Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Ingin hadiah cucu


__ADS_3

Ketika dirinya pergi ke kota niat awal adalah untuk mengejar cita-cita. Namun kini situasi dan kondisi sangat berbanding terbalik dengan apa yang direncanakan.


Dinka mendesah. Mungkin semua mimpi yang ingin dicapainya harus dibuang jauh. Cita-citanya ingin menjadi guru mengajar anak-anak didesanya.


Bermimpi hidup dengan Abimanyu didesa. Hidup didekat orang-orang yang dia sayangi. Membina rumah tangga bersama orang yang dicintai. Semua harus musnah begitu saja. Mungkin nasib nya sudah berubah yang hanya bagaikan upik abu kini menjadi cinderella. Seperti kisah dongeng yang dibacanya pada waktu kecil.


Hidup menjadi istri dari keluarga konglomerat merupakan tantangan baru untuk Dinka. Dia harus menjaga sikap dimanapun dia berada. Tidak sebebas seperti biasanya. Harus ada minimal satu pengawal dibelakangnya ketika dia pergi. Harus diantar jemput oleh sopirnya. Dan yang membuat dia risih adalah ketika banyak pengawal dan pelayan mengikutinya ketika dia berjalan dirumah barunya. Sebenarnya hanya ketika dia bersama Melvin.


'Pantas saja Reta gak betah dirumah dan ingin hidup mandiri' gumamnya.


Dia sedang menanti sang suami pulang kerja bersama para pelayan lain. Dan mertuanya juga pulang dari rumah sakit. Dua buah mobil mewah datang berparkir didepan rumah. Mobil pertama ditumpangi oleh tuan besar. Mobil kedua pasti adalah suami dan kakak iparnya.


Biasanya Melvin akan mengemudi sendiri. Namun entah kenapa setelah dia menikah lebih suka diantar jemput sopir pribadinya.


Tuan muda pertama turun lebih dulu dan tersenyum menyapa Dinka. Tuan muda kedua turun dengan memasang wajah dinginnya seperti biasa.


Arya turun bersama dengan sang istri yang baru keluar dari rumah sakit. Dia mendorong kursi roda istrinya membawa masuk kedalam rumah. Dinka dipeluk oleh ibunda mertuanya setelah beberapa hari tidak bertemu.


Dinka menawarkan diri untuk mendorong kursi roda mertuanya. "Ayah biar Dinka saja yang mendorongnya" ucap Dinka dengan lembut.

__ADS_1


"Reta tidak datang kesini?" tanya Arya pada Dinka. Tapi Alfan yang menjawab. "Dia bilang ada urusan yah jadi tidak bisa menyambut kepulangan bunda".


"Memang urusan itu lebih penting dari bundanya sendiri." Arya mulai mengeraskan suaranya. Tidak ada yang berani menjawab atau menjelaskan lagi.


"Sudah yah ayo masuk" ucapan lembut dari Sarah membuat Arya tidak jadi marah. Dinka mendorong kursi rodanya sampai didepan tangga. "Biar ayah yang menggendong bunda" ucap Arya.


Arya membawa istrinya kedalam kamar. Alfan mendekati Dinka. "Bagaimana pesta kejutannya?" tanya Alfan berbisik. Dinka mengacungkan kedua ibu jarinya. "Beres" ucapnya lirih. Melvin hanya menatap kedua makhluk yang bisa bernapas didepannya.


Dinka dan kakak beradik itu memang berencana menyiapkan sebuah pesta kejutan kecil. Karena hari ulangtahun ayah mertuanya tiba dihari ini.


Reta sibuk menghias taman belakang rumah dengan pelayan kembarnya. Mereka sengaja tidak memberitahu pelayan lain karena takut kejutan itu akan bocor.


"Bagaimana sudah terpasang semuanya?" tanya Reta. Pelayan kembarnya menjawab dengan kompak "sudah non".


Alfan membuka pintu kamar. Reta, Dinka dan Melvin masuk kedalam. "Happy Birthday ayah" ucap mereka dengan kompak. Arya sedikit kaget dengan pesta kejutan itu dan tersenyum. Dinka yang memegang kue mendekatkan kue ulang tahunnya pada sang ayah mertua. Arya meniup lilinnya disertai dengan nyanyian tiup lilin.


"Eits sebelum ayah meniup lilin harus berdoa dulu, katakan apa yang ayah inginkan" ucap Reta.


"Ayah ingin secepatnya punya cucu dan semoga bunda cepat sembuh dari sakitnya" ucap Arya dengan lantang sembari meniup lilin. Reta bertepuk tangan. Alfan menyikut badan Melvin disebelahnya. Dinka tersenyum kecut.

__ADS_1


"Tuh ayah pengin cepet punya cucu" ujar Reta. Sarah bahagia melihat ketiga anaknya dan menantunya. Walaupun Alfan dan Reta bukan anak kandungnya tapi dia sangat menyayangi mereka.


Setelah memotong kue ulang tahun. Arya dan Sarah dibawa ke taman belakang rumah. Keadaan bunda Sarah yang masih kurang sehat tetap saja ingin ikut ke taman.


Para pelayan menyiapkan kebutuhan untuk barbeque. Mereka mengadakan pesta barbeque ditaman belakang rumah. Pak Mimin bertugas membakar daging. Bi Nah dibantu oleh Dinka membakar jagung.


Setelah mengisi perut mereka mengobrol dan bercanda ria. "Kapan nih kira-kira ayah dan bunda bisa dapat cucu?" tanya Sarah. Dinka langsung tersedak dengan pertanyaan dari mertuanya. Melvin memberikan air putih pada istrinya. Semuanya tertawa melihat Dinka yang tersedak.


"Mungkin secepatnya bun" jawab Alfan sembari melirik adik lelakinya. Melvin hanya berdehem.


Dinka menjadi malu dengan permintaan mertuanya. Dia terus menatap kebawah sembari mengunyah makanannya.


"Dinka kan masih kuliah baru semester satu bun kasian dia kalo punya anak secepat itu" bela Melvin. Dinka mengangguk dengan cepat.


"Tidak masalah kalau Dinka masih kuliah setelah melahirkan dia kan bisa melanjutkan lagi kuliahnya" kali ini Arya yang berkata.


"Iya benar tuh kata ayah lagian umur Dinka juga sudah pantas untuk punya anak iyakan ta" ucap Alfan meminta persetujuan Reta. "Bener banget tuh kak, kalo ada tangisan bayi dirumah ini kan jadi tambah rame" timpal Reta.


Melvin menghembuskan nafasnya. Mengambil beberapa daging ayam yang sudah di bakar tadi. Dinka menanggapinya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Sudah cukup malam bunda harus beristirahat sekarang" Arya membawa istrinya masuk kedalam rumah. Melvin juga ikut masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dinka, Reta dan Alfan masih terduduk dikursinya masing-masing. Mereka melanjutkan mengobrol.


__ADS_2