
Dokter yang memeriksa Sarah keluar dari ruangan. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadap pada Melvin. "Sepertinya kalian harus menyiapkan mental mengingat kondisi bu Sarah" ucapan dari dokter berhasil membuat mata Melvin membelalak. Dan tubuh besarnya langsung jatuh ke bawah. Kakinya tidak sanggup menompang berat tubuh karena saking lemasnya mendengar penjelasan dokter.
Begitu pula dengan Reta. Mulutnya sudah tidak bisa berucap sepatah katapun. Kakak beradik tumbang di depan ruang icu. Bobby mempertahankan tubuh Reta yang sudah lunglai. Ibarat tidak memiliki tulang belulang.
Kini airmata Melvin mengucur deras sampai sesenggukan. Dia tidak percaya bahwa ibunya kembali koma. Di arah jauh sang ayah melihat drama yang terjadi. Ini semua salahnya. Arya tidak sanggup untuk melihat dari dekat keadaan istrinya. Memang kelemahan Arya ada pada kondisi kesehatan sang istri. Dokter yang melihat Arya pun segera mendekati dan mengatakan banyak hal. Namun tidak bisa didengar oleh Melvin dan Reta. Pak Mimin melihat Arya dan segera menyusul dimana Arya berdiri. Seketika tubuh Arya ikut terjatuh kelantai rumah sakit yang dingin.
Pak Mimin segera menompang tubuh Arya yang sama besarnya dengan Melvin. Kulit keriput diwajah Arya tersiram oleh keringat dan airmata. Matanya tertutup dan tubuhnya sangat lemas. "Tuan besar bangun" Pak Mimin menepuk pipi majikannya dan mencoba untuk membangunkan.
Setelah siuman Arya berada di atas ranjang pasien. Dengan gagang infus di lengan tangannya. "Tuan besar sudah bangun" Pak Mimin berkata saat Arya membuka matanya.
Melvin terlihat masih tertidur di brankar pasien sebelah Arya. Tatapan matanya tertuju pada sang buah hati tercinta. Kenangan sewaktu Melvin lahir dulu kembali terngiang di pikirannya. Saat yang sangat membahagiakan bagi dirinya dan sang istri di kala itu.
Arya tidak menyangka kini Melvin sudah besar dan sudah punya anak. Dirinya sangat menyayangkan perlakuannya terhadap sang anak. Kini Arya merasa menyesal sudah memukul Melvin. Karena rasa ambisiusnya terhadap kekuasaan membuatnya jadi gelap mata dan menyakiti orang tercinta di sekitar. Termasuk membuat sang istri menjadi seperti sekarang.
Kini Arya sadar apa yang telah di lakukannya semua salah. Bulir airmata jatuh dari kelopak matanya. Arya menangis tersedu-sedu sampai tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Pak Mimin hanya bisa diam dan ikut menangis menyaksikan sang majikan begitu terpuruk.
Reta berada di bangsal yang berbeda dengan ayah dan kakaknya. Bobby sampai bingung sendiri mau berbuat apa. Diapun akhirnya menghubungi ayah sambung nya untuk menemani.
Tidak lama kemudian Armand datang. Bobby menceritakan semuanya. Disini justru yang di khawatirkan ialah Melvin. Karena dulu sewaktu sang ibu terbaring dirumah sakit Melvin hampir gila.
__ADS_1
"Kamu sudah mengecek kondisi kaka iparmu?" tanya Armand. "Bagaimana mau mengeceknya pah ini aja Reta gak bisa di tinggal sendirian" Bobby gelisah.
"Tadi ada kepala pelayannya yang menjaga disana" imbuh Bobby. Armand hanya diam menatap anak sambungnya. "Pah sepertinya keluarga ini berantakan" celetuk Bobby.
"Huss sembarangan kamu kalo ngomong" Armand sedikit mengeraskan suaranya. "Ya bagaimana tidak pah, sepertinya keadaan mamah Sarah benar-benar buruk kali ini" Bobby berkata dengan lirih takut membangunkan kekasihnya.
"Fokusmu bahagiakan Reta bukan mikir macam-macam" nasehat Armand sambil bangun dari kursinya. "Ya sudah papah mau mengecek ke ruangan besan" Armand menepuk pundak Bobby dengan pelan. "Kamu jagain tuh wanita idamanmu" ledek Armand. Bobby manggut-manggut mengiyakan.
Pak Mimin berjaga di luar ruangan naratama karena ingin membiarkan majikannya sendiri. Mungkin saja majikannya itu butuh waktu untuk menyendiri pikir pak Mimin. Dari kejauhan terlihat langkah kaki Armand yang mendekatinya.
"Bagaimana kondisi pak Arya?" tanya Armand. "Tuan besar sudah siuman" jawab Pak Mimin. "Sepertinya ada kejadian yang membuat bu Sarah koma lagi?" tanya Armand penasaran. "Begitulah pak, maaf saya tidak bisa menceritakannya" Pak Mimin menyahuti dengan hati-hati. Takut kalau Armand berburuk sangka.
"Tidak apa-apa kamu malah benar menjaga privacy keluarga bosmu" timpal Armand. Pak Mimin tersenyum sedikit sebagai jawaban.
Dinka menggendong dan menimang si buah hati. Tapi sang anak masih terus menangis. Malah suaranya makin keras.
Dinka melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar. Sambil menggendong si kecil dia berjalan menuju kamar bi Nah. Tangannya mengetuk pintu kamar bi Nah.
Bi Nah yang baru bangun akhirnya mendengar suara ketukan. Melihat Dinka berada di depan pintu membuat bi Nah sedikit terkejut. "Lah si non ada apa?" tanya bi Nah sambil memegang gagang pintu.
__ADS_1
"Ini si dede nangis terus dari tadi bi, aku sampai bingung di kasih susu gak mau di timang-timang malah tambah keras nangisnya" keluh Dinka menjelaskan. Bi Nah mencoba mengambil alih anak majikannya itu. "Walah non ini sepertinya demam" Tangan bi Nah mengecek suhu badan anak Dinka.
"Bibi ambilin obat kompresan bayi ya non" Bi Nah menyerahkan si kecil pada ibunya. Dinka jadi cemas sendiri.
"Bi bagaimana kalo kita bawa ke dokter saja" saran Dinka. "Jangan dulu non ini demamnya tidak tinggi, kalau bertambah baru dibawa kerumah sakit non. Karena di rumah sakit gak baik buat anak bayi" jelas bi Nah. Raut wajah Dinka sudah terlihat sangat cemas. Dirinya hanya bisa menganggukan kepala mengiyakan.
Dinka berpikir akan menghubungi suaminya. Tapi takut kalau-kalau dirinya mengganggu Melvin.
"Bi kabarin Melvin gak ya" Dinka meminta saran dari pelayannya. "Hubungi saja non" jawab bi Nah. Dinka melangkah menuju ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel genggamnya. Banyak panggilan tak terjawab dari Bobby muncul di layar ponselnya. 'Bobby menelponku ada apa ya' batin Dinka.
Baru mau menghubungi kakak sambungnya itu. Namun ada telpon masuk lagi dari Bobby.
"Halo Bob ada apa?" Dinka segera mengangkat telpon dari Bobby. Pas kebetulan Dinka sedang memegang ponselnya. "Kakak ipar...." suara Bobby terdengar parau karena menangis. "Ada apa?" tanya Dinka lagi. "Kakak ipar....aku tidak sanggup mengatakannya" ucap Bobby dari balik telepon. Karena penasaran Dinka terus bertanya ada apa.
Dalam sekejap ucapan dari Bobby membuat Dinka terjatuh ke ranjang king size nya. "Kamu becanda kan?" Dinka bertanya untuk kesekian kalinya. Karena merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan kakak sambungnya itu. Dinka menangis tersedu sendirian di dalam kamarnya. Dia memikirkan suaminya. Pasti mental suaminya lah yang paling tergoncang.
Setelah Bobby menutup telepon suara tangisan Dinka semakin keras. "Gak mung...kin...bunda...." Dinka menangis sampai sesenggukan. Bi Nah membawa si kecil masuk kedalam kamar Dinka. "Non ini si kecil sudah tidur" bi Nah mengetuk pintu yang terbuka. Melihat istri majikannya menangis membuat bi Nah penasaran. "Nona ada apa?" tanya bi Nah.
"Bibi" Dinka berlari memeluk sang pelayan. "Ada apa non?" tanya bi Nah memastikan. "Bunda bi bunda" Dinka tidak sanggup lagi berkata-kata.
__ADS_1
"Iya non ada apa sama nyonya besar?" tanya bi Nah terus menerus. Dinka hanya menangis sambil memeluk pelayannya.
note : maaf banget buat para pembaca setia. ini saya baru update karena saking sibuknya mengurus kerjaan, anak dan suami sekaligus. jadi baru bisa update setelah beberapa bulan mangkir..sekali lagi saya minta maaf dan semoga tidak bosan ya membaca cerita saya..untuk beberapa hari ini pasti akan rajin update kok tenang saja. terimakasih