Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
131. Boneka beruang


__ADS_3

Malam semakin larut Melvin menyuruh sang istri untuk istirahat karena wanita hamil kurang bagus bila tidur kemalaman. "Sayang kamu gak capek apa? Ayo tidur" ajak Melvin. "Baru juga jam segini, aku juga belum ngantuk vin" gerutu Dinka. Sebagian kue habis dimakan oleh Dinka. Karena dia memang selalu merasa lapar padahal sudah sering ngemil ataupun makan.


"Nih kamu makan kue aja sampai belepotan gini sih" Melvin mengelap bibir sang istri dengan bibirnya. "Haduh kalau mau mesraan jangan di depan ku dong" keluh Bobby. Melvin hanya melirik sepintas pada Bobby.


"Beb pengen kaya mereka" Bobby menarik rambut pendek Reta untuk mengajaknya ciuman. "Apaan sih beb malu-maluin tau gak ada kak Melvin juga" gerutu Reta. Bobby langsung merasa ciut setelah lirikan mata elang dari Melvin menatapnya. "Maaf kak gak lagi-lagi deh cuma becanda kok beneran" ucap Bobby cengengesan.


"Kali ini gak ada bunda, ayah sama kak Alfan ya" kata Dinka masih dengan memakan kue ulang tahun. Reta mulai termenung kembali mengingat keadaan orangtua angkatnya. "Oiya kak Alfan masukin sesuatu ke koper kamu, udah kamu buka kopernya?" tanya Melvin. "Apaan kak?" tanya Reta balik.


"Mungkin kado buat kamu" timpal Dinka. "Aku belum membuka kopernya" jawab Reta. Bobby ijin mengambil air minum ke dapur padahal dia baru ingat menyembunyikan kadonya di dapur.


Para pelayan di buat heran dengan adanya boneka beruang besar di dapur yang sudah di beri pita dan coklat. Alih-alih membelikan Reta alat make up justru Bobby malah membelikan sebuah boneka beruang yang besar. "Ini boneka siapa kenapa ada disini?" tanya seorang pelayan pada bi Nah. "Itu punya ku kado buat Reta" suara Bobby tiba-tiba terdengar.


"Tuan muda tidak salah memberikan boneka pada non Reta?" tanya bi Nah. "Emang kenapa bi?" Bobby merasa kebingungan. "Sejak kapan nona Reta suka boneka, dia lebih suka barang elektronik daripada barang seperti ini tuan" ungkap bi Nah.

__ADS_1


"Kan biar aku selalu sama Reta bi, boneka ini akan jadi pengganti kalau aku gak ada. Biar bisa dipeluk sama Reta bi" Bobby menjelaskan. Bi Nah hanya senyam-senyum sendiri melihat pola pikir kekasih majikannya itu. "Semoga non Reta mau menerimanya ya tuan, kalau non Reta gak mau buat saya saja" ucap bi Nah sambil tersenyum.


Dari jauh terlihat boneka berjalan. Saking gedenya badan Bobby pun tidak terlihat. Dinka yang suka boneka langsung menghampiri dan memeluknya. "Lucu banget sih bonekanya" Dinka memeluk dengan erat boneka beruang itu. Melvin segera berdiri untuk melihat siapa yang membawa boneka tersebut. Spontan Melvin tertawa terbahak-bahak melihat betapa susahnya Bobby membawa boneka beruang yang besar.


"Bantuin kek berat ini boneka" gerutu Bobby. Melvin malahan asik dengan tawanya. "Astaga beb loe bawa kingkong sebesar ini buat apa?" Reta juga ikut tertawa lepas. "Ini bukan kingkong ini beruang beb" sahut Bobby.


Dinka mencoba merebut boneka beruang dari tangan Bobby. Aksi rebut-rebutan tak bisa di hindarkan. Melvin mencoba melepaskan genggaman tangan Dinka dari boneka itu. "Sayang ini kado buat Reta bukan buat kamu" ucap Melvin. Dinka masih terus menarik boneka itu sambil berkata "aku juga mau yang segede ini".


Reta yang mendapatkan kado boneka besar itu malah tidak mau menerima. Dia lebih suka dengan benda elektronik daripada hal yang berbau wanita. "Udah buat kakak ipar aja bonekanya, lagian loe tuh aneh sih beb ngasi kaya gitu ke gue" gerutu Reta. "Gue kan pengen boneka ini nemenin loe tidur, kalau gue yang nemenin loe tidur mana boleh sama kak Melvin" ucap Bobby cengengesan sembari menunduk.


"Engga boleh, mau ditaruh dimana boneka kamu yang dulu aja mau aku buang kok setelah anak kita lahir" sahut Melvin dengan cepat. Bobby menaruh boneka di kursi sofa ruang keluarga. "Oiya gimana de udah ketemu sama Ronald?" tanya Melvin. "Udah kak" jawab Reta.


Sedari tadi Dinka mengelus boneka beruangnya. Melvin hanya diam melihatnya tingkah konyol sang istri. "Kamu mau sampai kapan mengelus boneka itu" Melvin mulai gusar karena di anggurkan. Boneka itu pada akhirnya diberikan pada Dinka oleh Reta. Mereka sudah masuk kekamar masing-masing.

__ADS_1


"Sayang emang boneka itu lebih menarik ya dari pada aku?" Melvin kembali berucap. "Kamu kan tau aku lebih suka boneka, apalagi yang segede ini" ucap Dinka.


Melvin merebahkan tubuhnya di ranjang sembari melihat Dinka yang dengan santai duduk di pangkuan boneka beruang. karena merasa di acuhkan Melvin menggendong paksa Dinka dan mendudukannya di tempat tidur. "Yaudah biar aku saja yang anggep kamu boneka, kamu tinggal menikmatinya" Melvin membisikan kata itu didekat telinga Dinka. Itu tandanya Melvin meminta jatah pada sang istri.


"Apaan sih vin aku lagi gak mood deh capek" gerutu Dinka. "Kamu aja boneka di elus terus dari tadi giliran aku malah kamu acuhin" ucap Melvin. Dia merajuk bagai anak kecil yang meminta permen namun tidak diberikan. Sifat manjanya terkadang timbul bila sedang ingin bermesraan dengan sang istri.


Walaupun berbadan kekar dan berotot tapi Melvin punya sisi yang manja pada sang istri. "Ya udah aku mau tidur aja" Melvin membalikkan posisi tidurnya memunggungi Dinka. Merasa bersalah pada suaminya, Dinka mengelitiki perut Melvin agar mau menemaninya berbincang karena belum merasa ngantuk.


"Melvin sayang nih anakmu dari tadi aktif banget lho nendangin terus" ucapan Dinka berhasil membuat Melvin berbalik posisi. "Mana?" Melvin mengelus perut buncit istrinya. "Maaf ya kalau aku ada salah sama kamu" Dinka mengingat kembali tentang keadaan sang bunda yang dirahasiakan dari Melvin.


"Kamu ini ngomong apa sih, sejak dari singapura kamu selalu minta maaf" kata Melvin. Dinka menatap dalam mata sang suami. Dia benar-benar merasa bersalah pada suaminya. "Kamu kapan check up lagi ke dokter kandungan?" tanya Melvin.


"Beberapa hari lagi" sahut Dinka. "Aku akan nemenin kamu ya sekalian usg" ujar Melvin. Dinka mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Yaudah tidur udah hampir jam 11 malam" Melvin meletakkan kepala Dinka di dalam dekapannya. "Terimakasih ya sayang buat pengorbanan kamu selama ini" ungkap Melvin. Namun Dinka telah masuk kedalam dunia mimpi. Terdengar dengkuran halus dari Dinka.


"Kamu sampai mendengkur" Melvin tersenyum melihat sang istri dan mencium keningnya untuk mengucapkan selamat malam.


__ADS_2