Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
59. Rasa Gundah


__ADS_3

Melvin telah kembali ke hotelnya. Dia menyuruh pengawal untuk membawakan kopernya pindah dari kamar tersebut. Melvin sengaja memindahkan kopernya saat Serin tidak ada dikamar hotel. Entah pergi kemana wanita itu.


"Kopernya mau ditaruh dimana bos?" tanya pengawal. "Dikamar mu berapa orang?" tanya Melvin balik. Pengawalnya mengernyit tapi tetap menjawab "tiga orang bos".


"Siapa yang kamarnya dua orang?" tanya Melvin lagi. "Arka dan Syam bos" jawab sang pengawal. "Bawa koper ku kedalam kamar mereka" perintah Melvin.


Ada sebuah pesan singkat yang diterimanya. Pesan itu dari Armand rekan bisnis sang ayah.


~Jangan sampai terlambat keacara pertemuannya. Om tunggu kamu disana~ isi pesan teks. Melvin berjalan menuju restoran hotel di ekori oleh beberapa pengawal. Dia memesan menu makanan.


Serin telah kembali dengan berbagai macam barang belanjaan. Dia melihat koper dan pakaian Melvin tidak ada didalam kamar. Apa Melvin sudah kembali ke indonesia. Katanya sampai seminggu disini. Itu yang dipikirkannya.


Serin mencoba menghubungi ponsel Melvin namun tidak diangkat. Dia berjalan ke resepsionis menanyakan Melvin. Namun kamar atas nama Melvin belum melakukan check out.


"Kemana sih Melvin" Serin berjalan ke sekeliling hotel. Dia menemukan pengawal Melvin yang beranjak masuk kedalam restoran. Serin pun ikut masuk kedalam. Matanya mencari ke sekitar. Akhirnya menemukan Melvin yang duduk tidak jauh dari jendela.


"Melvin kenapa tidak mengangkat teleponku" keluh Serin mendudukan dirinya disamping Melvin.


"Tidak dengar bunyi ponsel" jawab Melvin dengan santainya. Serin mengambil steak daging dipiring Melvin. "Aaaaa" pinta Serin. "Aku punya tangan sendiri" jawabnya lembut.


Serin menjadi cemberut dan memakan steak dagingnya. "Kau mau pesan apa pesanlah" sahut Melvin. Serin memanggil pelayan restoran untuk memesan.


Melvin kembali kedalam kamar hotel untuk membersihkan tubuhnya. Setelan jas berwarna putih dan celana berwarna hitam dikenakannya. Dia pergi ke acara pertemuan diantar pengawal. Serin memaksakan untuk ikut, jadi Melvin membawanya.

__ADS_1


Sampai di hotel mewah tempat acara. Sudah banyak orang yang datang. Serin menggandeng lengan Melvin dan berjalan dengan anggun. Wajah cantiknya cukup pantas disandingkan dengan Melvin. Karena hanya dia wanita yang cocok untuk Melvin pikirnya.


Melvin mengajak Serin untuk menyapa beberapa orang. Serin terkejut melihat adanya Armand di pesta pertemuan itu. Dia langsung gelagapan. "Emm vin aku mau ke toilet sebentar ya" ucapnya. Serin melepas tangannya dari lengan Melvin dan berjalan cepat untuk menghindari Armand.


"Om Armand" sapa Melvin sambil menyalami tangannya. "Om lihat tadi ada wanita disebelahmu" sahut Armand. "Oh dia temanku om" ucap Melvin tersenyum.


"Mari om kenalkan kamu sama seseorang yang sangat penting di acara ini" jelas Armand.


Malam semakin larut acara pesta pun sudah kelar. Melvin bersandar pada mobilnya sembari melihat arlojinya. Menunggu Serin yang entah hilang kemana.


"Mari bos kita pulang" ajak pengawal. Melvin diam dan matanya melihat sekitar. Mungkin Serin sudah kembali ke hotel pikirnya. Dia masuk kedalam mobil.


Melvin memastikan keberadaan Serin dan mengetuk pintu kamar Serin. Serin membuka pintu kamar. "Jadi kau sudah kembali" ucap Melvin.


Melvin duduk disofa sambil menyilangkan kedua tangannya. "Tapi aku kira kau menghindari seseorang" ujar Melvin. Serin juga duduk disebelahnya.


Raut wajah Serin terlihat mencurigakan bagi Melvin. "Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Melvin.


"Eh tidak ada vin, mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu" Serin memegang tangan Melvin. Perlahan Serin menyandarkan tubuh pada dada bidang Melvin. Jemarinya bermain di dada Melvin. "Bagaimana kalau kita habiskan malam ini dengan sesuatu yang saling menyenangkan" rayu Serin.


Melvin menggeser badan Serin. "Aku lelah" jawabnya sambil berdiri. Tangan Melvin diraih oleh Serin. "Kenapa kau selalu menolaknya? Apa karena kau sudah menikah. Aku tidak masalah Melvin aku mau menerimamu" Serin berkata sambil menitikan airmata. Merasa sudah kehilangan Melvin.


Melvin mendekatkan wajahnya pada Serin. Mata elangnya yang biasa tajam kini melembut. "Aku tidak bisa menyentuhmu karena kau bukan milikku" ucapnya lirih sembari menghapus airmata Serin.

__ADS_1


"Aku mencintai mu vin, aku salah mengira waktu dulu setelah tau kau menikah aku baru sadar bahwa orang yang ku cintai kamu bukan Alfan" jelasnya. Melvin tersenyum. "Tidurlah besok kita akan keliling kota ini" Melvin mengusap rambut Serin dengan lembut.


+++


Dinka berguling kesana kemari. Sudah hampir dua jam lebih matanya tak juga mau terlelap. Padahal badannya sudah merasa lelah. "Kenapa mataku masih betah melek sih" gerutunya. Dia mengelus perutnya yang masih ramping.


Pikirannya tertuju pada sang suami. Belakangan ini Melvin memang tak pernah menghubunginya. Apa suaminya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Setidaknya memberi kabar walaupun hanya pesan singkat yang dikirim.


Dinka jadi merasa gelisah memikirkan Melvin. 'Baiklah mata cepat tidur' gumammnya dalam hati sambil memejamkan mata.


Terdengar ada suara mencurigakan dari bawah tangga yang merupakan ruangan kecil. Dinka keluar dari kamar untuk melihat keadaan. Langkahnya mengendap-endap seperti akan menangkap sesuatu.


Lampu yang menyala hanya lampu penerang disudut dan yang menempel pada tembok. Pelayan pun sudah tidak ada yang beraktivitas. Suara tersebut semakin keras. Suaranya seperti ada orang yang menarik tumpukan kardus.


Dinka melihat sosok tubuh tinggi yang sedang menarik kardus. Lampunya tidak terlalu terang jadi pandangannya tidak jelas.


"Adik ipar kau belum tidur" terdengar suara Alfan. Dinka sedikit terkejut. "Kak Alfan ngapain disitu?" tanya Dinka sembari menuruni anak tangga.


"Kemarilah bantu kaka memindahkan buku-buku kedalam kamar" pinta Alfan. "Kenapa tidak meminta bantuan pelayan kak?" tanya Dinka.


"Mereka sudah tidur kasian kalau diganggu" Alfan menjawab dengan senyuman. Dinka melihat buku yang tersimpan rapih didalam kardus. "Untuk apa buku-buku ini?" tanya Dinka penasaran.


"Kaka mencari selembar kertas yang diletakkan disalah satu buku disini, kaka lupa menaruhnya dibuku yang mana" jawab Alfan. Dinka pun ikut membantu Alfan mencari buku yang dimaksud.

__ADS_1


__ADS_2