Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
118. Malam yang panjang


__ADS_3

Alfan sudah dipindahkan dari gudang oleh Arya ketempat yang tersembunyi. Karena Melvin sudah mengetahui keberadaannya membuat Arya waspada.


Melvin di bantu oleh Bobby menghancurkan gembok. Akhirnya mereka berhasil membuka pintu gudang. Didalam gudang gelap dan sepi. "Pasti ayah sudah memindahkan kak Alfan" keluh Melvin. Kepalanya kembali pusing. Karena tidak mendapati Alfan mereka pun berjalan keluar.


Melvin berhenti sejenak sambil memegangi kepalanya. Matanya tidak jelas melihat kesekitar. Tubuhnya seketika ambruk. "Kak Melvin" Reta berlari menghampiri Melvin.


Badannya yang berat membuat Bobby dan Reta kewalahan membawa Melvin. "Aduh kakak loe berat banget sih" gerutu Bobby. Mata Reta melotot pada Bobby. "Loe kaper banget sih masa kaya gini aja gak kuat" bentak Reta.


Seketika Bobby langsung membungkam mulutnya. Takut melihat Reta bakal memarahinya lagi. "Cepetan bawa ****" gerutu Reta. "Ini juga lagi dibawa" sahut Bobby. Dengan susah payah mereka akhirnya bisa membawa Melvin kedalam mobil. Bobby menghela nafasnya sambil mengusap keringat. "Hufft akhirnya sampai mobil juga" ucapnya.


"Kamu bawa mobilku, aku yang bawa mobil kak Melvin" ungkap Reta. Dia membawa Melvin pulang kerumah. Mobil yang dikendarai Bobby tertinggal jauh karena Reta mengebut.


Mobil sampai di halaman rumah. Langkah Reta masuk secara perlahan agar yang lain tidak tau. Kebetulan waktu sudah menunjukan pukul tengah malam. Jadi situasi rumah sudah cukup sepi. "Pak Mimin bantuin bawa kak Melvin" pinta Reta dengan lirih. "Tuan muda kenapa?" tanya pak Mimin.


Reta berjalan ke mobil di ikuti oleh kepala pelayan. Pak Mimin terkejut melihat kondisi Melvin. "Non tuan muda kenapa?" tanya pak Mimin lagi.


"Hussttt jangan keras-keras pak nanti kalau ada orang yang tau bisa berabeh. Apalagi kalau bunda sampai lihat keadaan kak Melvin bisa gawat" ucap Reta panjang lebar.

__ADS_1


Pak Mimin mencoba menggendong Melvin di pundak. Tapi karena badan Melvin yang kekar dan besar membuat pak Mimin terjungkal. "Astaga pak Mimin gak papa" Reta membantu pak Mimin yang jatuh. Melvin pun ikut terjatuh.


Reta membantu mengangkat tubuh sang kakak keatas pundak pak Mimin. "Non saya tidak kuat kalau harus menggendong tuan muda sendirian" keluh pak Mimin. Bobby belum juga sampai dirumah.


"Bobby mana sih masa dari tadi gak nyampe juga" gerutu Reta. Akhirnya dia ikut bantu mengangkat tubuh Melvin. Reta dan pak Mimin menyeret tubuh Melvin karena sudah tidak kuat mengangkat. "Non kamar tuan Melvin berada dilantai tiga apa kita harus mengangkat tuan sampai keatas?" tanya pak Mimin. Reta melihat anak tangga yang tertata rapih. Itu membuatnya menghela nafas dalam-dalam.


"Apa sembunyikan dulu di ruang kerja ayah pak" saran Reta. Kebetulan ruang kerja ayahnya berada di lantai satu. Mereka berdua akhirnya sepakat menaruh Melvin di dalam ruang kerja Arya. Dengan susah payah Reta dan pak Mimin kembali mengangkat tubuh Melvin.


"Pak Mimin harus berjaga disini ya sampai kak Melvin bangun. Pokoknya jangan sampai ada yang tau atau memasuki ruang kerja ayah" pinta Reta. "Baik non" sahut pak Mimin.


Direbahkan tubuh Melvin keatas sofa didalam ruang kerja. Reta memarkirkan mobil kedalam bagasi. "Sudah hampir satu jam kenapa Bobby belum juga sampai" keluh Reta. Langkahnya mondar mandir menunggu Bobby diteras rumah. Karena Bobby tak kunjung datang akhirnya masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


Dilihatnya jam tangan yang sudah menunjukan pukul satu dini hari. Dan ponselnya pun sedang di pegang oleh Alfan. "Mana ponsel gak pegang, jalanan juga sepi masa gue harus nunggu disini sih sampai pagi" gerutu Bobby bicara sendiri. Dia cukup takut berada di jalan yang sepi itu. Mau tidak mau Bobby menunggu didalam mobil sampai pagi hari.


Pak Mimin berusaha untuk tidak tidur karena berjaga. Melihat balutan perban dikepala Melvin membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi. "Pasti ini ada hubungannya dengan masalah tuan Alfan" ucapnya sendiri.


Pak Mimin mendengar suara erangan dari Melvin. "Tuan muda sudah sadar?" tanya pak Mimin. Tangannya mengusap lembut kepala Melvin. Kedua mata Melvin masih terpejam. Namun wajah tampannya tampak gelisah. 'Apa tuan muda sedang bermimpi yang aneh' batin pak Mimin. Dia berinisiatif mengambil air minum untuk Melvin.

__ADS_1


Melvin tersadar dari pingsannya. Tangannya memegangi kepala. Matanya melihat ke sekitar. "Tuan sudah bangun" ucap pak Mimin antusias sembari membawa segelas air putih.


"Minum dulu tuan" pak Mimin memberikan gelasnya pada Melvin. "Kenapa pak Mimin ada disini?" tanya Melvin bingung.


"Tuan muda tadi dibawa pulang oleh non Reta, tapi karena tuan muda pingsan jadi dibawa kesini" jelas pak Mimin. "Aku harus ke kamar pak pasti Dinka mencariku" sahut Melvin. Langkahnya sempoyongan berjalan menaiki anak tangga. Pak Mimin mengikutinya dari belakang takut kalau anak majikannya terjatuh.


Dari semalam Dinka tidak bisa tidur memikirkan suaminya. Mendengar suara pintu dibuka Dinka membalikkan tubuhnya. Terlihat suaminya pulang. "Melvin kenapa dengan kepala mu?" Dinka memapah sang suami.


"Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Dinka lagi. Waktu sudah menunjukan pukul pagi hari. Melvin merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Wajah Dinka terlihat khawatir melihat keadaan Melvin. Dinka melihat dengan begitu dekat wajah suaminya.


Melvin tersenyum sambil mengusap bibir Dinka. Perlahan Melvin mencium bibir sang istri. Dinka segera melepaskan ciuman Melvin. "Lagi terluka juga sempetnya main nyosor aja" keluh Dinka.


"Kenapa dengan wajah mu ini? Aku baik-baik aja kok" Melvin menenangkan sang istri agar tidak cemas. "Tapi kepala kamu kenapa jadi kaya gini coba?" tanya Dinka.


Melvin menggeleng dan tersenyum. "Aku gak papa sayang, kamu lebih baik kembali tidur aku juga mau tidur" bujuk Melvin.


Dinka mengangguk sambil bertanya untuk memastikan "tapi beneran gak papakan?". Tangan Melvin memegang pipi Dinka. "Aku beneran gak papa" Melvin mengajak sang istri untuk tidur.

__ADS_1


"Sini" Melvin menepuk bagian ranjang disebelahnya. Menyuruh Dinka untuk tidur. Dinka tidur didalam pelukan sang suami. "Apa posisi kaya gini nyaman untuk mu?" tanya Melvin. "Nyaman" jawab Dinka.


"Tapi gak baik untuk kandungan kamukan, masa tidurnya menyamping kanan" sahut Melvin. Dengan cepat Dinka berbalik membelakangi Melvin. Tangan Melvin mengelus perut istrinya. Tidak butuh waktu yang lama mereka masuk kealam bawah sadar.


__ADS_2