Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Kesalahpahaman #2


__ADS_3

Melvin membawa istrinya ke taman rumah sakit. "Apa yang sudah kamu katakan sama bunda" ucap Melvin ketus. Dinka masih terdiam. Dia tidak mengerti maksud Melvin.


"Aku tidak mengatakan apapun sama bunda" jelasnya. Melvin mendekati istrinya dan mencengkeram dagu Dinka.


"Kamu sudah berani mengadu tentang perlakuan ku pada mu kan" ucap Melvin lirih. Matanya menatap tajam pada sang istri. Dinka tidak menjawab karena menahan sakit cengkeraman dari Melvin.


"Gak berani ngaku kan!" ucap Melvin penuh penekanan. Melvin menarik dagu Dinka sedikit keatas. "Melvin sakit" rintih Dinka.


"Kamu sungguh berani ya" Melvin berkata sambil melotot. Tangan Dinka mencoba melepaskan tangan Melvin. "Aku tidak mengatakan apapun pada bunda" ucapnya yang menahan sakit.


Melvin melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh istrinya begitu kuat. Dinka jatuh tersungkur kebawah. "Apa yang sudah kamu katakan pada bunda membuat kondisi badannya melemah. Ini semua gara-gara kamu!" tunjuk Melvin dengan membentak.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama bunda itu semua salah mu" ucap Melvin berjongkok dihadapan Dinka.


Dinka hanya bisa menangis atas perlakuan suaminya. Dia tidak merasa berbicara apapun pada bunda Sarah mengenai masalahnya dengan Melvin. Namun Melvin mungkin salah paham pada dirinya. Melvin beranjak pergi meninggalkan Dinka sendirian.


Dinka mengusap airmatanya dipipi. Dia menghela nafasnya panjang. Kembali keruangan UGD setelah merasa baikan.


Mertuanya sudah dibawa keruang perawatan. Reta sengaja menunggu Dinka didepan ruang UGD. Agar Dinka tidak mencarinya. "Loe habis darimana sama kak Melvin?" tanya Reta penasaran. "Hanya berbicara sesuatu" ucap Dinka tersenyum.


Reta melihat mata Dinka yang habis menangis. Namun Reta tidak bertanya lebih lanjut dia mengajak Dinka keruang rawat bundanya. "Ayo pergi bunda sudah di pindahkan" ajak Reta. Tangannya menggandeng lengan Dinka.

__ADS_1


Arya menyuruh Alfan mengantarkan kedua adiknya. Dia berbicara sesuatu pada Melvin. "Apa yang bunda mu katakan tadi?" tanya Arya.


"Bukan sesuatu yang penting yah" jawab Melvin. Arya menaruh kecurigaan pada anak kandungnya itu. Dia juga tidak bisa bertanya pada sang istri.


"Besok ayah akan terbang ke Singapura, bunda akan berobat kesana" jelas Arya. Melvin hanya mengangguk.


Dirumah Dinka langsung masuk kedalam kamar dan menangis sejadinya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan sikap suaminya. Dirinya juga tidak bisa berkata pada siapapun. Sekedar untuk mengadu apa yang dirasakannya.


Dirumah sakit Melvin duduk termenung disofa didalam ruang rawat vvip. ~Kamu jangan sakiti istrimu~ Ucapan dari bundanya itu terus terngiang di pikirannya. Dia tidak mengerti kenapa bundanya bisa tau kalau bukan Dinka yang mengadu.


Melvin merasa frustrasi. Dia menghampiri ayahnya yang sudah tertidur dikursi. "Ayah sebaiknya pulang biar Melvin yang menjaga bunda malam ini" pinta Melvin.


Arya berdiri dari kursi dan beranjak pergi dari rumah sakit. "Kalau ada apa-apa segera hubungi ayah" Arya menepuk bahu anaknya.


Sinar pagi sang surya yang menyelinap masuk kekamar tidur membangunkan Dinka dari tidurnya. Matanya menjadi sembab karena menangis.


Dia melihat ke cermin. "Huft kenapa mata ku terlihat bengkak begini" gerutu Dinka lirih. Setelah selesai dengan ritualnya di kamar mandi. Dinka keluar kamar mandi dengan memakai handuk. Dirinya tercengang melihat Melvin sudah ada di dalam kamar.


"Apakah sudah mandi?" tanya Melvin. Suaranya terdengar halus tidak seperti biasa. "Kamu pulang kapan?" tanya Dinka. "Baru saja" Melvin tersenyum melihat Dinka.


Dinka merasa hawa dingin menusuk kedalam tubuhnya. Ada apa dengan suaminya, kenapa terlihat ramah. Bahkan senyumnya terlihat tulus. Biasanya Melvin hanya memasang wajah dinginnya. Apa karena semalam dia sudah salah paham padanya jadi sekarang merasa bersalah. Semua itu melintas didalam otak Dinka.

__ADS_1


Melvin mulai mendekati Dinka. Dan menggendong Dinka menaruhnya perlahan di ranjang tempat tidur. Dinka memegangi handuknya dengan erat. Memasang wajah waspada pada suaminya.


Melvin mulai meminta haknya pada sang istri dipagi hari. Kali ini Melvin melakukannya dengan lembut dan perlahan. Seperti sudah jatuh cinta pada sang istri. Dinka hanya mengikuti alur yang dilakukan Melvin.


Dinka sudah merasa sangat lelah karena pelepasannya yang kesekian kalinya. Namun belum dirasakan oleh Melvin yang masih kuat untuk bertempur dengan sang istri. Tapi Dinka masih melayani suaminya dengan baik.


Setelah puas dengan aktivitas paginya. Melvin mengatur nafasnya yang memburu dan detak jantungnya yang tidak beraturan. Dia berbisik didekat telinga Dinka "kau harus cepat hamil".


Kata-kata dari Melvin berhasil membuat mata Dinka membulat sempurna. Dinka menelan ludahnya dalam-dalam. Melvin mengganjal bokong Dinka dengan bantal. Terkadang Dinka tidak mengerti dengan tingkah suaminya itu.


Sebelum Melvin pulang dari rumah sakit sang ibunda berpesan agar dirinya dan Dinka punya momongan secepatnya. Itu membuktikan bahwa Melvin tidak akan menyakiti sang istri lagi. Karena Melvin sangat menyayangi sang bunda. Apapun permintaan dari sang bunda diturutinya.


Sangat mudah bila hanya untuk membuat istrinya hamil. Asalkan bundanya bersemangat untuk menjalani hidupnya. Dengan memberikan cucu padanya.


Melvin masuk kekamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah selesai dengan mandinya Melvin bersiap-siap pergi kekantor.


Dinka terlelap karena ulah sang suami. Membuatnya tidak berangkat kuliah.


"Mana istrimu?" tanya Alfan. Pagi ini mereka hanya sarapan berdua saja. "Tertidur" jawab Melvin dengan santainya.


"Apakah kalian habis... " Alfan tidak melanjutkan ucapannya. Dia tersenyum menggoda sang adik dengan menaikan alisnya. "Kaka kunyah saja makanannya" sahut Melvin.

__ADS_1


Mereka berangkat bersama kekantor. Didalam mobil Melvin duduk disebelah Alfan. Dia asik memainkan ponselnya. Mencari artikel tentang cara agar cepat hamil. Satu persatu arikel dibacanya dengan teliti.


Alfan mencoba mengintip layar ponsel adiknya itu. Terlihat wajah Melvin yang sangat mencermati layar ponsel. "Kamu sedang membaca artikel apa?" tanya Alfan penasaran. Melvin tidak menjawab. Alfan kembali diam dan fokus mengemudi.


__ADS_2