Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
167. Hangatnya kasih sayang kakak


__ADS_3

Alfan masuk kedalam kamarnya untuk mandi. Setelah ritualnya di dalam kamar mandi selesai dia pun kembali ke dalam kamar sang adik. Untuk membersihkan sisa muntahan Melvin dan menggantikan bajunya. "Dinka" Melvin kembali mengigau di dalam tidurnya. "Baru kali ini aku melihat Melvin seperti ini. Pasti hatinya sangat hancur sudah di pisahkan dengan istrinya" gumam Alfan lirih.


Satu persatu baju Melvin di buka oleh sang kakak. Bau alkohol sangat menyengat membuat Alfan menjadi ingin muntah juga. Alfan menggunakan tangannya untuk menutup hidung. Tetapi bau alkohol masih tetap menyengat. Dia pun mencari sesuatu untuk menutup hidungnya di meja rias milik Dinka. Hanya ada penjepit pakaian yang digunakan oleh Dinka ketika mengusili suaminya.


"Apa ini" Alfan mengangkat penjepit itu dan terdapat bercak merah. Bercak merah itu adalah lipstik milik Dinka. Biasanya Dinka menggunakan penjepit baju itu untuk menjepit hidung Melvin ketika tidur.


Pikiran Alfan sudah berkeliaran tidak jelas. Dia pun melemparkan penjepit baju itu kembali kedalam laci. Tidak ada yang ditemukannya untuk menutupi hidung bahkan masker pun tak ada. Alfan menggunakan kerah baju piyamanya untuk menutupi hidung.


Setelah selesai menggantikan baju sang adik Alfan membaringkan tubuhnya di samping Melvin. Ada sebuah airmata yang jatuh dari kelopak mata sang adik. Alfan menghapus airmata itu. Dan menyelimutinya sambil menepuk pelan tangan Melvin.


"Tuan muda apa tuan Melvin sudah tidur?" tanya pak Mimin. "Sudah pak, dia kalau mabuk pasti tidurnya puas" sahut Alfan. "Masalah yang terjadi ini sudah menyangkut tuan Armand. Apa sebaiknya di beritahukan saja pada tuan besar" pak Mimin memberi saran.


"Biarkan dulu aku dan Melvin yang menghadapinya dulu pak, kasihan ayah juga sedang fokus pada pengobatan bunda" jawab Alfan sambil menguap. "Aku mau istirahat dulu ya pak, sudah pukul 01.00 malam" imbuh Alfan sambil menengok arlojinya.


Alfan berjalan masuk kedalam kamarnya. Baru beberapa menit pak Mimin mengetuk pintu kamar Alfan.Tapi tak ada jawaban dari Alfan. "Tuan muda" panggil pak Mimin sambil terus mengetuk. Dengan langkah malas Alfan membuka pintu. "Ada apa pak?" tanya Alfan dengan mata yang masih tertutup.


"Kata bagian penjaga gerbang utama ada sebuah mobil travel yang ingin masuk. Membawa empat orang penumpang" ungkap pak Mimin. "Siapa sih pak yang datang tengah malam begini" Alfan berkata sambil menguap sejadinya. "Yang datang mertuanya tuan Melvin" sahut pak Mimin.

__ADS_1


Alfan membuka matanya dengan lebar. "Siapa pak? Mertuanya Melvin kesini?" tanya Alfan memastikan. "Iya benar tuan" jawab pak Mimin.


"Cepat kamu suruh sopir ku atau sopir Melvin menjemput mereka di pintu gerbang utama. Mobil travelnya tidak boleh masuk" jelas Alfan. Pak Mimin mengiyakan perintah Alfan dan bergegas pergi.


Alfan berjalan menuju kamar Melvin. Berniat ingin membangunkannya namun merasa kasihan. Jadi mengurungkan niatnya membangunkan Melvin. "Bangunkan...tidak..bangunkan...tidak" gumam Alfan sambil berjalan bolak-balik diantara kamarnya dengan kamar sang adik. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia benar-benar bingung.


"Kalau tidak di bangunkan gak enak sama orangtuanya Dinka masa datang jauh-jauh tidak disambut sih, apalagi Dinka tidak ada disini. Bagaimana nih" Alfan menggigit jari telunjuknya karena bimbang. "Ah bangunkan saja" gumam Alfan lirih.


Setelah sampai di depan pintu kamar Melvin, Alfan menjadi ragu kembali. "Melvin baru meminum alkohol pasti baunya masih menyengat. Kalau tidur sebentar sudah bisa sadar namun masih ada efeknya. Kalau sampai orangtua Dinka tau Melvin habis mabuk, apa tidak apa-apa" Alfan berbicara sendiri. Kedua orangtua Dinka yang sejatinya adalah orang kampung pasti akan menganggap orang yang mabuk merupakan orang yang bermasalah.


"Selamat malam tuan dan nyonya" sapa pak Mimin. Rama dan Siti keluar dari mobil milik Melvin diikuti oleh Bella dan Abimanyu. "Ayo langsung masuk kedalam saja untuk beristirahat" ajak pak Mimin.


"Malam pak bu" sapa Alfan pada mertua Melvin dan menyalami tangan keduanya. "Nah ini nak Alfan ya" Rama menepuk punggung Alfan yang sedang menunduk karena mencium tangan pak Rama.


"Iya pak benar sekali" sahut Alfan menunjukkan senyum manisnya. "Dimana menantuku yang tampan itu?" tanya Siti. "Sudah tidur bu, jadi tidak bisa menyambut kedatangan kalian" jelas Alfan.


"Harusnya mertua datang disambut dong" timpal Abimanyu. Suami dari Bella ini memang tidak menyukai Melvin karena rasa cemburunya pada Melvin. Tapi statusnya kini sudah menjadi suami Bella yang artinya jadi adik ipar Melvin.

__ADS_1


Alfan mencoba berpikir untuk mecari alasan yang tepat. "Dia terlalu lelah karena banyak pekerjaan di kantor. Jadi aku gak tega membangunkannya" ucapnya sambil tersenyum lebar. "Lalu dimana Dinka?" tanya Rama.


Pertanyaan yang diajukan kali ini Alfan tidak bisa menjawabnya. Alfan meminta bantuan pada pak Mimin dengan meremas tangannya. Pak Mimin hanya bisa menengok ke samping dan tersenyum. Dia juga tidak bisa menjawab.


"Itu pak...anu" Alfan menggaruk kepalanya yang tidak gatal disertai dengan senyuman khasnya. Melihat reaksi Alfan yang begitu membuat Rama dan keluarganya curiga. "Ini sudah tengah malam, sebaiknya langsung beristirahat saja" saran Alfan. Pak Mimin memerintahkan para pelayan untuk membereskan barang-barang milik Rama dan keluarganya.


"Yasudah ayo masuk kita beristirahat sekarang" Rama mengajak istrinya masuk kedalam kamar tamu. Begitu juga dengan Abimanyu dan Bella beserta anaknya. Akhirnya Alfan bisa bernafas lega dan diapun kembali kedalam kamar untuk melanjutkan tidur.


Suara burung yang berkicau menyambut sejuknya udara pagi. Alfan segera membangunkan sang adik dan memberitahukan bahwa mertuanya datang.


"Vin bangun vin" Alfan menepuk pelan pipi Melvin. "Cepat bangun vin" lanjut Alfan. Melvin menguap dengan lebarnya sembari mengulat. "Ada apa sayang" jawab Melvin. Suara kakaknya yang lirih terdengar seperti suara Dinka. Memang biasanya Dinka yang membangunkan Melvin.


"Sayang sayang..ini kakak bukan Dinka" Alfan memukul lengan Melvin dengan lembut. "Kakak" Melvin membuka matanya. Ternyata semalam bukanlah mimpi. Melvin mengira kejadian kemarin itu hanya sebuah mimpi buruk. Tapi setelah terbangun itu kenyataan yang buruk.


"Kakak Alfan ada apa pagi begini kekamar ku" Melvin mengucek matanya dan duduk. "Mertua kamu datang tuh" sahut Alfan. "Orangtuanya Dinka kenapa kemari?" tanya Melvin bingung. "Bukannya kamu menyuruh kakak untuk menghubunginya waktu itu" ucap Alfan. Melvin baru teringat.


"Oh iya kak" Melvin cengengesan. "Cepat sana mandi terus kita sarapan" perintah Alfan hanya di angguki oleh Melvin. Sebelum pergi Alfan mendengus bau tubuh Melvin. Dia khawatir masih ada bau alkohol yang melekat di badan adiknya itu.

__ADS_1


Melvin yang di endus segera memeluk tubuhnya dengan guling. "Aku masih normal kak" ledek Melvin. Alfan hanya menatap malas pada sang adik.


__ADS_2