
Melvin berjalan mondar mandir bagaikan setrikaan. Tanpa sadar dia menggigiti jemarinya sendiri. Rasanya tidak sabar ingin tau apakah keadaan didalam sana berhasil atau tidak. "Vin kamu tenang dong" pinta Alfan. Melvin asik kesana kemari tanpa menghiraukan ucapan sang kakak angkatnya itu. "Vin duduk" kali ini Alfan berkata dengan suara sedikit keras.
"Apa Reta akan berhasil kak?" tanya Melvin penasaran. Dia biasanya menghadapi kliennya dengan mudah dan tenang. Sesulit apapun kliennya itu. Tapi dia kini tidak bisa tenang menyangkut keputusan Dinka.
"Biasanya juga kamu bisa tenang, kenapa malah gelisah begitu" kata Alfan. Pak Mimin dan bi Nah hanya bisa diam karena tidak tau harus berbicara apa.
"Pak Mimin emang Dinka bersikukuh ingin pulang terus ya" bisik Bobby pada kepala pelayan di rumah Melvin. "Sepertinya sih begitu tuan" jawab pak Mimin dengan berbisik juga. "Mungkin Dinka sudah sakit hati banget kali ya pak" imbuh Bobby. "Kurang paham tuan" sahut pak Mimin. Alfan melirik pada pak Mimin dan Bobby yang sedang berbisik. Namun suaranya tetap bisa di dengar olehnya karena jarak yang dekat.
Melihat Melvin bolak-balik tidak karuan Alfan jadi pusing sendiri. Tangannya menggaruk kepala dan geleng-geleng kepala. "Tuan muda kepalanya gatal?" tanya bi Nah. "Engga bi" ucap Alfan tersenyum kecut.
"Biarkan saja tuan Melvin begitu, mungkin itu caranya agar tidak gugup tuan" nasehat bi Nah. "Tapi justru malahan dia jadi gelisah bi" ujar Alfan.
Melvin terus mondar mandir sambil melihat kearah pintu ruang rawat Dinka. Percakapan antara Dinka dan Reta sudah cukup lama. Diselingi dengan melihat kearah arloji mewah ditangannya Melvin tanpa lelah berjalan kian kemari.
"Mana sih Reta belum keluar juga" gerutunya sendiri. Melvin akhirnya masuk kedalam ruang rawat istrinya. Sang istri dan adik angkatnya itu terlihat sedang asik bercanda tawa. Melihat senyum dan tawa Dinka membuat suasana hati Melvin membaik. Itu tandanya Reta berhasil membujuk istrinya. Tanpa tau sebenarnya Reta belum membuka pembicaraan tentang masalah Dinka dan dirinya.
__ADS_1
"Sayang kamu gak jadi pulangkan kekampung?" tanya Melvin antusias. Dinka hanya menatapnya dengan malas dan kembali berbicara dengan Reta. Melvin menghampiri keduanya dan ikut nimbrung pembicaraan mereka. "Sayang aku seneng banget kamu sudah berubah pikiran" lanjut Melvin. Reta hanya menunduk malu karena belum membujuk Dinka.
"Sejak kapan aku berubah pikiran" ucap Dinka ketus. Melvin melirik tajam pada sang adik. Reta hanya cengengesan menanggapinya. Reta mengangkat kedua jemarinya. "Pisss kak" ucapnya sambil tersenyum.
Melvin baru sadar bahwa Reta belum membicarakan hal itu pada Dinka. Jadi mau tidak mau dia kini harus membujuk sang istri agar berubah pikiran. "Sayang kamu jangan pulang ke kampung kamu ya, untuk sementara ini kamu disini dulu nanti kalau anak kita sudah cukup besar baru kita bawa ke kampung halamanmu" jelas Melvin.
Dinka tetap diam membisu tak berkata. "Apa perlu aku bawa kedua orangtua kamu kesini?" tanya Melvin. Reta pun mengendap-endap keluar dari ruangan itu. Tas selempang yang di pakai Reta ditarik secara mendadak oleh sang kakak. "Mau kemana? Kamu gak bisa keluar begitu saja" ujar Melvin.
"Anu kak...kebelet" sahut Reta gelagapan. Melvin memainkan alisnya untuk memberi kode meminta bantuan pada Reta. Adiknya itu paham namun tak membantunya. "Maaf" kata Reta cengengesan sembari geleng-geleng tanda tak bisa membantu. Akhirnya Reta berhasil keluar dari jerat sang kakak angkatnya itu.
"Sayang plis maafin aku, aku juga gak tau kalau Serin bakalan menghubungi aku. Aku juga gak tau kalau dia kerja di kantor. Yang rekrut dia bukan aku tapi sekretaris aku" ungkap Melvin dengan sejujur-jujurnya. Dinka masih diam seribu bahasa. Baginya penjelasan Melvin tak ada gunanya. Karena rasa trauma yang di buat Melvin begitu dalam baginya.
Melvin diam sejenak dan memandang Dinka dengan tatapan mata yang lembut. "Aku harus bagaimana supaya kamu maafin aku sayang, aku bingung kalau kamu kaya gini terus. Diamin aku tanpa mau bicara sedikit pun" keluh Melvin.
"Kan aku sudah bicara tadi" jawab Dinka. "Yang mana sayang?" tanya Melvin. Dinka kembali diam. Merentangkan tubuhnya dan memejamkan mata. "Keluar" usir Dinka.
__ADS_1
Melvin berjalan menjauh dari istrinya. Tatapannya terlihat seperti orang yang paling menderita padahal hati Dinka yang begitu tersakiti. Sudah tidak ada rasa kepercayaan darinya untuk sang suami. Yang ada hanya kecewa dan sakit yang mendalam.
'Aku pengen percaya sama kamu vin, tapi aku takut kecewa lagi takut sakit hati lagi. Untuk sementara ini aku ingin menyendiri dulu tanpa melihatmu. Tapi bibir ini berat mengatakannya langsung karena aku begitu cinta sama kamu vin' ucap Dinka dalam hati.
Airmata Dinka jatuh membasahi pipi mulusnya. Tangannya mengusap lembut perut buncitnya. Tempat bersemayam buah hatinya bersama Melvin. "Maafin mamah ya nak kamu jadi ikut merasakan ini semua" kata Dinka pada diri sendiri.
Keadaannya menjadi serba salah. Mungkin salah satu harus ada yang mengalah. Tapi Dinka tau temperamen Melvin yang sebenarnya. Tidak mungkin bila sang suami yang mengalah. Paling sering dirinya yang mengalah, tapi kali ini dia tidak mau mengalah lagi.
Melvin berjalan keluar dari ruang rawat Dinka dengan langkah yang lunglai. Didalam otaknya hanya berisi suara usiran dari sang istri. Begitu mudahnya Dinka mengusirnya itu yang ada dibenaknya.
Melihat sang adik begitu Alfan sudah bisa menebak bahwa Dinka tidak mau merubah keputusannya. Alfan mendekati Melvin dan memeluknya. Tangannya menepuk bagian pundak sang adik. "Untuk sementara biar kedua orangtuanya saja yang bicara padanya. Kakak tadi sudah menghubungi adik ipar Dinka dan dia menyanggupi untuk datang mengantar orangtuanya Dinka" penjelasan Alfan membuat Melvin sedikit tenang. "Terimakasih kak, aku bingung mau menghadapi Dinka seperti apa lagi" jawab Melvin.
Karena sudah larut malam Alfan menyuruh adik-adiknya untuk pulang beristirahat begitu juga dengan pelayannya. "Kalian pulanglah kamu juga vin. Biar kakak yang disini menemani Dinka" ucap Alfan.
"Baik kak" Reta-lah yang menjawab. "Ayo kak Melvin" ajak Reta. Melvin berjalan terlebih dahulu didepan di buntuti oleh pelayannya dan adiknya.
__ADS_1
'Pasti kak Melvin sangat sedih dengan sikapnya kakak ipar, tapi kakak ipar juga pasti jauh lebih sedih. Ini semua gara-gara wanita siluman buaya itu. Cukup bagus juga aku menamainya wanita siluman buaya' batin Reta.