
Melvin banyak mengobrol dengan teman karibnya itu dan bercerita tentang masalahnya dengan Dinka. Ronald memang sengaja banyak bertanya tentang Dinka. Karena semakin lama Ronald semakin penasaran dengan istri dari Melvin. "Jadi loe itu dijodohin sama bokap loe? Tapi kalau loe gak cinta kenapa malah mau?" tanya Ronald penasaran. "Ya gimana loe tau sendiri bokap gue" jawab Melvin.
"Ya kini akhirnya loe juga cinta mati kan sama istri loe sendiri. Harusnya juga loe bersyukur gak berhubungan sampai jauh sama Serin jadi loe gak nyesel. Gak kaya gue" Ronald meratapi keadaannya sekarang.
"Gue dapetin dia udah gak segel lagi. Apa jangan-jangan loe yang udah perawanin dia ya?" tunjuk Ronald pada Melvin. "Ngawur loe, mana pernah gue berhubungan intim sama dia. Dia emang sudah gak perawan dari sejak di bangku SMA. Lagian gue juga baru pertama melakukannya dengan istri gue" jawab Melvin ketus.
"Ya gue kira loe yang pertamain lubangnya Serin. Kan loe pacaran lama sama dia" sahut Ronald cengengesan. Melvin hanya melirik tajam pada Ronald yang duduk di sampingnya.
Bi Nah keluar dari dalam ruang rawat Dinka. Melihat bi Nah keluar Melvin segera menghampiri si pelayan untuk bertanya "bi kenapa keluar?"
"Non Dinka minta makan eskrim tuan jadi saya mau tanya dokter Mirna terlebih dulu. Ini saya mau keruangannya" jawab bi Nah. "Kan ada telpon yang langsung terhubung dengan ruang dokter bi. Kenapa harus capek-capek pergi menemui dokter" sahut Melvin.
"Oh gitu ya tuan saya kurang paham" ucap bi Nah tersenyum malu karena tak tahu semua itu. "Apa Dinka masih marah padaku bi?" tanya Melvin lagi.
"Sabar ya tuan, nona Dinka bilang katanya belum mau ketemu sama tuan muda dulu. Mungkin besok-besok amarah nona sudah mulai berkurang dan mau bertemu tuan" ungkap bi Nah dengan halus.
__ADS_1
"Iya bi" sahut Melvin tersenyum tipis. Ronald mendekati Melvin dan menepuk bahunya. "Biar gue coba masuk kedalam ya dan melihat situasinya" ucap Ronald. "Siapa tau gue bisa menjelaskan masalah loe biar clear semuanya" imbuh Ronald. Melvin hanya mengangguk menjawab perkataan Ronald.
"Hai gadis cantik" sapa Ronald pada Dinka. Melihat ada seorang pria yang datang membuat Dinka bingung. Dia tidak ingat dengan Ronald. "Kamu siapa?" tanya Dinka bingung. "Astaga kamu gak inget padaku? Padahal gak ada lho cewek manapun yang gak ingat denganku" keluh Ronald untuk meledek.
Dinka menggelengkan kepalanya. "Aku temannya suami mu kita udah beberapa kali ketemu masa gak ingat wajah tampan dan gokil ini sih" ledek Ronald. "Tampan kalau menyakitkan juga percuma" Dinka mendengar nama Melvin jadi berkata ketus pada Ronald yang tak bersalah. "Ketus banget nada bicaranya neng" tak ada hentinya Ronald menggoda Dinka.
"Ada perlu apa?" tanya Dinka serius. "Emang gak boleh ya kalau aku mau jenguk bidadarinya Melvin ini" jawab Ronald. Dinka jadi diam tidak menanggapi Ronald. Dia membuang muka pada Ronald. Kesempatan yang bagus bagi Ronald bisa berbincang-bincang secara bebas dengan Dinka. "Maaf neng abang gak bawa bunga atau buah kemari. Harusnya kan kalau jenguk orang sakit bawa bunga atau buahkan ya" ledek Ronald lagi.
Dinka menghela nafasnya dalam-dalam. "Kenapa neng capek ya habis maraton" Ronald tersenyum puas sudah membuat Dinka kesal. "Boleh gak abang ngomong sesuatu sama neng Dinka yang cantik ini?" tanya Ronald. "Mau ngomong apa? Kalau mau ngomong tentang Melvin aku males" ucapan dari Dinka membuat Ronald ternganga.
"Eh si neng Dinka udah bisa nebak ya" ucap Ronald cengengesan. "Iya kamu kan temannya Melvin pasti kamu bakalan ngomongin tentang dia ke aku kan. Kamu pasti bakalan belain dia juga di depanku" ujar Dinka dengan ketus. "Ya elah neng belum juga di ceritain masalah yang sebenarnya udah marah duluan. Mau denger gak nih cerita abang?" tanya Ronald mencoba merayu Dinka.
"Gak" ucap Dinka dengan nada yang tinggi. "Aduh neng jangan galak-galak napa. Itu cantiknya entar hilang lho. Padahal abang mau ceritain dongeng sama si neng Dinka" rayu Ronald. Tidak ada kata menyerah bagi Ronald untuk bisa menjelaskan apa yang dikatakan Melvin padanya.
"Gini neng abang mulai ya. Neng Dinka cukup pasang telinga dan dengerin dengan serius" Ronald mengangkat kedua alisnya. Dinka kembali terdiam tidak menjawab. Itu sudah membuat Ronald tau bahwa Dinka ingin mendengarkan ceritanya.
__ADS_1
"Pada suatu hari Melvin pergi kerja kekantornya dengan memakai setelan jas yang pas di tubuh atletisnya" ucap Ronald memulai percakapan.
"Gak usah lama bisa gak" ucap Dinka tapi kini tidak ketus lagi. "Sabar dong neng. Terus dia berjalan menuju ke ruang kerjanya yang berada di lantai teratas dari gedung perusahaan. Dia berjalan dengan santai sambil bersiul dan memainkan kunci mobilnya" Ronald sengaja menambahkan kata-kata untuk memancing Dinka agar mau merespon.
"Melvin kalau sudah di perusahaan kunci mobilnya langsung diberikan pada penjaga yang ada di pintu biar di parkirkan. Dan dia juga tidak pernah bersiul" sahut Dinka.
"Neng tau bener kebiasaan suaminya. Lanjut ya neng. Setelah itu dia terkejut melihat ada penampakan seorang wanita berambut sebahu di depan matanya namun jarak mereka masih terbilang jauh tuh neng. Dan matanya terbelalak seperti melihat mahluk tak jelas" lanjut Ronald. Dinka masih terdiam mendengarkan dengan baik seperti anak tk yang mendengarkan gurunya mendongeng.
"Setelah itu Melvin bertanya kenapa kamu ada disini? Aku tidak pernah merekrutmu untuk bekerja sebagai sekretaris ku itu kata Melvin ya neng. Melvin bingung tuh ada si wanita itu disana. Dan ya wanita itu masih menyimpan nomornya Melvin pun dia gak tau" Ronald bercerita sembari memeragakan dengan tangannya. "Dari mana kamu tau pasti Melvin yang kasih tau kamu kan?" tanya Dinka penasaran.
"Ya jelas Melvin lah yang kasih tau, mana mungkin aku tau semuanya kan aku gak ada di tempat kejadian neng. Serin itu sedang hamil anak ku jadi buat apa dia masih mengejar Melvin. Kamu tenang aja deh dia gak bakalan aku lepasin. Kecuali kalau kamu nglepasin Melvin dan aku sama kamu neng" ledek Ronald. "Ups keceplosan deh" Ronald menutup mulutnya dengan tangan.
Dinka tertawa kecil melihat tingkah Ronald. Melihat Dinka tersenyum Ronald memberanikan diri bertanya. "Jadi gimana nih, apa pangeran tampan mu itu sudah di maafkan?" tanya Ronald.
Dinka hanya terdiam memandangi Ronald. 'Coba kalau Melvin punya selera humor seperti Ronald pasti aku gak akan marah sama dia. Tapi hati aku sudah terlanjur sakit banget. Percuma juga dia minta maaf berapa kalipun tetap tidak bisa menutupi luka ini' batin Dinka.
__ADS_1
Ronald jadi salah tingkah di pandangi secara intens oleh Dinka seperti itu. Dia jadi senyam-senyum sendiri. Melvin hanya geleng-geleng kepala dari luar ruang rawat Dinka mendengar cara menjelaskan Ronald yang konyol baginya.