Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
183. Tantangan


__ADS_3

Melvin sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. "Hari ini ada meeting dadakan, proposal yang waktu itu sudah kamu siapkan?" tanya Melvin pada sekretarisnya. Silma bengong menatap sang bos. "Dengar tidak" Melvin mengetuk meja kerja Silma. "Proposal yang mana bos?" tanya Silma kebingungan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Yang saya minta, seminggu yang lalu" suara Melvin sedikit ketus. "Bukannya itu sudah di serahkan pada pak Alfan ya pak. Saya minta tanda tangan anda dan di bawa oleh pak Alfan kerumah sakit katanya" jelas Silma.


Reta baru saja datang dari pantry dengan membawa segelas kopi. Di seruputnya kopi tersebut dengan santai di depan sang kakak. Silma hanya melirik tindakan berani Reta. "Kamu bukannya kerja malah asik bersantai ria ya" ucap Melvin dengan tegas. "Santai dong kak ini masih cukup pagi kok" sahut Reta. "Cukup pagi apanya ini sudah siang. Kalau kamu begitu gaji kamu bulan ini tidak akan kakak bayarkan" Melvin tersenyum tipis. Reta hanya memanyunkan bibirnya sembari meletakkan kopinya di meja.


Melvin berpikir ulang. Dia tidak menyadari file-file yang di bawa sang kakak merupakan berkas yang penting. Matanya fokus melihat jam tangan. "Kurang setengah jam lagi meetingnya, kamu hubungi kak Alfan suruh dia kemari membawakan file yang waktu itu" perintah Melvin dengan cepat. "Tapi pak apa waktunya akan cukup?" tanya Silma balik dengan nada yang halus. "Ya kamu usahakan dong" Melvin dengan nada serius. "Dan kamu harus serius kerjanya" Melvin beralih pada Reta.


Melvin tidak mau ada kesalahan disaat sang ayah berada di kantor. Itu akan membuatnya malu dan pasti bakalan di maki oleh sang ayah. Arya memang sengaja datang hari itu juga. Dia sudah tau akan ada rapat dadakan. Semua itu sudah di rencanakannya bersama Armand.


Arya ingin melihat seberapa kesiapan sang anak untuk bisa memimpin perusahaan. Selama di bawah kendali sang anak memang perusahaannya maju pesat di kancah internasional. Namun Arya masih meragukan kemampuan Melvin. Yang terkadang masih terlihat tidak serius. Bahkan Melvin pernah mengancam akan menghancurkan perusahaan. Ketika Melvin masih muda dulu karena problem yang terjadi antara Arya dan Alfan. Karena sang anak lebih memilih Alfan daripada kerajaan bisnis sang ayahnya itu.


"Ayah ingin lihat sampai mana kesiapan kamu menghadapi klien di meeting kali ini tanpa proposal" Arya berbicara sendiri. Pertemuan dengan klien kali ini memang sangat penting untuk kemajuan perusahaannya. Namun Arya sudah menyiapkan sebuah situasi yang harus di kendalikan baik oleh Melvin.


"Tuan besar, tuan Armand sudah datang" ucap paman Jay yang menghampiri Arya. "Baiklah kita langsung keruang konferensi" Arya berjalan lebih dulu di depan paman Jay. Di buntuti oleh Armand dari belakang.

__ADS_1


"Apa kamu tidak keterlaluan pada anakmu sendiri" Armand menepuk bahu Arya dan mensejajarkan langkahnya dengan Arya. "Biarkan saja dia, aku yakin dia pasti bisa melalui masalah kali ini" sahut Arya dengan percaya diri.


"Benar sekali memang kita mendidik anak laki-laki harus dengan kasar dan tegas seperti ini" timpal Armand dengan bangganya. Arya menengok kesampingnya. "Kamu sendiri malah selalu memanjakan Bobby" Arya mengalihkan tangan Armand di pundaknya.


"Hei bro dia beda lagi, dia anak kesayangan istri ku. Mana mungkin aku mendidiknya secara tegas. Yang ada malah Bobby benci padaku" sahut Armand. Arya hanya menggelengkan kepala. "Bro-bro, sudah tua juga ingat umur jangan bertingkah seperti anak muda saja" Arya berkata sambil berjalan mendahului Armand.


"Apa masalahnya toh wajah kita masih terlihat muda, umur saja yang tua. Bahkan bila sedang bersanding langsung dengan anak-anak kita masih terlihat seperti kakak beradik dengan mereka" Armand kembali mengejar langkah kaki Arya.


"Janganlah bersikap seperti kamu sudah berumur Arya, bersenang-senanglah" Armand menunjukan barisan giginya. "Kamu harus sadar diri kita sudah punya cucu" timpal Arya. Kini mereka sudah tiba di ruang untuk meeting.


Melvin masih menunggu sang kakak yang sudah berada di jalan untuk mengantarkan dokumennya. Silma mengetuk pintu ruang kerja bosnya dan masuk kedalam. "Pak Melvin saya ada salinan proposalnya" ucap Silma secara lembut. "Kenapa tidak bilang dari tadi" Melvin berdiri dan menghampiri sekretarisnya. "Maaf pak baru ingat" Silma cengengesan.


"Kamu itu bagaimana sih" gerutu Melvin. Silma meletakkan proposalnya di meja. "Baiklah kamu ikut saya ke ruang konferensi sekarang" Melvin mengambilnya dan melangkahkan kakinya menuju tempat meeting.

__ADS_1


Didalam sudah ramai orang. Matanya sekilas melirik pada sang ayah dan klien dari luar negeri itu. Melvin menghembuskan nafasnya perlahan dan dalam. Agar bisa rileks dan tidak gugup. Sejujurnya itu bukan pertama kalinya dia melakukan presentasi di muka umum. Namun kali ini dia benar-benar gugup. Sang ayah menangkap wajah gugup Melvin dan bibirnya tersenyum tipis.


"Baiklah saya akan memulai presentasi yang sudah saya siapkan" Melvin memulai ucapannya. Silma membagikan dokumen pada satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Melvin menjelaskan dengan bahas inggris di sertai bahasa indonesia dengan lancar. Bila kerjasama tersebut sukses bisa membuatnya untung beratus-ratus milyar.


Setelah satu jam Melvin akhirnya selesai menjelaskan detail proposalnya. Seketika suara riuh tepuk tangan mengisi ruangan konferensi. "Sepertinya tuan muda menyiapkan presentasi ini dengan baik tuan" ucap paman Jay. "Iya begitulah dia sama seperti ku" sahut Arya dengan bangga.


Alfan telah sampai di perusahaan sejak tadi. Karena terjebak macet dia sedikit terlambat. "Hey vin apakah meeting nya berjalan lancar?" tanya Alfan. Melvin tersenyum kecut. "Apa yang terjadi?" Alfan mendekati sang adik.


"Menurut kakak?" tanya Melvin balik. "Ya pastinya lancarkan. Kamu tidak akan membuang kesempatan kerjasama ini" sahut Alfan. Melvin tersenyum bahagia. "Sukses kak" Melvin menjawabnya dengan cepat. "Baguslah, ayah pasti senang dengan kinerja kamu. Sebenarnya dia sudah memiliki rencana untuk membuat kamu kesulitan" ungkap Alfan.


"Maksud kakak?" tanya Melvin. "Ayah kerjasama dengan om Armand tidak memberitahukan ada klien dari rusia yang datang hari ini" jawab Alfan. "Jadi ayah sengaja ingin membuatku dipermalukan" Melvin mengepalkan tangannya karena marah. "Hahahah tidak seperti itu juga. Ayah ingin melihat kamu mampu atau tidak mengemban tanggung jawab di perusahaan ini" jelas Alfan sambil tertawa melihat reaksi wajah Melvin yang marah.


"Kakak bukannya menghiburku malah menertawakan ku" gerutu Melvin. "Maaf adikku yang tampan, karena kamu sudah berhasil memenangkan kerjasama ini kita makan malam di luar untuk merayakannya" ucap Alfan sambil menepuk bahu Melvin. "Ayah setuju dengan itu" Arya menyahuti ucapan Alfan. Langkah kaki Arya masuk kedalam ruang kerja Melvin.

__ADS_1


"Kamu ajak Clarisa fan" pinta Arya. Alfan terdiam tidak menjawab sang ayah. "Kenapa harus mengajak Clarisa" keluh Melvin.


"Ayah ingin mengundangnya makan malam bersama keluarga kita" jawab Arya. "Tapi aku tidak setuju ayah" timpal Melvin. Alfan masih diam membisu. "Kak Alfan tidak usah menjemput Clarisa" imbuh Melvin.


__ADS_2