Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
184. Rahasia


__ADS_3

Tatapan Arya pada Alfan penuh dengan makna. "Baiklah, aku akan menjemput Clarisa nanti sore" sahut Alfan. Melvin menghentikan Alfan yang berjalan keluar. "Kakak" Melvin mengejar langkah Alfan. "Melvin ini masih jam kerja" ucap Arya dengan lugas. Paman Jay dan Armand hanya melihatnya.


Melvin berhasil mengejar sang kakak. "Kak Alfan kenapa menuruti ucapan ayah" Melvin merasa bingung. "Maaf kakak harus pergi sekarang" Alfan kembali melangkah lagi.


Sebuah bayangan melintas di otak Alfan. Perintah dari sang ayah dia turuti demi berbakti pada keluarga yang telah berjasa membesarkannya. Dan telah memberikan masa depan yang cerah untuknya. Semalam Arya memang menyuruh Alfan harus mau menikahi Clarisa. Kalau tidak Alfan harus memutuskan hubungannya dengan keluarga Tama. Namun Alfan melakukan semua ini demi sang bunda yang telah menyayanginya sepenuh hati.


Arya mengancam dengan keselamatan Enzi menjadi taruhan apabila Alfan tidak mau menuruti sang ayah. Dia hanya bisa berdiam tidak bisa menolak. Apalagi bercerita pada sang adik. "Apa yang harus aku lakukan. Kenapa pilihan ini begitu berat" Alfan berbicara sendiri. Ujung matanya mengeluarkan airmata. Begitu terasa sesak di dalam dada. Dia harus memilih antara Enzi dan anaknya atau memilih keluarganya yang telah bersamanya selama ini.


Alfan mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya dengan pelan agar rileks. Di bukanya pintu mobil dan masuk kedalam.


Melvin tau ada yang tidak beres dengan kakaknya itu. Tapi dia tidak tau apa yang terjadi. Langkah kakinya kembali kedalam ruang kerjanya. Namun saat di depan pintu, Melvin mendengar percakapan sang ayah dengan Armand. Melvin sengaja menguping.


"Kamu itu terlalu kejam kepada Alfan. Kenapa kamu memaksanya untuk menikahi Clarisa padahal kamu tau kalau dia tidak mencintainya" ucap Armand. "Kamu tidak usah mencampuri urusan keluarga ku" Arya berkata dengan tegas. "Tapi setidaknya kamu jangan membuatnya memilih antara keluarga atau kekasihnya. Itu merupakan pilihan yang sulit untuk Alfan. Lebih sadisnya kenapa kamu mengancam Alfan dengan cara mengusirnya. Itu tindakan bodoh" nasehat Armand.


"Aku hanya mengancamnya, kalau tidak begitu dia tidak akan menuruti perintah ku" sahut Arya. "Kamu benar-benar egois Arya. Sama seperti dulu ketika kamu memberontak pada ayahmu yang tidak ingin menikah dengan Sarah. Kalau Alfan benar-benar pergi dari rumah kamu akan menyesalinya" ucap Armand panjang lebar.

__ADS_1


"Kamu bilang aku egois. Apa kamu merasa lebih baik dariku. Kamu lebih egois karena telah memisahkan anakku dengan istrinya" timpal Arya. "Mengenai masalah itu, Melvin yang salah duluan" Armand membela diri. Arya hanya menatap tajam pada Armand. Situasi semakin menegang, paman Jay memilih mengalihkan pembicaraan agar Arya dan Armand berhenti berdebat.


"Tuan besar sudah waktunya menemani nyonya check up ke rumah sakit" ucap paman Jay. Mendengar hal tersebut Melvin segera bersembunyi di bawah meja kerja milik sekretarisnya. Kebetulan Silma dan Reta sedang beristirahat di kantin.


Arya dan paman Jay keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke lift. Armand mengikuti dari belakang. Tepat Reta dan Silma kembali dari kantin dan berpapasan. "Ayah sudah mau pulang?" tanya Reta yang berpapasan dengan Arya. "Iya, ayah pulang duluan. Kamu baik-baik kerjanya" nasehat Arya sambil mengelus puncak rambut anak perempuannya. "Siap" jawab Reta antusias.


Reta tersenyum manis. Silma menyapa dengan menundukan kepalanya di sertai senyuman. Arya kembali berjalan melewati kedua gadis itu. "Wajah ayah terlihat gusar, apa dia sedang marah" Reta berbicara sendiri tapi di sahuti oleh Silma. "Saya pun tidak tau" ucap Silma.


Melvin masih bersembunyi di bawah meja kerja sekretarisnya. Reta melihat sang kakak yang sedang bersembunyi. "Kak Melvin ngapain? Lagi nangkep tikus ya" ledek Reta. Mata Silma pun tertuju pada sang bos. Melvin segera berdiri dan merapihkan jasnya.


"Kerja yang bener" ucap Melvin dengan ketus. "Dih kakak suaranya gak enak banget buat di denger" gerutu Reta. Sebotol minuman yang ada di tangan Reta di rebut oleh Melvin. "Kakak itu minuman ku" Reta tidak mengejar kakaknya yang masuk kedalam ruang kerja.


Melvin meneruskan pekerjaannya tapi tidak bisa fokus. Otaknya sibuk memikirkan ucapan ayahnya tadi. 'Apa itu yang membuat kak Alfan tidak bisa menolak permintaan ayah. Jadi ayah sudah mengancamnya. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, aku harus berbuat sesuatu untuk menolong kakak' gumam Melvin di dalam hati.


Sore menjelang, Melvin sudah bersiap dengan baju kasualnya. Dinka juga sudah bersiap. Sambil menggendong si kecil langkahnya menuruni anak tangga. "Sayang biar aku saja yang menggendong si kecil" Melvin ingin menggendong anaknya.

__ADS_1


"Emang bisa?" tanya Dinka. "Bisa dong" Melvin mengangkatnya kedua alisnya di sertai senyuman. Dinka menyerahkan sang anak untuk di gendong suaminya. Sarah menghampiri Melvin. "Sini bunda pengen gendong cucu kesayangan" Sarah membentangkan tangannya. "Tapi aku juga baru gendong anakku bun" keluh Melvin.


"Sini biar ayah saja" kini giliran Arya yang menghampiri sang istri dan Melvin. Seketika si kecil jadi bahan rebutan oleh tiga orang. "Bunda duluan yang ingin menggendong cucu kesayangan dong yah" gerutu Sarah. "Ayah juga ingin menggendong cucu ayah" sahut Arya.


"Bunda duluan ayah nanti saja" Sarah menghadap pada suaminya. "Bunda yang nanti saja, ayah ingin menggendongnya terlebih dulu" ucap Arya.


Melvin menatap ibunda dan ayahandanya secara bergantian. "Bunda dulu" Sarah berkacak pinggang. "Ayah duluan ya bun" ujar Arya berkata dengan halus. Dinka menonton sebuah pertunjukan yang terjadi di depannya. Dia pun mengambil alih sang anak. "Biar aku saja yang menggendongnya" sahut Dinka.


"Tidak bisa aku ingin menggendong anakku" keluh Melvin. Dinka melotot menatap sang suami. "Baiklah ini" Melvin menyerahkan si buah hati.


"Duh kasian keponakan tante di buat rebutan ya sama oma dan opanya" Reta merebut si kecil dari tangan Dinka. "Biar adil kamu ikut tante saja ya sayang" Reta mencium pipi mungil si kecil karena gemas. Melihat kakak pertamanya tidak ada membuat Reta penasaran. "Dimana kak Alfan?" tanya Reta. "Sedang menjemput Clarisa" jawab Arya.


Mereka semua pergi ke sebuah restoran bintang lima. Beserta keluarga Rama. Melvin satu mobil dengan sang istri dan juga Reta. Sedangkan Arya satu mobil bersama sang istri dan orang tua Dinka. Bella dan Abimanyu satu mobil bersama dengan bi Nah dan juga pak Mimin.


Sampailah mereka di sebuah restoran yang telah di booking oleh paman Jay. Disana paman Jay sudah terlebih dulu sampai. "Mana Alfan dan Clarisa?" tanya Arya. "Mungkin masih di jalan tuan" jawab paman Jay.

__ADS_1


"Paman tidak membawa istri dan anaknya?" tanya Melvin. "Tidak tuan muda" jawab paman Jay.


"Jay ini mana pernah membawa istri dan anaknya. Mereka kan ada di kampung bukan disini" sahut Sarah. Mereka semua masuk kedalam restoran. Salah satu pelayan restoran mengantarkan mereka ke private room.


__ADS_2