
Pagi ini disambut dengan guyuran air hujan. Dinka terus menerus bersin. Bila hawa dingin menyerang tubuhnya otomatis dia akan bersin-bersin. Ditambah lagi pendingin didalam kamarnya. Membuat kamar seperti dikutub utara.
Berulang kali Dinka mengusap hidung sampai merah. Langkahnya menuruni anak tangga sambil kembali bersin. Kembar yang akan melintas kedapur melihat Dinka bersin.
"Nona kenapa? Sakit ya?" Arini menaiki anak tangga. Dinka menggelengkan kepala. Tangannya mengusap-usap hidung mancungnya.
Dinka duduk di meja makan yang sudah tersaji makanan. "Kembar pendingin ruangannya matikan dong" pinta Dinka. Datanglah Alfan sembari merapihkan setelan jasnya. "Pagi adik ipar, hidung mu kenapa?" tanya Alfan.
Arini mengurangi ac yang ada di ruang makan agar Dinka tidak kedinginan. "Kau sakit?" tanya Alfan lagi. "Tidak kak ini sudah biasa kalau tubuhku merasa dingin pasti langsung bersin" jelas Dinka.
"Jadi kau alergi hawa dingin" sahut Alfan. Dinka manggut-manggut sambil memasukan makanan kedalam mulut. Alfan pun mulai memakan sarapannya. "Lihat bukankah lucu hanya kita berdua saja yang sarapan dimeja makan ini" ucap Alfan.
Dinka memanggil pelayan kembarnya untuk menemani sarapan. Maksud yang di tangkap Dinka karena Alfan merasa sepi. "Kenapa kau memanggil mereka?" tanya Alfan bingung.
"Bukankah kak Alfan merasa sepi karena kita hanya makan berdua saja" pungkas Dinka. Alfan meletakkan sendok dan mengusap keningnya.
"Baiklah kalian berdua duduk ikut sarapan" ujar Alfan pada si kembar. Mereka berdua menuruti. Alfan tersenyum sambil menatap Dinka.
Alfan menawarkan untuk mengantar sang adik ipar ke kampus. Rintik-rintik hujan masih menemani. Alfan memberikan payung untuk dipakai Dinka. Terlihat Dinka sedang bersusah payah melepaskan sabuk pengaman. Alfan pun ikut membantu membukakan sabuk pengaman.
Jarak wajah mereka terbilang cukup dekat. Alfan kembali memandangi wajah Dinka. Mereka pun saling bertatapan. Dinka merasa hidungnya gatal dan bersin didepan wajah Alfan. Mata Alfan spontan menutup. "Maaf kak" Dinka memasang wajah bersalah.
Alfan menjauhkan wajahnya sambil berkata "tidak papa". Moment yang harusnya romantis bagi Alfan berbalik menjadi hal yang kurang mengenakan. Pasalnya baru pertama kali ada orang yang bersin tepat didepan mukanya.
__ADS_1
"Kamu hati-hati ya" ucap Alfan. Dinka mengangguk sambil tersenyum. Dia pun keluar dari mobil dan berjalan kedalam kampus. Reta berteriak memanggil Dinka. "Dinka disebelah sini" Reta melambai.
"Loe dianter kak Alfan?" tanya Reta. "Iya" Dinka menjawab sembari berjalan. "Bobby gak berangkat?" tanya Dinka. Reta menggendikkan bahunya sebagai jawaban.
Bobby melambaikan tangan memanggil Dinka dan Reta. "Hai anak-anak" ucapnya. Jemari Reta menunjuk Bobby dan berkata "kok loe sudah di kelas aja sih".
"Gue lagi pengen jadi anak yang rajin makanya gue masuk dulu" Bobby berkata dengan bangganya. Padahal ada motif tertentu yang direncanakannya. "Dinka kamu duduk sini dong" Bobby berdiri menyerahkan kursinya pada Dinka.
Dinka mengernyit tapi menuruti Bobby. Reta yang akan duduk disebelah Dinka langsung dihalangi oleh Bobby. "Loe duduk disitu" ucap Bobby. "Kenapa loe mau duduk diantara kita" ucap Reta dengan tegas.
Bobby manggut-manggut. Bobby sengaja menyuruh Dinka duduk di pinggir tembok dan dirinya duduk disebelah Dinka persis.
Bobby mulai membuka ponselnya melihat perkembangan dari orang suruhannya. Matanya tercengang melihat beberapa foto yang dikirim. Terlihat seorang pria mengobrol dengan wanita di depan pintu kamar hotel. Bobby geleng-geleng kepala melihat layar ponselnya.
"Kenapa sama kepala loe?" tanya Reta. Tangannya mengambil ponsel Bobby dan melihat yang ada di layar ponsel. Bobby segera merebutnya kembali. "Gak sopan main rebut aja" gerutu Bobby.
Mereka keluar dari kelas dan berjalan ke kantin. "Aku mau ke perpustakaan deh kayanya nih perut gak mau diajak ke kantin" keluh Dinka. "Kenapa rasanya mual lagi?" tanya Reta.
"Iya rasanya baunya macem-macem kalo di kantin" sahut Dinka. "Ayo aku temani" ajak Bobby tangannya memegang tangan Dinka.
"Eh itu tangan ngapain pegang-pegang?" Reta melepaskan pegangan tangan Bobby. "Kalian ke kantin aja aku gak papa kok ke perpus sendiri" ucap Dinka.
"Sehabis makan kita nyusul loe" Reta menarik lengan Bobby kekantin.
__ADS_1
Fahmi tidak sengaja melihat Dinka berjalan sendirian. Kesempatan bagus baginya untuk memuaskan rasa penasaran selama ini. Fahmi menghampiri Dinka.
"Hai Din" sapa Fahmi. Dinka tersenyum dan terus berjalan. "Mau kemana nih?" Fahmi mensejajarkan jalannya dengan Dinka.
"Mau ke perpus kak" Dinka mempercepat langkahnya. "Boleh gue temani" Fahmi masih terus mengejar.
Dinka menghela nafasnya dan berjalan masuk ke perpus. Dia memilih buku dan duduk dikursi. Hal itu juga dilakukan Fahmi.
Dinka hanya membolak-balikan buku yang dibaca. Karena adanya Fahmi dia sedikit terganggu. "Ada yang ingin gue tanyakan" ucap Fahmi.
Dinka masih menatap bukunya. "Apa benar loe sudah nikah? Menikah dengan anaknya pemilik kampus ini?" Fahmi bertanya.
Dinka tersenyum dan berucap "kak Fahmi sudah tau kan jadi jangan ganggu aku". Fahmi diam sejenak sejak kapan bicaranya Dinka menjadi pedas. "Apa loe tertular si tomboy jadi bicaranya sedikit kasar" ucap Fahmi.
Dinka tidak menjawabnya. "Gue sudah lama suka loe din, tapi loe terlalu cuek sama gue. Apa karena Sinta? Gue gak ada hubungan apa-apa dengannya" jelas Fahmi.
"Kak Fahmi tau kan kalo aku dah nikah" jawaban Dinka membungkam mulut Fahmi. Dinka beranjak pergi dari perpustakaan namun Fahmi tidak mengejarnya.
Bunyi ponsel Dinka terdengar. "Hallo kak Alfan" jawab Dinka.
"Kamu keluar kampus dong aku sudah didepan gerbang nih" sahut Alfan dari seberang.
"Kak Alfan ngapain ke kampus?" tanya Dinka.
__ADS_1
"Udah keluar aja aku pengen ngajak kamu makan siang bareng" jawab Alfan sembari menutup telpon.
Dinka mengirim sms pada Reta agar tidak mencarinya. Dinka keluar dari kampus dan masuk ke mobil Alfan.