
Melvin tidak mengantarkan sang istri kekampusnya. Seperti biasa dia berangkat bersama sang kaka kekantor.
Disepanjang jalan hanya membahas tentang bisnis. "Bagaimana dengan proposal yang ayah maksud?" tanya Melvin.
"Masih diurus sama om Armand" jawab Alfan sembari mengemudi. "Mungkin besok atau lusa kau akan pergi keluar negeri" lanjutnya.
"Bagaimana kalau kaka saja yang kesana?" tanya Melvin jemarinya membolak balikan dokumen. Alfan melirik ke sebelah. "Inikan tugasmu sebagai wakil ketua pimpinan aku hanya asistenmu bagaimana mungkin aku yang mengurus proyek penting itu" keluh Alfan sambil menyetir.
Melvin mendesah. "Baiklah aku akan pergi kesana bersama sekretarisku, untuk sementara kaka yang handle urusan disini" sahut Melvin.
"Baiklah aku tidak masalah" jawab Alfan tersenyum.
Setibanya dikantor penjaga pintu membukakan pintu mobil mereka. Melvin berjalan didepan diikuti oleh para eksekutif lainnya. Dengan sedikit membahas kerjaan. Belakangan ini Melvin sangat sibuk dengan kerjaannya. Karena proyek yang selama ini ditunggu akhirnya ditanda tangani oleh investor asing.
Sebuah prestasi untuk Melvin tersendiri karena perusahaannya menang atas tender proyek tersebut. Sang ayah yang berada di Singapura juga sering menghubunginya karena saking bangganya.
Namun kabar kehamilan sang istri belum di beritahunya pada ayah dan bunda. Padahal kabar itu yang selalu dinanti.
Silma masuk kedalam ruang kantor bosnya sambil membawa schedule hari ini. "Selamat pagi pak" sapa Silma mengumbar senyum terbaiknya. Karena melihat wajah Melvin yang sedang fokus dia tidak berhenti menatap.
"Jangan cuma senyam-senyum cepat bacakan jadwal hari ini" ucap Melvin dengan nada tenang namun menusuk.
__ADS_1
Silma berdehem agar suaranya menjadi nyaring. "Kegiatan anda akan disibukkan dengan meeting pak. Dan siang menjelang sore hari anda akan diajak oleh para direktur untuk bermain golf" jelas sang sekretaris.
Melvin mengangguk paham. "Kalau begitu saya pamit undur diri pak selamat pagi" ucap Silma.
"Kamu dan siapa itu rekan kerjamu bersiap untuk perjalanan bisnis keluar negeri bersama saya, karena asisten saya tidak ikut kali ini" ungkap Melvin tapi matanya tertuju pada dokumen.
"Baik pak siap" sahut Silma antusias. Silma keluar dari ruangan Melvin berjalan dengan anggun. Tapi hatinya sangat girang karena akan diajak pergi keluar negeri. Walaupun itu untuk perjalanan bisnis tetap saja membuat girang. Jarang-jarang seorang Melvin mau mengajak sekretaris pergi keluar negeri.
Yang sering dan selalu dibawa yakni asistennya. Sudah bagaikan upin dan ipin ditokoh kartun. Kemana pun berdua. Itung-itung liburan gratis pastinya.
Siang hari Serin datang kekantor untuk mengajak Melvin lunch. Namun yang ada dikantor adalah Alfan. Mereka berdua tidak sengaja ketemu di depan pintu lift. "Serin" panggil Alfan.
Serin tersenyum untuk menyembunyikan wajah kagetnya. "Kak Alfan" sapa balik Serin. "Kamu kenapa datang kekantor apa ada perlu sesuatu?" tanya Alfan. Serin bingung menjawab. Karena dia memang berniat bertemu Melvin bukan tunangannya itu.
"Karena Melvin tidak ada bagaimana kalau kita berdua saja yang lunch" ajak Alfan tangannya menarik tangan Serin. Bola mata Serin menatap keatas. Terpaksa makan siang dengan Alfan padahal dia ingin mengajak Melvin.
Mereka tiba disebuah restoran mewah tempat biasa. Disana sudah ada Bobby dan lainnya. Mata Bobby memang jeli melihat mangsanya. Dia pura-pura berjalan santai dari arah berlawanan dengan Serin.
Bobby sengaja menabrak Alfan. Seketika Serin terbelalak melihat Bobby. "Ups sorry" ucap Bobby sembari mengedipkan satu matanya pada Serin. Berniat menggoda Serin malah Alfan marah-marah.
Untuk sementara ini Bobby menutup tentang hubungan mereka yang dijodohkan. Si Serin memang hobi nemplok sana sini apalagi pada pria yang tampan dan seorang pewaris. Padahal dirinya terbilang dari keluarga kaya namun statusnya hanya sebagai anak angkat sama seperti Alfan.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat" ucap Alfan sedikit meninggikan suara. Alfan mengenali wajah Bobby. "Kau pacarnya Reta kan?" tanya Alfan memastikan. Bobby hanya tersenyum tidak menjawabnya. "Wah kebetulan sekali bertemu lagi" imbuh Alfan.
Tangan Serin segera menggenggam erat lengan Alfan. "Wanita yang dibawa kakak ini sungguh cantik" goda Bobby.
"Kau datang dengan siapa?" tanya Alfan. Bobby menunjuk kearah pojokan meja. "Itu mereka disana" jawab Bobby. Mata Alfan dan Serin merujuk pada arah yang ditunjukan Bobby.
Sedari tadi jantung Serin sudah tidak karuan. Bukan karena jatuh cinta namun karena dia sedang takut jikalau Bobby memberitahukan pada Alfan tentang hubungannya. Kalau saja dia pergi dengan Melvin bakalan bisa lebih darurat. Karena perasaan Melvin yang benar-benar dijaga oleh Serin.
Terlihat Bobby pandai berakting didepan orang lain. "Baiklah bagaimana kalau kita gabung dengan mereka" tanya Alfan meminta persetujuan pada Serin. Serin hanya tersenyum sambil mengangguk.
Mereka berjalan lebih dulu didepan Bobby. Bobby merasa puas dengan situasi ini. Melihat betapa gugup dan takutnya wajah Serin membuatnya girang.
Dinka membolak balikan buku menu. Dia bingung harus memilih makanan apa. Karena selera makannya berkurang. "Tuh buku jangan dibolak-balik terus dong, cepet mau pesen apa" gerutu Reta.
"Salad buah aja deh" jawab Dinka. "Hai adikku dan adik ipar ku yang cantik" sapa Alfan. Reta dan Dinka menengok bersamaan.
"Kak Alfan kenapa bisa disini?" tanya Reta. "Mau makanlah masa iya mau ngemis" ledek Alfan sebagai jawaban. "Please deh kak" Reta mengatakan dengan nada yang kurang senang. Karena melihat kedatangan Serin juga.
Makanan yang dipesan tersaji. Serin sedari tadi hanya bisa diam tanpa bicara sepatah katapun. "Adik ipar makan mu sedikit sekali apa belum berselera makan?" tanya Alfan.
"Gimana mau berselera kak bentar lagi makanannya juga bakal keluar lagi" keluh Dinka. Reta tertawa terbahak-bahak. "Kehamilan trimester pertama memang seperti itu ka" jelas Reta.
__ADS_1
Serin tercengang mendengar kehamilan istri Melvin. Itu akan membuatnya lebih sulit untuk bisa mendapatkan Melvin. Namun bukan Serin namanya bila tidak mendapatkan suatu cara.