
Sembari menjaga sang istri istirahat dirumah Melvin disibukan dengan urusan kantornya. Mau tidak mau dia harus mengerjakannya di rumah. Secangkir kopi menemaninya di balkon kamar dengan laptop dipangkuannya. Jemarinya dengan lihai mengetik sebuah file untuk pengajuan proposal kerjasama dengan rekan bisnis dari luar negeri. Karena biasa yang menangani urusan bisnis di luar negeri sang ayah, kini dia yang mengambil alih urusan itu. Otaknya harus fokus agar proposal yang dibuat menarik bagi kliennya.
Matahari yang mulai meninggi menimpa wajah tampannya. Terlihat dari kejauhan enak di pandang mata. Lelaki apabila sedang fokus bekerja memang terlihat mempesona. Dinka diam-diam mengawasi suaminya dari dalam kamar. Helaian gordin terkena angin melambai-lambai membuat suasana menjadi indah ditambah pemandangan suaminya didepannya.
Setelah pengakuannya pada sang suami dia menjadi lebih lega. Suara ketukan pintu kamar terdengar. Dengan perlahan Dinka berjalan menuju pintu untuk membukanya. "Siapa?" tanya Dinka. "Maaf nona ini saya bi Nah" jawab si pelayan. "Ada apa bi?" tanya Dinka lagi.
"Itu non di bawah ada pria yang mencari tuan muda, bilangnya sih teman kuliahnya waktu dulu" jelas bi Nah. Dinka memanggil nama suaminya namun Melvin tak mendengar karena sedang menerima telepon. Dinka berjalan menghampiri suaminya dibalkon kamar. "Sayang ada yang cariin tuh" ucap Dinka.
Melvin masih asik mengobrol ditelpon tanpa mendengar sang istri. "Sayang ada yang cariin kamu" suara Dinka sedikit mengeras. Tangannya memegangi perut bagian bawah karena merasa masih sedikit pegal. "Eh iya sayang ada apa?" tanya Melvin. Dinka memanyunkan bibirnya karena sang suami tidak mendengar. Namun respon Melvin justru berbeda. Dia mengira sang istri minta di cium. Melvin meletakkan ponselnya di meja dan beranjak mendekati sang istri. Dengan sigap bibirnya mendarat di bibir ranum milik Dinka. Ciuman lembut Melvin membuat Dinka meresponnya balik.
Setelah terlepas baru Dinka memberitahukan bahwa ada yang mencarinya. "Dibawah ada yang cariin kamu" ucap Dinka. "Siapa?" tanya Melvin.
Dinka mengendikkan kedua bahunya tanda tak tau. "Kata bi Nah temen kuliah kamu dulu" Dinka berjalan menjauh dari Melvin. Dari belakang Melvin menggendong sang istri ke ranjang empuknya. Agar Dinka tidak capek jalan kaki. Padahal jarak dari balkon kekamar tidak jauh. "Turunin gak" kaki Dinka bergoyang-goyang agar di turunkan. "Walaupun kamu gendut tapi tubuh kamu gak berat sih sayang" ledek Melvin.
__ADS_1
"Itu badan kamu aja yang kekar jadi gendong aku gak ada apa-apanya, dulu waktu kamu pingsan karena habis di pukulin ayah harus sampai tiga orang yang gendong kamu, itu juga laki-laki semua" penjelasan Dinka membuat Melvin tertawa. "Terus ketawa sampai puas" gerutu Dinka.
Melvin masih menggoda sang istri dengan candaan yang menurut Dinka itu tidak lucu. "Udah sana ada yang cariin kamu, udah nunggu dari tadi tuh" ujar Dinka. Melvin pun keluar dari kamarnya dan menemui orang yang mencarinya. Dari lantai atas dia sudah melongok kebawah mencari tau siapa yang datang. Namun dia tidak paham pada orang yang mencarinya.
Pria itu mengenakan kacamata hitam dengan topi di kepalanya. Dibalut dengan jaket kulit warna hitam. Nampak seperti penculik. "Siapa ya?" Melvin melihat si pria dari atas sampai bawah. "Ini gue" jawab si pria dengan lantang.
Tangannya membuka kaca mata dan tersenyum melihat kearah Melvin. "Ronald?" tanya Melvin penasaran.
Si pria tertawa terbahak-bahak karena Melvin sempat tidak mengenali dirinya. "Iya bro gue, masa loe lupa sih" ucap Ronald sembari mendekati Melvin meminta pelukan.
Melvin mengernyit dengan tingkah Ronald padanya. "Kelakuan loe masih sama ya" gerutu Melvin. Dengan berbangga hati Ronald berkata "ya iyalah masih sama kalo ketemu loe kan bawaannya pengen meluk terus, habis tubuh loe itu..." mata Ronald memandangi dada bidang Melvin. Ucapan dari Ronald membuat Melvin merinding.
Pada waktu di kampus dulu Ronald suka sekali memeluk Melvin. Baginya tubuh Melvin hangat dan nyaman bila di peluk. Walaupun sama-sama lelaki tulen namun kebiasaan Ronald pada Melvin tidak kunjung berubah dengan seirirng berjalannya waktu. Itu yang membuat mereka di kira penyuka sesama jenis ketika kuliah. Tapi hal itu jelas di bantah mentah-mentah oleh Melvin dengan memutuskan berpacaran dengan Serin. Wanita idola saat di kampus dulu.
__ADS_1
"Loe masih gila ya" ucap Melvin sambil menghalangi tubuhnya dengan kedua tangan yang di silangkan kedada. "Sebentar doang vin, pelit banget" gerutu Ronald. "Gak" ucapan Ronald langsung dibantah oleh Melvin.
"Loe makin tampan aja sih" Ronald masih mencoba mengajak Melvin becanda. "Kedatangan loe kesini mau apa, mau bahas tentang masalalu kita atau mau bahas yang lain" timpal Melvin dengan cepat.
"Kalau mau bahas masalalu kita yang suram juga boleh kok" Ronald tertawa terbahak-bahak. Melvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman akrabnya itu masih sama seperti dulu.
Karena penasaran Dinka turun ke lantai bawah menuju ruang tamu. "Siapa sih yang datang" ucapnya pada diri sendiri. Dengan hati-hati Dinka berjalan menuruni anak tangga sembari memegangi perutnya. Karena merasa panas tangannya memegang sebuah kertas. Yang padahal kertas itu adalah cetakan proposal yang tadi dibuat oleh suaminya.
Terlihat suaminya sedang berbincang dengan laki-laki. "Siapa vin?" tanya Dinka. Mata Ronald pun beralih menatap ke sumber suara. Sekejap saja matanya di buat kagum melihat kecantikan natural istri dari Melvin itu.
'Apa ini istrinya Melvin, pantes saja Serin bisa dilupakan' gumam Ronald dalam hati. Dinka mengumbar senyuman manisnya pada Ronald. "Ini temenku waktu kuliah sayang, namanya Ronald" Melvin memperkenalkan temannya. "Ronald" dengan sigap Ronald meminta berjabat tangan di sertai dengan senyuman.
"Aku Dinka" Dinka menanggapi uluran tangan dari Ronald. Mata Ronald tidak berkedip sama sekali memandang Dinka. Melihat itu Melvin langsung memutuskan jabatan tangan dari Ronald pada Dinka. 'Ini si tipe gue banget, kelihatannya juga polos' batin Ronald.
__ADS_1
"Udah jabatan tangannya" Melvin menarik tubuh Dinka dan mendudukannya di sofa disebelahnya. "Istri loe cantik ya walaupun lagi hamil" puji Ronald membuat Dinka tersipu malu. Jarang juga Melvin memuji dirinya semenjak hamil. "Makasih" jawab Dinka sambil tersenyum. Mata Ronald tidak bisa berpaling dari wajah cantik Dinka. Karena itu Melvin merasa sedikit cemburu.
"Sayang mending kamu kedalem deh kita lagi ada urusan penting yang harus dibahas berdua" Melvin mencoba mengusir istrinya agar tidak jadi sasaran tatapan dari Ronald.