Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Model?


__ADS_3

Litha mengendarai mobilnya bernaung pada cahaya jingga yang menghiasi langit senja. Litha melirik ke samping, melihat apakah keranjang buah yang sempat ia beli masih berada ditempatnya.


Pandangannya teralihkan saat benda pipih yang berada di saku jaket jeans nya berdering. Litha menepikan mobilnya, lalu mengambil benda yang berbunyi itu. Tertera kontak nama di layar ponselnya, membuat Litha membuang nafas kasar.


"Pergi kemana lo? tumben pergi bawa mobil," heran Umran dari seberang sana yang mendapati koleksi mobil keluarganya yang berada di garasi menghilang satu.


"Ke rumah kak Raka, mau jenguk Oma nya. Katanya Oma lagi kurang enak badan," jawab Litha.


Hening, tak ada sahutan. Lantas Litha melihat ponselnya, terlihat layar ponselnya masih menunjukkan bahwa teleponnya masih tersambung.


"Bang Umran!" panggil Litha mengecek apakah pemuda itu masih berada ditempatnya?


"Hm?" sahut Umran.


"Kenapa diem?" Litha mengernyitkan keningnya.


"Kenapa nggak nunggu gue? Gue susul yah!" tawar Umran.


"Nggak usah, ini udah mau sampai kok," tolak Litha. Dia tidak heran dengan sikap Umran yang terlalu over protektif terhadap dirinya. Saat Litha berpergian sendiri, Umran selalu kurang tenang.


Sedangkan dirumah, Umran menarik nafas kasar dan membuangnya dengan kasar juga. Dia tahu betul karakter dari Oma sahabatnya itu, wanita tua itu sangat dingin dan cuek kepada orang asing, yah sama persis seperti cucunya.


***


Mobil Litha sudah melewati pagar yang menjulang tinggi, setelahnya memasuki pekarangan rumah mewah keluarga Adelard. Gadis itu keluar dari mobil dengan menenteng keranjang buah, Litha melangkah hendak masuk namun ditahan oleh salah satu pelayan.


"Maaf ada keperluan apa datang kemari?" tanyanya. Sepertinya pelayan itu adalah orang baru yang tidak mengetahui jika gadis dihadapannya ini adalah kekasih dari tuan mudanya, yah mengingat Litha yang pernah makan malam bersama keluarga Adelard.


Litha terdiam sejenak, memorinya mengingat kata-kata yang pernah Raka ucapkan. "Jika berbicara dengan Oma harus memakai bahasa formal, Oma juga berkata kalau bahasa itu wajib digunakan untuk orang yang bekerja di keluarga Adelard,"


"Saya ingin menjenguk Oma Rahma," jawab Litha.


"Sebelumnya apakah sudah membuat janji dengan beliau?" tanya pelayan itu.


What, membuat janji? Seperti di kantor saja. Ya ya Litha tahu Oma Rahma itu bukan orang sembarangan, tapi ini di rumah, bukan kantor. Ya sudahlah tak apa, Litha memaklumi mungkin Oma tidak suka menerima tamu yang asing baginya.


Pelayan itu sudah mengetahui jawaban atas diamnya gadis cantik ini.


"Memangnya Anda mempunyai hubungan apa dengan Nyonya besar?" tanyanya lagi. Oh sungguh rasanya Litha ingin mengikat bibir pelayan itu dengan ikat rambut.


"Saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Oma. Tetapi saya teman dekat dari cucunya," Litha tersenyum untuk menutupi rasa jengkelnya terhadap pelayan itu.


"Ee... Apa kak Raka ada di rumah?" tanya Litha.


"Tidak ada. Tuan muda sedang pergi keluar," sahutnya.


Litha mengerutkan keningnya. Pergi? Bukankah alasan utama dari ketidakhadiran Raka di sekolah adalah merawat Oma Rahma yang sedang tidak enak badan? Tapi kenapa sekarang pemuda tinggi itu pergi?


Akh... Kenapa hari ini keberuntungan tidak memihak pada gadis cantik ini.


Tadi pagi berangkat sekolah sendiri tanpa adanya jemputan dari beruang kutub nya. Semalam Raka memberi pesan kepada Litha bahwa ia tidak dapat menjemputnya dan Litha tidak membalasnya, so Litha tidak tahu menahu jika Raka tadi pagi tidak berangkat sekolah.


Nah sekarang, sudah jauh-jauh datang kesini, tetapi tidak dapat bertemu dengan Oma dan Raka. Seharusnya Litha memberi kabar dulu kepada Raka jika akan bertamu di rumahnya yang bak istana ini.

__ADS_1


"Kalau begitu saya titip buah ini untuk Oma ya," pinta Litha.


"Baik," pelayan itu menerima keranjang buah yang Litha sodorkan.


Disaat itu pula, Litha tidak menyadari bahwa ada seorang wanita tua dengan wajah datarnya, yang sudah mengamati gerak-gerik dua wanita itu, dari atas balkon sejak awal kedatangan Litha kemari.


***


Sore menjelang malam ini The Perfect sedang berkumpul di cafe The Perfect, milik Jordyan Williams.


"Apaaaa..? Lo dijodohin sama model?" Leon terkejut akan penuturan Raka.


"Terus Litha lo kemanain?" tanya Arkan.


"Dia bukan robot yang bisa gue kemana-manain," jawab Raka acuh.


"Nggak sia-sia gue temenin lo kesini sampai gue batalin janji buat nonton sama Fika," ucap Leon.


"Kalo model tu biasanya body nya aduhai," tambah Leon dengan mata berbinar.


Sedetik kemudian dua toyoran sekaligus mendarat mulus di kepala Leon. "Aw.." pekik Leon menatap tajam ke samping kanan dan kirinya.


Yups pelakunya adalah dua cogan yang mempunyai karakter yang hampir sama. Siapa lagi kalau bukan si ceroboh ganteng dan si bule nyasar selebgram.


"Otak lo noh bersihin!" sahut Jordy sambil menusuk kepala Leon dengan jari telunjuknya sampai membuat kepala Leon miring ke samping.


Flashback On


Raka terdiam menatap dingin wanita itu. Raka tidak pernah sekalipun menolak perintah Oma nya. Yups dia lah nyonya Adelard yang sesungguhnya. Semenjak suaminya, yang asli bermarga Adelard telah meninggal, Oma Rahma berkuasa dalam keluarga Adelard. Perintahnya serta peraturannya tidak dapat dibantah oleh siapa pun, termasuk anaknya Baskara dan cucu kesayangannya Raka.


"Baiklah..." ucap Raka yakin tanpa ada rasa keraguan dalam dirinya. Membuat Oma menarik kedua sudut bibirnya tanpa menatap Raka, pandangannya masih melihat langit-langit kamar.


"Raka akan memutuskannya sebagai pacar dan akan bertunangan dengannya. Lalu merajut cinta persahabatan dengan pilihan Oma. Bagaimana?" tambah Raka yang langsung membuat senyuman dibibir Oma musnah seketika.


Tuh kan lagi-lagi cucunya yang ganteng itu pinter banget kalau bicara. Oma memandang ke arah Raka dengan tatapan dingin.


"Bagaimana? Sesuai dengan harapan Oma bukan?" tanya Raka dengan senyumnya.


"Pilihan Oma itu seorang model yang sangat cantik, mandiri dan pekerja keras. Dia sudah dapat membiayai hidupnya sendiri tanpa uang dari orang tuanya," jelas Oma.


Oke sekarang Raka mengerti mengapa Oma kurang setuju jika Raka bersama dengan Litha. Pemuda itu cukup paham jika Oma Rahma menyindir Litha. Gadis cantik, manis dan imut, dlihat dari bentukan luarnya saja seperti gadis manja, terlebih Litha adalah satu-satunya perempuan sekaligus anak bungsu dari keluarga ternama.


"Litha bukan gadis manja Oma," bela Raka, tidak! Raka tidak membela, tetapi itu fakta.


"Begitukah?" Oma tersenyum sinis.


"Hm," Raka mengangguk.


"Bukankah jika laki-laki sudah mencintai wanita, dia akan menutupi kejelekan wanita itu?" tanya Oma.


"Oh tidak menutupi. Tetapi laki-laki itu menepiskan sifat jelek dari wanita yang ia cintai, dia hanya akan membuka mata untuk melihat keindahannya saja bukan?" tambah Oma.


Raka sudah kehabisan kata-kata. Ralat, bukan kehabisan kata, tapi percuma saja ia membujuk Oma yang mempunyai sifat keras kepala itu.

__ADS_1


"Sore ini dia datang, temui dia di cafe The Perfect!" suruh Oma yang sudah tahu jika cucunya sering datang ke sana bersama kawan-kawannya.


"Tapi..." sahut Raka.


"Ini perintah, jangan membantah!" tegas Oma.


"Raka tidak tega meninggalkan Oma sendirian, keadaan Oma masih belum membaik sepenuhnya," jelas Raka mencari alasan agar tidak bertemu dengan model yang dipilihkan Oma untuknya.


"Oma akan baik-baik saja," sahut Oma.


"Tap..." lagi-lagi dipotong Oma.


"Tidak ada tapi-tapian!" sahutnya.


"Jangan mencari alasan Raka Adelard Pangestu!" suara Oma meninggi.


"Baik, Raka akan menemuinya tapi tidak sendiri," ujar Raka pasrah.


"Jangan bersama gadis itu," Oma menatap tajam ke arah Raka seakan-akan ingin menguliti cucunya hidup-hidup.


"Tidak Oma. Raka akan bersama keempat sahabat Raka," ujar Raka. Siapa tahu aja tu model malah lebih tertarik dengan salah satu diantara keempat sahabatnya, terlebih Arkan yang gantengnya 11 12 sama Raka wkwk.


"Dia gadis cantik yang sebentar lagi berusia 18 tahun. Dia berprofesi sebagai model yang sudah sukses di luar negeri, namanya pun cukup melambung di Indonesia. Jadi Oma harap kamu tidak mempermalukannya di depan publik," Oma mewanti-wanti cucunya agar bersikap baik nan ramah kepada model itu.


Flashback Off


"Gila nenek moyang lo! Masak dia nyuruh lo putus sama cewek secakep Litha. Kalo lo beneran putus sama Litha, mending gue ambi.." cerocos Leon terpotong karena mendapat dua toyoran sekaligus dari Arkan dan Jordy yang berada disisi samping Leon.


"Aww..." Pekik Leon.


"Kalian mainnya pada kekerasan, beraninya keroyokan pula. Gue aduin KPPPA baru tau rasa!" ujar Leon tidak terima mendapat penganiayaan dari mereka.


Just information KPPPA adalah KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK.


"Eh dodol KPPPA itu cuma untuk perempuan sama anak-anak doang. Lhah elo... Udah tua gini juga," sahut Jordy.


Arkan menepuk pundak Jordy, melewati belakang pundak Leon yang diapit oleh mereka berdua. "Dia mau jadi cewek kali," sahut Arkan lalu tangannya beralih merangkul Leon dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Gimana mau sama Om nggak? Om masih jomblo lhoh... Nanti malem kalo kita ketahuan lagi kumpul ke*o, mending si Fika buang aja ke laut," ucap Arkan semakin nyeleneh dengan pikiran kotornya yang berfantasi. Tak lupa, Arkan juga mengedipkan sebelah matanya lagi, lalu menaik turunkan alisnya, bak seorang om-om yang sedang menggoda seorang wanita.


Membuat Leon bergidik ngeri saja. Seketika bulu kuduk Leon merinding. "Lepas!" seru Leon sambil menghempaskan kasar tangan Arkan yang merangkulnya.


Arkan dan Jordy tertawa sejadi-jadinya melihat wajah memberengut yang Leon tunjukkan, seperti anak perawan yang lagi marah saja. Danil hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya.


Pandangan Danil mendapati Raka yang hanya berekspresi datar-datar saja. Danil cukup peka terhadap sahabatnya, tentu saja perkataan Oma nya tengah berkecamuk didalam benak manusia dingin itu.


"Lo udah kasih tau Litha?" tanya Danil membuat suasana seketika menjadi hening. Raka menggelengkan kepala. Bukan tidak ingin memberitahu, tetapi Raka butuh waktu yang tepat.


"Lo harus segera kasih tau Litha," saran Danil yang diangguki oleh ketiga cogan itu.


Tidak ada niatan sedikit pun dalam diri Raka untuk merespon mereka. Raka hanya menatap dingin ke arah mereka.


Bukan tanpa alasan Danil berkata seperti itu, pasalnya apapun yang keluar dari bibir Oma tidaklah main-main, terlebih Oma sangat keras kepala, susah sekali dibujuk dan dirayu.

__ADS_1


__ADS_2