sudah turun tetap di depan perusahaan. Tanpa sengaja mobil Bobby menyenggol sebuah mobil lain. Bobby pun keluar untuk mengecek apakah mobil yang di serempetnya baik-baik saja atau tidak. Si pemilik mobil pun ikut keluar dari arah yang berbeda. Tanpa melihat si pemilik mobil Bobby minta maaf. Matanya fokus pada bagian mobil yang lecet. "Aduh sorry banget nih mobilnya ke gores" Bobby garuk-garuk kepala. "Iya gak papa kok" ucap seorang wanita.


Suara itu membuat Bobby tidak asing. Mata Bobby spontan melihat kearah si pemilik mobil yang merupakan wanita. "Kamu" Bobby terkejut melihat Serin berada di depannya. "Hai Bob apa kabar?" tanya Serin dengan suara yang manis. "Ngapain kamu disini?" tanya Bobby heran. "Aku disini untuk kerjalah" jawab Serin sembari tersenyum.

__ADS_1


Bobby melihat Serin dari atas sampai bawah. Penampilan Serin membuatnya mengernyit. "Kamu kerja pake pakaian begini, gak salah tempat?" tanya Bobby. "Kenapa memangnya? apakah ada yang salah?" tanya Serin balik. "Kalau mau kerja pake rok yang sopan dong, rok mini kaya gitu di pake" jawab Bobby.


"Aku disini bekerja sebagai sekretaris jadi harus memakai rok pendek warna hitam dong" Serin menjelaskan sembari berjalan mendekat ke arah Bobby. "Kenapa? kamu pasti tergoda" bisik Serin. Ucapan Serin membuat Bobby menjadi merinding. Bulu kuduknya seketika berdiri seperti sedang di bisiki oleh makhluk halus. "Kamu ini kaya makhluk gaib ya, sering nongol secara tiba-tiba" ejek Bobby berbisik balik pada Serin.


"Sialan" ucap Serin dengan nada membentak dan ketus. Bobby hanya tersenyum sembari berjalan menjauh. Bobby segera menemui sang ayah untuk meminta penjelasan kenapa Serin bisa bekerja di perusahaannya. Bobby langsung masuk keruang kerja presdir tanpa mengetuk pintu. "Papah apa-apaan sih, kenapa memperkerjakan karyawan sembarangan" ucap Bobby sambil langsung masuk kedalam. Didalam ada Alfan yang sedang membahas kontrak kerjasama. "Eh kak Alfan" Bobby bersikap manis. Ekspresi wajahnya seketika berubah karena ada Alfan di sana. Setiap ada Alfan atau Melvin, Bobby selalu memberi kesan terbaiknya.


"Kamu tadi ngomong apa?" tanya Armand. "Itu pah kenapa Serin kerja di perusahaan ini, apa papah sengaja memperkerjakannya?" tanya Bobby balik. "Iya memang kenapa?" tanya Armand lagi. "Kenapa pah, bukannya orang yang lain juga banyak. Kenapa harus Serin sih" keluh Bobby. Mendengar Serin bekerja di perusahaan Armand membuat Alfan juga ikut menanyakan hal yang sama seperti Bobby. "Iya om kenapa Serin bekerja di sini?" tanya Alfan.


Seketika Bobby memukul meja kerja ayah tirinya itu. "Pokoknya aku gak setuju kalau wanita itu bekerja di sini pah" ucap Bobby dengan suara yang keras. "Kamu ini bisa tidak bekerja saja yang rajin, jangan bisanya cuma mesra-mesraan sama pacarmu itu dan mengeluh. Tidak usah mengurusi urusan karyawan" bentak Armand.


Alfan melirik kearah Bobby. Yang di maksud pacar Bobby ialah sang adik angkatnya itu. "Kamu ngotot minta magang di sini jadi hanya agar bisa bermesraan dengan Reta" Alfan berkacak pinggang sembari memandang Bobby. "Enggak kak, papah aja yang ngomongnya ngelantur" jawab Bobby cengengesan.

__ADS_1


"Ngelantur-ngelantur, kamu kira papah gak meminta orang buat ngawasin kamu selama jam kerja" sahut Armand membela diri. "Ya sudah mulai besok kamu pindah magang di perusahaannya Arya saja, jangan disini" imbuh Armand. "Papah kok tega gitu sih" Bobby memasang wajah memelasnya.


"Keluar sana kamu, papah mau meeting" usir Armand. Bobby keluar dengan wajah cemberut. Dia pun segera menemui sang kekasih untuk memberitahukan semua. Melihat Reta yang sedari tadi bersin terus membuat Bobby tak tega. " Beb kamu sakit ya?" tanya Bobby. "Kayaknya gara-gara kemaren di siram air deh jadi sedikit demam" sahut Reta. "Kamu duduk dulu ya biar aku belikan obat flu" Bobby menyuruh Reta untuk duduk. "Gak usah gak papa kok" jawab Reta.


Setelah meeting kelar, Alfan menemui sang adik. "Dek kamu baik-baik saja?" tanya Alfan. "Iya kak" jawab Reta. "Tapi wajah kamu pucet, Bobby kemana?" tanya Alfan lagi. "Dia lagi beliin obat tadi tapi belum kembali" jawab Reta dengan suara yang parau. "Kamu harusnya gak usah berangkat dulu, sudah tau demam begini" Alfan menasehati sang adik sambil memegang kening Reta.


"Kamu ini demamnya tinggi, ayo kita pulang. Nanti kakak akan bilang pada om Armand untuk meminta cuti" Alfan langsung memapah Reta. Tidak sengaja mereka berdua melihat Bobby yang sedang berbicara dengan Serin dari kejauhan. Alfan memandang tajam kearah Bobby dan Serin. "Sedang membicarakan apa mereka, kelihatannya serius" ucap Alfan. Reta juga melihat ke arah Bobby dan Serin.


Terlihat Serin membisikan sesuatu pada Bobby. Dan membuat Bobby terkejut. "Sepertinya bukan masalah yang penting kak, tapi ngapain juga Serin di sini" ucap Reta. "Om Armand memperkerjakan dia disini" sahut Alfan. "Sejak kapan?" Reta menoleh ke kakaknya. "Kakak juga kurang paham dek" jawab Alfan.


Bobby segera pergi menjauh dari Serin dengan membawa kantong plastik berisi obat dan roti. Langkahnya menuju ke Alfan dan Reta. "Kak Alfan mau bawa Reta kemana? Apa sakitnya tambah parah?" tanya Bobby. Tanpa menjawab Alfan langsung saja membawa Reta untuk pergi. Berbeda dengan Reta yang menyahuti sang kekasih dan berkata "aku pulang dulu ya".

__ADS_1


Melihat kemarahan di wajah Alfan, membuat Bobby takut untuk ikut mengantarkan Reta pulang.


__ADS_2